LITERASI ANOMALI

Madilog: Petualangan Pikiran yang Belum Selesai – Bagian 4

Oleh: Emha Firmansyah

​Bagian I: Mimbar di Samping Pasar

​Setelah diusir secara halus dari ruang UKM oleh otoritas kampus, Rian mengambil satu kesimpulan radikal: revolusi pikiran tidak pernah membutuhkan stempel akreditasi birokrasi. Jika menara gading menolak nalar, maka jalanan adalah laboratorium terbaik.

​Ia memilih sebuah lokasi strategis: lapangan tanah berbatu di dekat pasar tradisional pinggiran kota, tempat yang biasa dilewati para buruh tapak tambang melepaskan penat setelah menyelesaikan shift malam. Spanduk yang ia bentangkan kali ini jauh lebih provokatif: “Diskusi Terbuka Madilog: Hilirisasi Kaya, Rakyat Miskin — Mengapa?”

​Sore itu, sekitar dua puluh lima orang berkumpul membentuk lingkaran kecil. Ada tiga ibu-ibu penjual gorengan yang masih mengenakan celemek, beberapa buruh tambang dengan guratan lelah dan sisa debu nikel yang menempel di baju kerja mereka, segelintir mahasiswa yang penasaran, serta seorang pria berjaket jons yang berdiri agak menjauh—mengenakan earpiece dengan tatapan mata yang terlalu waspada untuk ukuran seorang pengunjung pasar. Seorang intel lokal.

​Rian membuka diskusi dengan gaya orator amatir yang mengandalkan kemarahan tulus.

​“Saudara-saudara,” suara Rian memecah bising knalpot pikap pasar. “Materialisme dalam Madilog mengajak kita melihat kenyataan lewat angka dan fakta, bukan lewat dongeng pengantar tidur. Kita selalu disuguhi narasi bahwa hilirisasi nikel adalah kunci kemakmuran bangsa. Namun, mari kita gunakan akal sehat: jika industri itu sedemikian kaya, mengapa upah kalian tetap berada di batas bawah bertahan hidup? Siapa sebenarnya yang menguasai alat produksi, dan siapa yang hanya memiliki raga untuk diperas?”

​Seorang buruh senior bernama Pak Min, pria berusia hampir kepala lima dengan telapak tangan yang mengeras penuh kapalan, mengangkat suaranya yang serak.

​“Betul, Mas. Saya bekerja dua belas jam sehari di area pemurnian, membawa pulang dua koma delapan juta sebulan. Tiap hari paru-paru kami dipaksa menghirup debu pekat. Anak bungsuku bolak-balik masuk puskesmas karena ISPA, dan petugas di sana hanya bilang, ‘Mungkin ini ujian, perbanyak doa’. Sementara para ekspatriat dan jajaran direksi naik Alphard hitam, tiap bulan pelesiran ke Singapura. Struktur macam apa ini, Mas?”

​Rian merasakan debar kepuasan intelektual di dadanya. “Itulah yang disebut kontradiksi kelas, Pak Min! Dialektika Tan Malaka mengajarkan bahwa perubahan nasib tidak akan pernah lahir dari sikap pasrah menunggu kebaikan hati penguasa, atau janji-janji manis yang diobral setiap menjelang pemilu. Perubahan lahir ketika kita memahami benturan kepentingan material ini!”

​Pak Min mengangguk pelan, menyulut sebatang rokok kretek murah. “Dulu saya percaya pada pidato mereka. Katanya demi kesejahteraan rakyat. Tapi polanya selalu sama: tahun depan upah kami dinaikkan dua ratus ribu, sementara harga beras di pasar ini sudah melonjak tiga ratus ribu sebelum ketukan palu regulasi. Itu mistis sekali bagi dompet kami.”

​Bagian II: Eufemisme Birokrasi dan Barikade Hujan

​Tepat ketika diskusi mulai hidup, dua orang pria berbadan tegap dengan kemeja rapi dan sepatu kulit mengkilap merangsek masuk ke tengah kerumunan. Salah satunya menunjukkan sebuah lencana identitas dengan gerakan cepat.

​“Diskusi ini tidak memiliki izin resmi dan harus segera dibubarkan,” ujar pria itu, suaranya datar namun sarat tekanan. “Narasi yang dibangun di sini berpotensi mengganggu stabilitas sosial dan merusak iklim investasi daerah.”

​Rian terkekeh sinis, melipat tangannya di dada. “Stabilitas yang mana, Pak? Stabilitas untuk memastikan deviden para pemegang saham asing tetap aman, atau stabilitas untuk perut buruh yang harus menahan lapar hingga akhir bulan?”

​Petugas itu tersenyum dingin—sebuah senyuman birokratis yang mengingatkan Rian pada ekspresi Bu Siti di kelas filsafat.

​“Kamu ini masih muda, jangan mudah terprovokasi oleh pemikiran radikal masa lalu. Negara tidak tinggal diam. Kita sudah mengucurkan Bantuan Langsung Tunai, ada kartu pra-kerja, ada jaminan sosial. Semua skema perlindungan sudah diatur oleh sistem.”

​“Diatur untuk memastikan kami hanya menerima remah-remahnya!” teriak seorang buruh dari barisan belakang.

​Suasana lapangan mendadak memanas. Seorang ibu penjual gorengan ikut mengacungkan sudipnya ke udara. “Iya, betul! Harga minyak goreng naik terus tidak pernah turun, tapi di televisi katanya inflasi kita paling aman se-Asia. Mungkin pemerintah menghitung inflasi pakai kalkulator gaib!”

​Rian melihat momentum. Ia melompat ke atas sebuah kursi plastik hijau yang mulai retak.

​“Logika! Gunakan logika kalian!” seru Rian, tangannya menunjuk ke arah spanduk. “Jika triliunan rupiah APBN digelontorkan untuk membiayai infrastruktur industri tambang, namun rakyat di sekitarnya tetap miskin struktural, maka ada yang salah dengan distribusi kekuasaan! Kemiskinan ini bukan karena kita kurang bersyukur, melainkan karena hukum ekonomi kita sedang dibengkokkan oleh keserakahan!”

​Tepat di puncak orasi Rian, langit di atas pasar mendadak pekat. Tanpa peringatan, hujan lebat khas tropis tumpah dengan derasnya, menghantam bumi dengan suara bergemuruh. Kerumunan diskusi seketika berhamburan, mencari perlindungan di bawah terpal-terpal lapak pedagang yang bocor.

​Pertemuan ideologis itu bubar seketika, ditaklukkan oleh alam.

​Bagian III: Aliansi Ketakutan dan Sinar Fajar

​Malam harinya, Rian duduk termenung di sudut kamar kosnya yang lembap. Bajunya masih setengah basah, dan kepalanya terasa pening akibat rasa frustrasi yang menumpuk.

​Di atas tumpukan cucian kotor di sudut ruangan, distorsi udara kembali memadat. Siluet Tan Malaka muncul, duduk bersila dengan santai sambil memandang Rian dengan senyum jenaka yang tak pernah hilang.

​“Ironis ya, Nak,” kata Tan Malaka sambil terkekeh pelan, membersihkan ujung pensil tuanya yang imajiner. “Aku dulu menghabiskan separuh hidupku lari dari kepungan intel fasis Jepang dan Belanda. Sementara kamu hari ini harus kalah dan lari karena guyuran hujan. Musuh-musuh nalar sehat memang selalu punya cara yang kreatif.”

​Rian mendesah berat, menyandarkan punggungnya ke dinding kamar yang dingin. “Sulit, Bang. Mereka menggunakan segala instrumen untuk membungkam akal sehat. Mulai dari narasi stabilitas, jaminan investasi, apatisme massa, bahkan sampai takdir cuaca malam ini.”

​Tan Malaka menatap mahasiswa itu dengan pandangan yang mendalam, sebuah sorot mata penuh humor getir namun sarat akan ketabahan seorang ideolog.

​“Itulah alasan utama mengapa Madilog tidak boleh mati dalam bentuk lembaran kertas saja,” ujar Tan, suaranya terdengar jernih di antara suara rintik hujan yang menghantam genteng kos. “Karena Logika Mistika di setiap zaman akan selalu menemukan sekutunya yang paling setia: yaitu ketakutan, kenyamanan semu, dan ketidakpedulian massa. Tapi ingat, Rian… satu percikan akal sehat yang murni, jika dijaga dengan konsisten, suatu saat mampu membakar seluruh hutan kebodohan struktural. Jangan menyerah hanya karena satu kali hujan deras.”

​Visi sang pemikir bangsa itu perlahan mulai mengabur, menyatu kembali dengan remang cahaya lampu lima watt kamar kos.

​“Oh ya, besok pagi,” sebuah bisikan terakhir terdengar sebelum keheningan total kembali meraja, “temui lagi pria bernama Pak Min itu di pasar. Dia jauh lebih memahami esensi Materialisme daripada seluruh koleksi buku di perpustakaan kampusmu.”

​Rian terdiam, menatap buku Madilog di hadapannya dengan sudut pandang yang baru. Ia tahu, babak berikutnya bukan lagi soal berdebat di ruang kelas, melainkan tentang bagaimana merajut simpul gerakan di dunia nyata.

(Bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *