LITERASI ANOMALI

Madilog: Petualangan Pikiran yang Belum Selesai – Bagian 10

Oleh: M Hero Firmansyah

​Spora Akal Sehat di Balik Radar

​Berbekal kitab stensilan orisinal Madilog dari Pak Harjo sebagai jangkar gerakan, lingkaran inti itu mulai merancang jejaring yang lebih taktis. Pak Harjo, meskipun fisiknya kian digerogoti usia, terbukti masih memiliki simpul-simpul jaringan laksana laba-laba tua yang bergerak senyap di bawah radar sejarah.

​“Kita sama sekali tidak membutuhkan mobilisasi massa dalam jumlah ribuan,” kata Pak Harjo sembari mengembuskan asap rokok kreteknya yang beraroma pekat menusuk hidung. “Cukup temukan sepuluh kepala di setiap tapak tambang yang benar-benar memahami anatomi materialisme. Gagasan yang presisi itu akan menyebar sendiri seperti virus. Dan ingat, Logika Mistika paling gentar jika harus berhadapan dengan virus akal sehat.”

​Secara senyap, mereka mulai merajut koordinasi lintas korporasi tambang. Pamflet-pamflet taktis didistribusikan melalui jaringan kurir ojek lokal, diskusi-diskusi kecil berkedok obrolan santai digelar di warung-warung kopi lintas kabupaten, bahkan mereka menginisiasi sebuah grup komunikasi digital terenkripsi dengan nama samaran yang sengaja dibuat absurd: “Kelompok Hobi Membaca”.

​Selama dua pekan berjalan, gerakan bawah tanah ini membuahkan hasil yang menjanjikan. Barisan buruh dari dua konsorsium tambang baru mulai bergabung. Para pekerja garis depan kini mulai berani mengajukan pertanyaan-pertanyaan nyata: mengapa komponen upah lembur mereka ditekan, bagaimana struktur jam kerja dihitung, dan kemana larinya margin keuntungan raksasa korporasi yang kerap kali diklaim “menyusut” di lembar laporan tahunan.

​Kontradiksi di Atas Kertas Kontrak

​Namun, hukum sejarah selalu bekerja tanpa kompromi, melahirkan benturan baru yang jauh lebih represif.

​Suatu malam, Pak Toro dijemput paksa oleh petugas keamanan setelah memimpin diskusi di wilayah lingkar tambang sebelah. Tuduhannya menggunakan pasal karet yang klasik: tindakan provokasi dan penyebaran narasi kebencian terhadap iklim investasi strategis negara.

​Fajar berikutnya, Mbak Siti mendatangi barak Rian dengan wajah pucat dan kantung mata yang menghitam.

​“Pak Toro diinterogasi semalaman, ditekan habis-habisan,” ujar Mbak Siti, suaranya bergetar menahan marah. “Otoritas menuduh ada sokongan ‘unsur asing’ di balik gerakan literasi kita. Sungguh sebuah lelucon sejarah yang getir, mereka menuduh ada infiltrasi asing pada sebuah gerakan yang pisaunya dipinjam dari Tan Malaka—seorang pria yang jasadnya terkubur di tanah republik ini demi kedaulatan seratus persen.”

​Tekanan dari pihak manajemen pun kian rapi. Beberapa buruh muda yang baru saja mencicipi nalar Madilog tiba-tiba melayangkan surat pengunduran diri dari kelompok studi. Langkah itu diambil setelah pihak manajemen secara mendadak menyodorkan kontrak sebagai karyawan tetap, lengkap dengan fasilitas tunjangan kesehatan keluarga.

​Salah seorang di antaranya menemui Rian dengan gestur tubuh yang membungkuk, didera rasa bersalah yang amat sangat. “Maafkan saya, Mas Rian… anak sulung saya harus masuk taman kanak-kanak bulan depan. Jika saya bersikeras melanjutkan diskusi ini, manajemen akan memasukkan nama saya dalam daftar hitam, dan masa depan keluarga kami akan runtuh.”

​Rian terduduk di ambang pintu barak, menatap hamparan pematang sawah yang gelap gulita. Semangat revolusi mental yang beberapa pekan lalu membakar kepalanya, kini terasa bergeser menjadi sebuah beban yang teramat berat, laksana memanggul karung semen basah di tengah badai.

​Pak Min mencoba menepuk pundak sang mahasiswa, menawarkan sisa-sisa ketabahan. “Kita belum habis, Mas Rian. Kita tetap melangkah maju, meskipun barisan kita malam ini hanya menyisakan tiga orang.”

​Namun, Rian tahu betul: ini bukan lagi sekadar persoalan jumlah barisan. Ini adalah tentang harga nyata yang harus dibayar oleh orang-orang kecil di sekelilingnya akibat sebuah idealisme.

​Kalkulasi Dingin di Ambang Batas

​Malam itu, di dalam barak yang bocor oleh rembesan air hujan, waktu seolah melambat dan bergeser pekat. Siluet Tan Malaka kembali muncul, duduk tepat di sebelah Rian di atas dipan kayu, ikut memandang ke arah langit malam yang pekat tanpa bintang.

​“Sekarang kau telah menyentuh dasar dari realitasnya, bukan?” bisik Tan Malaka, suaranya memadukan antara kegetiran sejarah dan ketabahan seorang ideolog sejati. “Merombak cara berpikir sebuah bangsa itu adalah pekerjaan yang teramat mahal, Rian. Bayarannya bukan sekadar teori di atas kertas, melainkan kawan yang ditawan, rekan yang dibeli oleh modal, dan hati yang didera kelelahan batin yang luar biasa.”

​Rian menoleh, sepasang matanya tampak memerah menahan beban psikologis. “Saya berada di titik buntu, Bang. Jika saya bersikeras melanjutkan gerakan ini, orang-orang kecil di sekitar saya yang akan menanggung akibatnya secara brutal. Pak Toro bisa membusuk di sel, keluarga Mbak Siti akan kehilangan mata pencaharian. Apakah saya sedang memelihara ego heroisme yang egois jika memaksa mereka tetap bertarung?”

​Tan Malaka menyunggingkan senyum tipis—sebuah ekspresi dari seorang manusia yang menghabiskan separuh hidupnya dalam pelarian dari intelijen internasional demi sebuah manifesto berpikir.

​“Itu adalah pertanyaan paling jujur yang pernah keluar dari kepalamu, anak muda,” ujar Tan, sepasang matanya mengunci kesadaran Rian. “Asas Materialisme mengajarkan kita untuk menghitung konsekuensi riil secara objektif di lapangan. Jangan pernah terjebak menjadi seorang revolusioner romantis yang naif, yang gemar mengorbankan nasib orang lain demi kepuasan moral pribadimu. Namun, dialektika juga memberi tahu kita: jika kau memilih mundur dan bungkam malam ini, maka struktur penindasan ini akan terus berulang dengan cara yang jauh lebih halus. Mereka akan menggunakan kasusmu sebagai tameng pembenaran: ‘Lihat, bahkan pemuda yang paling lantang menggunakan rasio pun pada akhirnya memilih tunduk pada sistem’.”

​Pria tua itu bangkit dari duduknya, bayangan tubuhnya perlahan mulai memudar dan menyatu dengan remang cahaya lampu barak.

​“Keputusan sepenuhnya berada di tanganmu, Rian. Melindungi keselamatan orang-orang di sekitarmu dengan mengambil langkah mundur secara taktis? Atau, melindungi masa depan mereka dengan tetap tegak melangkah maju meskipun medan laga kian pekat? Kedua pilihan itu memiliki landasan kebenarannya masing-masing. Namun, hanya ada satu pilihan yang akan menjamin kau mampu menatap cermin dan tidur dengan nyenyak hingga puluhan tahun ke depan.”

​Siluet sang pemikir kini telah menipis menjadi partikel cahaya, siap larut kembali ke dalam lipatan waktu sejarah.

​“Dan satu hal terakhir yang wajib kau kawal dengan logikamu,” bisik gema kalimat Tan Malaka sebelum keheningan total kembali meraja, “jika pada akhirnya kau memilih untuk menarik diri dari pertempuran ini, pastikan keputusan itu lahir dari hasil kalkulasi rasional yang sadar. Bukan karena kau takluk oleh rasa takut. Karena ketahuilah… sekte Logika Mistika modern paling gemar menyaksikan manusia waras menyerah kalah, sembari meratap bahwa ketertindasan mereka adalah takdir yang tak bisa diubah.”

​Rian menarik napas dalam-dalam, jemarinya meremas kuat sampul kitab Madilog stensilan di pangkuannya. Di luar, suara deru mesin pabrik pengolahan nikel tetap menderu, menantang nalar sehat yang sedang dipertaruhkan di dalam barak.

(Bersambung)


Catatan Redaksi / Disclaimer:

Seluruh rangkaian narasi dalam serial “Madilog: Petualangan Pikiran yang Belum Selesai” ini merupakan karya fiksi spekulatif yang diinspirasikan dari traktat filsafat ekonomi-politik dalam buku MADILOG karya Tan Malaka.

Garis alur, karakterisasi tokoh (termasuk visualisasi tokoh sejarah), dinamika institusi, waktu, serta koordinat peristiwa yang digambarkan dalam teks ini sepenuhnya adalah rekaan kreatif penulis untuk kolom Literasi Anomali. Jika terdapat kesamaan nama tokoh, tempat kejadian, maupun konformitas situasi linier dengan realitas aktual dalam industri tambang nikel atau kebijakan birokrasi, hal tersebut merupakan kebetulan matematis dan tidak merepresentasikan kebijakan resmi dari institusi mana pun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *