DI NEGERI INI, satu-satunya hal yang lebih konsisten daripada kenaikan harga barang adalah bakat warganet dalam menggalang gerakan “bersatu kita teguh, bercerai kita nge-tweet”. Kali ini, sasaran tembak utama netizen di berbagai platform media sosial adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG), proyek mercusuar pemerintah yang awalnya digadang-gadang sebagai penyelamat generasi masa depan dari ancaman stunting.
Gelombang desakan agar program ini dihentikan total terus menggelinding bak bola salju. Alih-alih menuai pujian karena membagikan susu dan nasi kotak gratis, program ini justru memanen badai kritik.
Logika warganet sebenarnya sederhana, se-sederhana rasa kecewa melihat menu MBG yang kerap kali melompat jauh dari ekspektasi brosur kampanye. Alasan penolakan ini berkisar dari hal yang sangat administratif hingga yang sangat biologis.
Pertama, perkara anggaran. Di saat rakyat sedang asyik bertahan hidup di tengah himpitan kelas menengah yang makin rentan, anggaran puluhan triliun rupiah dinilai terlalu mewah hanya untuk urusan “bagi-bagi makan siang”. Warganet mengendus aroma amis bahwa proyek ini lebih mirip bagi-bagi proyek ketimbang bagi-bagi gizi.
Kedua, urusan isi piring. Netizen yang maha teliti, bersenjatakan kamera ponsel, kerap membagikan potret realitas MBG di lapangan. Alih-alih mendapatkan asupan protein sempurna layaknya atlet olimpiade, beberapa temuan menunjukkan menu yang disajikan kadang tampak layu, kurang menggugah selera, atau yang paling parah: memicu dugaan keracunan massal di beberapa daerah. Menyuapi anak sekolah dengan makanan yang membuat mereka berakhir di puskesmas tentu bukan definisi “sehat dan bergizi” yang diinginkan para orang tua.
Pemerintah sendiri tampaknya masih mencoba bertahan di tengah badai mention dan hastag. Bagi mereka, program ini adalah investasi jangka panjang. Sayangnya, bagi netizen yang hidup di era real-time, investasi jangka panjang tidak akan berguna jika besok pagi anak-anak mereka harus absen sekolah karena sakit perut akibat menu yang dipaksakan.
Pada akhirnya, riuh rendah desakan penghentian MBG ini menjadi tamparan keras. Niat baik memang harus diberi makan, tetapi jika caranya dinilai kurang gizi sejak dalam perencanaan, jangan heran jika publik memilih untuk menyuruh pemerintah “cuci piring” dan menyudahi perjamuan ini.




