ANALISIS GETNEWS

OBRAL BESI TUA DI TATAS TURA: Ketika Lombok Tengah Melelang Memori Dinas Era Astrea Star

DI SAAT PANGGUNG politik nasional sedang membara oleh sengkarut korupsi Badan Gizi Nasional yang diusut Jampidsus Kejaksaan Agung, dan Lapangan Banteng diguncang rumor reshuffle akibat Rupiah yang Meriang di level Rp18.000 per dolar AS, Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah justru memilih fokus pada urusan domestik yang jauh lebih membumi. Demi ketertiban tata kelola dan upaya mengais rezeki tambahan bagi kas daerah, Pemkab Lombok Tengah resmi menggelar aksi cuci gudang massal.

​Melalui Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) yang bekerja sama dengan Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Mataram, puluhan unit eks kendaraan dinas operasional resmi dilelang secara daring (online). Langkah ini tertuang dalam Pengumuman Resmi Nomor 030/269/BKAD/2026 tentang Lelang Non Eksekusi Wajib Barang Milik Daerah (BMD). Sebuah maklumat yang langsung membuat para pencinta motor restorasi dan pemburu besi tua di Gumi Tatas Tura bersiap memasang penawaran terbaik mereka.

Menjual Sejarah “Apa Adanya” Dari Harga Dua Ratus Ribuan

​Kepala BKAD Kabupaten Lombok Tengah, Taufikurrahman Pua Note, menjelaskan bahwa seluruh objek yang dilelang merupakan bekas kendaraan dinas operasional milik pemerintah daerah yang sudah pensiun dan dijual dalam kondisi apa adanya (as is).

​“Lelang ini merupakan bagian dari pengelolaan aset daerah yang tertib, efektif, dan sesuai ketentuan perundang-undangan. Selain itu, hasil lelang nantinya akan menjadi salah satu sumber penerimaan bagi daerah,” ujarnya dengan nada normatif khas birokrat keuangan daerah.

​Total ada 53 unit kendaraan roda dua dari berbagai merek yang siap dilepas ke pasar. Menariknya, daftar kendaraan yang dilelang laksana sebuah museum berjalan yang merekam sejarah perjalanan birokrasi Lombok Tengah dari dekade ke dekade. Mulai dari motor legendaris yang kini jadi buruan kolektor seperti Honda Win, Honda Legenda, dan Honda Astrea Star, hingga motor bebek pekerja keras era 2000-an seperti Suzuki Thunder, Honda Supra X 125, Supra Fit, Suzuki Axelo, dan Suzuki Smash.

​Nilai limit atau harga awal yang ditetapkan pun sangat bervariasi dan ramah di kantong, menyesuaikan dengan tingkat “kelesuan” fisik sang motor setelah bertahun-tahun dipakai menerjang debu jalanan Praya hingga Pujut. Harga pembuka dipatok mulai dari yang paling murah seharga Rp281 ribu hingga yang paling mahal di angka Rp3,47 juta per unit.

Paradoks Efisiensi: Saat Daerah Mengais Rupiah dari Sisa Kejayaan Masa Lalu

​Aksi obral aset di Lombok Tengah ini memicu analisis menarik di kolom Indonesia Insights. Di tingkat makro, kita melihat bagaimana kementerian dan lembaga baru di Jakarta—seperti BGN yang baru saja mengumpulkan 12 ribu penggerak di Sentul—nekat melakukan bypass pengadaan motor dan sepatu baru bernilai miliaran tanpa permisi ke DPR RI. Namun di tingkat lokal, Pemkab Lombok Tengah justru harus bersusah payah melelang motor tua lansiran abad lalu demi mengamankan asas akuntabilitas pengawasan keuangan.

​Langkah tertib aset yang diambil Taufikurrahman Pua Note ini patut diapresiasi secara manajerial. Daripada membiarkan puluhan motor dinas tersebut hancur berkarat menjadi rongsokan tak berguna di parkiran belakang kantor bupati—dan rawan dituduh melakukan pembiaran aset seperti kritik tajam kaum intelektual—menjualnya secara transparan melalui KPKNL adalah jalan keluar yang paling masuk akal.

​Bagi masyarakat kelas menengah Lombok Tengah yang saat ini dompetnya sedang meriang akibat himpitan ganda moneter global, lelang motor dinas murah ini bisa menjadi oase alternatif untuk mendapatkan moda transportasi murah, atau sekadar bahan baku proyek restorasi motor klasik yang sedang tren di media sosial.

Parameter AnalisisKondisi LapanganAnalisis GetNews
Tata Kelola BMDEksekusi lelang daring secara transparan terhadap 53 unit kendaraan dinas operasional roda dua yang sudah tidak digunakan.Sangat selaras dengan prinsip akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah; berhasil menghentikan akumulasi beban penyusutan nilai barang di dalam neraca kekayaan daerah.
Potensi PenerimaanPenetapan nilai limit harga awal bervariasi secara ekonomis mulai dari Rp281 ribu hingga level Rp3,47 juta per unit.Meskipun kontribusi nominalnya terhitung kecil di tengah guncangan inflasi nasional, likuidasi aset ini memberikan tambahan likuiditas yang pasti pada pos PAD sektor kekayaan yang dipisahkan.
Mitigasi RisikoPenjualan seluruh objek lelang BMD menggunakan klausul hukum pengadaan kondisi apa adanya (as is).Langkah hukum preventif yang tepat dari BKAD guna memutus potensi tuntutan ganti rugi (legal dispute) perdata dari pihak pemenang lelang di kemudian hari terkait depresiasi mesin fisik.
Sumber: Formulasi Audit Strategis Akuntabilitas Aset Daerah – GetNews Premium Format

Selamat Tinggal Astrea Star, Selamat Datang Digitalisasi

​Lelang daring di Lombok Tengah ini membuktikan bahwa urusan “cuci piring” tidak hanya terjadi di ruang siber Jakarta yang sedang ramai menuntut penghentian program pangan gratis akibat korupsi SPPG. “Cuci piring” di Praya berjalan dalam bentuk pembersihan gudang aset dari sisa-sisa inventaris masa lalu.

​Kita harapkan proses lelang ini berjalan bersih tanpa adanya permainan kongkalikong di bawah meja antara oknum panitia dan calo besi tua. Bagi masyarakat NTB yang berminat mengoleksi Honda Win eks camat atau Astrea Star eks lurah, silakan bersiap memantau situs resmi lelang negara.

​Mari kita dukung penataan aset ini, sembari berharap semoga uang ratusan ribu dari hasil penjualan motor tua ini bisa digunakan secara bijak untuk memperbaiki fasilitas publik di Lombok Tengah yang lebih mendesak. Sorry yé, kali ini motor dinasnya harus pamit pensiun demi menyelamatkan kas daerah! Oke Gas, pasang penawaran tertinggi Anda!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *