DI NEGERI INI, klakson biasanya berfungsi sebagai instrumen kemarahan untuk memaki pengendara lain yang memotong jalan sembarangan. Namun, di tangan para mahasiswa dan kelas menengah yang sudah mentok menahan beban hidup, pencetan tombol di setir kendaraan itu mendadak menjelma menjadi lagu kebangsaan baru: sebuah orkestra solidaritas bagi kaum yang lelah dompetnya diperas negara.
Gelombang protes menolak kenaikan BBM nonsubsidi dan gurita pajak yang kian kreatif kini menemukan medium komunikasi baru yang tak biasa. Alih-alih hanya mengandalkan orasi lewat pelantang suara yang bikin serak, mahasiswa di berbagai kota kompak membentangkan poster-poster taktis bin provokatif. Efeknya instan; jalanan ibu kota hingga daerah mendadak bising oleh bunyi klakson yang bersahutan dari para pengendara yang melintas.
Di Jakarta, ketika barikade kawat berduri aparat menghadang jaket kuning di Semanggi, mahasiswa memutar otak dengan menyebar selebaran kertas putih bertuliskan huruf kapital mencolok: “KLAKSON KALO KALIAN CAPEK BAYAR PAJAK MAHAL!” Ada juga yang membawa poster berbunyi, “KLAKSON KALO KALIAN SEBEL SAMA PRABOWO-GIBRAN!” Responsnya? Luar biasa riuh. Mulai dari mobil pribadi necis hingga abang ojek online berjaket hijau kompak memelankan laju motornya demi menekan klakson sedalam-dalamnya.
Fenomena serupa tapi lebih puitis terjadi di bundaran kompleks kampus Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Banyumas. Di sana, mahasiswa membentangkan poster legendaris bernada pasrah: “Klakson Kalau Kamu Capek Jadi WNI.” Hasilnya, kawasan kampus langsung diguncang suara bising bersahutan. Bukan karena ada kecelakaan atau kemacetan parah, melainkan karena hampir semua pengendara merasa isi poster itu adalah cerminan dari batin mereka yang terdalam.
Aksi klakson berjamaah ini sejatinya adalah tamparan satir yang sangat telanjang bagi Istana. Ketika para menteri dan pejabat superholding dengan percaya diri mengklaim kenaikan Pertamax tidak akan memicu inflasi, suara bising di jalanan justru membuktikan realitas yang sebaliknya. Klakson yang menggema itu adalah representasi dari kemarahan kelas menengah yang tidak punya akses VIP untuk curhat langsung ke presiden, tidak punya modal untuk bikin yayasan gizi, dan jelas tidak punya kuota mobil dinas gratis untuk dipakai Nyongkolan.
Bagi pemerintah, kebisingan ini seharusnya dibaca sebagai sinyal bahaya makro yang nyata. Ketika rakyat sudah sampai pada titik “malas berdebat” dan memilih mengekspresikan kekesalannya lewat tombol klakson, itu artinya batas kesabaran publik sudah tipis seukuran dompet di akhir bulan. Istana mungkin bisa terus memoles citra dan berdalih mengikuti mekanisme pasar global. Namun mereka harus ingat, sekuat apa pun humas negara meredam kritik di Twitter, mereka tidak akan pernah bisa membungkam bunyi klakson ribuan orang yang telanjur capek jadi penonton drama bagi-bagi proyek di atas aspal.
INFORMASI UTAMA
Aksi protes mahasiswa atas kebijakan fiskal pemerintah menuai dukungan masif dari pengguna jalan melalui aksi solidaritas membunyikan klakson kendaraan di berbagai wilayah. Simak laporan lengkapnya di Tempo.co.




