AMBARA

Operasi ‘Dendam Pribadi’ BAIS: Ketika Intelijen Negara Turun Kasta Jadi Tukang Siram Air Keras

MARWAH BADAN INTELIJEN STRATEGIS (BAIS) TNI baru saja diseret ke titik nadir oleh kelakuan empat oknum prajuritnya. Kolonel Andri Wijaya secara resmi mengonfirmasi bahwa serangan keji berupa penyiraman air keras terhadap aktivis Andrie Yunus dilakukan oleh anak buahnya. Motifnya? Bukan soal keamanan negara atau konspirasi global, melainkan masalah receh bin klasik: Dendam Pribadi.

​Publik pun dibuat melongo. Bagaimana mungkin personel yang dilatih dengan uang rakyat untuk melakukan deteksi dini ancaman nasional, justru menggunakan keahliannya untuk merancang “operasi senyap” hanya demi memuaskan rasa sakit hati personal? Ini bukan lagi soal intelijen, ini soal premanisme berseragam.

Variabel TragediAnalisis Jahil AMBARAStatus Mentalitas
Motif Dendam PribadiLatihan militer berat, tapi sumbu pendek. Baper dikit, air keras melayang.EMOTIONAL INSTABILITY
4 Prajurit TerlibatIntelijen kok main keroyokan. Ini operasi BAIS atau geng motor pasar?COLLECTIVE STUPIDITY
Target AktivisKritik dibalas cairan kimia. Cara paling pengecut buat ‘mendiamkan’ lawan.COWARDLY ATTACK

Sumber: Pernyataan Kolonel Andri Wijaya, Tribunnews & Unit Analisis ‘Salah Asuh’ AMBARA 2026.

Intelijen Strategis, Eksekusi Tragis

​BAIS seharusnya menjadi mata dan telinga negara yang paling tajam. Tapi dalam kasus Andrie Yunus, mereka justru menjadi “tangan yang kotor”. Kolonel Andri Wijaya menyebut ini dendam pribadi, seolah-olah ingin memisahkan institusi dari kelakuan bejat anggotanya. Masalahnya, air keras itu bukan dibeli pakai uang saku pribadi saat mereka sedang libur, tapi dibawa oleh mentalitas yang gagal dibina oleh sistem.

​Jika aktivis sudah mulai disiram air keras oleh aparat intelijen karena urusan “dendam”, maka kita sedang menuju era di mana kritik bukan lagi dijawab dengan data, tapi dengan ancaman fisik yang cacat permanen.

Krisis Karakter di Menara Gading

​Lucu memang melihat bagaimana 4 orang prajurit bisa memiliki “dendam pribadi” yang sama secara kolektif. Apakah mereka bikin grup WhatsApp khusus buat merencanakan penyiraman ini? Ataukah ini adalah bentuk toxic masculinity di mana solidaritas korps disalahartikan menjadi solidaritas dalam kejahatan?

​Presiden Prabowo tempo hari bicara soal suksesi damai dan sistem yang baik. Tapi di bawah, sistemnya sedang bocor. Bagaimana rakyat mau percaya pada intelijen negara jika aset-asetnya lebih sibuk mengurusi sakit hati daripada mengurusi kedaulatan?

Kesimpulan: Bukan Cuma Oknum, Tapi Sistem

​Menyebut “oknum” adalah cara paling gampang untuk cuci tangan. Namun bagi korban, Andrie Yunus, luka bakar akibat air keras itu tidak akan hilang hanya dengan permintaan maaf atau pemecatan.

​TNI, khususnya BAIS, perlu melakukan audit psikologis besar-besaran. Jangan sampai negara memelihara “monster” yang hanya gagah di depan warga sipil, tapi lembek dalam mengelola emosi sendiri. Kita butuh intelijen yang cerdas otak, bukan cuma cerdas nyari celah buat nyiksa orang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *