AMBARA

Zwarte Hollanders dan Komedi Antropologi Kolonialism

UNGKAPAN LEGENDARIS “Londo Ireng” yang sempat terlontar dari mulut Presiden Prabowo Subianto kembali memicu kebingungan sosiologis sekaligus membuka lembaran sejarah yang berdebu. Bagaimana mungkin seorang Belanda dilabeli “hitam”? Bagi masyarakat Jawa abad ke-19, sebutan yang terkesan paradoksal tersebut bukanlah fiksi, melainkan realitas sejarah yang lahir dari kepanikan militer kolonial Belanda (KNIL) yang kehabisan serdadu akibat digulung tropis dan perlawanan sengit perajurit lokal.

​Sebagaimana dicatat Ineke van Kessel dalam bukunya Zwarte Hollanders: Afrikaanse soldaten in Nederlands-Indie (2005), istilah tersebut merujuk pada ribuan prajurit asal Pantai Emas (kini Ghana) yang direkrut—atau tepatnya dibeli dari penguasa lokal Elmina—antara 1831 hingga 1872 demi menjadi martir di Perang Padri hingga Perang Aceh. Namun dalam dinamika sosiolinguistik modern, istilah itu terdistorsi menjadi epos satire: ejekan bagi pribumi yang lebih Belanda ketimbang orang Belanda sendiri.

Logika “mengimpor tentara asing untuk menumpas rakyat sendiri” seketika berubah menjadi komedi sejarah yang teramat mahal. Bagaimana tidak, kolonial Belanda kala itu mengira telah menemukan algoritma militer paling ampuh dengan mendatangkan pasukan Zwarte Hollanders. Namun yang terjadi justru sebaliknya: mereka menciptakan absurditas baru di mana para prajurit Afrika ini kebingungan memahami dialek lokal, sementara rakyat pribumi tertawa getir melihat kolonialisme bertopeng kulit gelap. Mengharapkan stabilitas wilayah berdiri kokoh di atas serdadu sewaan sama absurdnya dengan memercayai ramalan matematika AI tentang piala dunia tanpa menghitung variabel lobi telepon ke bos FIFA.

​Sisi jenaka dari fenomena Londo Ireng ini kian terasa gurih jika ditarik korelasinya dengan tabiat elite birokrasi tanah air. Watak Londo Ireng—yakni mentalitas pribumi yang mengabdi pada kepentingan oligarki ketimbang rakyatnya sendiri—terpampang telanjang di panggung penegakan hukum kita.

Era HistoriografiManifestasi & SubjekDampak Sosiologis / Risiko Makro
Abad ke-19 (KNIL)Rekrutmen 3.000–4.000 serdadu Ghana (Elmina) sebagai rekayasa militer kolonial akibat krisis personel. Eksploitasi manusia berbasis perbudakan terselubung. Baca selengkapnya di National Geographic Indonesia.
Kontemporer (Modern)Metafora politik untuk oknum birokrasi/pribumi yang bertindak sebagai kepanjangan tangan pemeras rakyat. Memicu pelarian modal (capital flight) dan mosi tidak percaya pasar, dipantau oleh The Wall Street Journal.
Foto cover: Tentara KNIL (net/istimewa/gubug-wayang.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *