JAKARTA — Di tengah pusingnya kepala kelas menengah memikirkan dompet yang makin tipis, Kepala Badan Pengelola (BP) BUMN sekaligus COO Danantara, Dony Oskaria, mendadak tampil membawa angin segar yang teramat optimis. Dony meyakini bahwa kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi terbaru—khususnya jenis Pertamax dan Pertamax Green—tidak akan memberikan dampak signifikan terhadap angka inflasi nasional.
Menurut logika elastisitas ekonomi ala Istana, penyesuaian tarif ini merupakan hal lumrah karena murni mengikuti mekanisme pasar global dan sudah direstui lewat proses kalkulasi bersama Kementerian ESDM pada Rabu, 10 Juni 2026.
Mendengar pernyataan tersebut, publik—terutama para pemilik kendaraan non-subsidi yang hobi mengisi tangki bensin sambil menahan napas—mungkin hanya bisa tersenyum getir. Menepis dampak kenaikan Pertamax terhadap inflasi dengan dalih “mengikuti harga pasar dunia” adalah bentuk kenyamanan berpikir khas pejabat yang difasilitasi mobil dinas dengan voucer bensin gratis dari negara.
Secara teori makroekonomi yang diajarkan di kampus-kampus, Pertamax memang dikonsumsi oleh kelompok masyarakat kelas menengah ke atas yang dianggap punya bantalan ekonomi lebih tebal. Masalahnya, kelas menengah kita hari ini sedang bertaruh nyawa menahan gempuran PHK, potongan tabungan perumahan, hingga pajak yang makin kreatif. Ketika harga Pertamax merangkak naik, efek dominonya tidak pernah sesederhana hitung-hitungan di atas kertas rapat Danantara.
Sebagian pengguna Pertamax yang sudah mentok anggarannya sangat berpotensi melakukan “turun kelas” secara massal dengan bermigrasi mengantre Pertalite. Jika itu terjadi, kuota BBM bersubsidi akan jebol, antrean di SPBU bakal mengular sepanjang rute mudik, dan ujung-ujungnya APBN kembali megap-megap menahan beban kompensasi. Jadi, alih-alih meredam inflasi, kebijakan ini justru berisiko menciptakan lingkaran setan baru di sektor hilir migas.
Pemerintah, melalui superholding baru Danantara, tampaknya harus mulai menyadari bahwa mengelola korporasi negara tidak sama dengan mengurus lini bisnis penerbangan atau perhotelan mewah. Setiap rupiah kenaikan komoditas vital seperti energi selalu punya daya magis untuk menaikkan harga cabai, tarif ojek online, hingga biaya mangkok bakso di pinggir jalan. Mengatakan kenaikan bensin tidak berdampak pada inflasi sama saja dengan menghibur orang tenggelam bahwa air laut itu sebenarnya menyegarkan.
INFORMASI UTAMA
Manajemen Danantara memastikan fluktuasi harga BBM nonsubsidi berada dalam batas aman koridor makroekonomi domestik tanpa memicu guncangan daya beli. Laporan selengkapnya dapat diakses melalui Antaranews.com.




