KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA tidak pernah lahir dari ruang hampa atau sekadar lembar teks proklamasi yang dibacakan di Pegangsaan Timur. Di balik derap langkah para diplomat muda yang mengibarkan bendera Merah Putih di panggung internasional, tersimpan sebuah babak sunyi yang jarang disorot: uluran tangan tanpa pamrih dari dunia Arab, terutama dari seorang saudagar besar asal Palestina, Muhammad Ali Taher.
Hari ini, saat kita menikmati kedamaian di negeri sendiri—jauh dari dentuman bom dan krisis kelaparan hebat seperti yang disaksikan saudara-saudara kita di Palestina—ada baiknya kita menoleh sejenak ke belakang. Mengingat kembali bahwa fondasi awal kedaulatan bangsa ini pernah disokong oleh keringat dan harta seorang asing yang merasa senasib sepenanggungan di bawah bayang-bayang penjajahan.
Kas Negara yang Kosong dan Jalan Buntu di Kairo
Agustus 1945. Republik yang baru berumur jagung dihadapkan pada kenyataan pahit. Secara de facto, proklamasi telah berkumandang. Namun secara de jure, keredupan mengancam karena dunia internasional belum mengakui eksistensi Indonesia. Belanda dengan gigih membonceng Sekutu untuk merebut kembali ibu pertiwi.
Untuk melawan propaganda kolonial, Indonesia harus mengirim diplomat ulung ke luar negeri, khususnya ke Timur Tengah, guna menggalang pengakuan dari negara-negara Liga Arab. Masalahnya klise namun mematikan: kas negara saat itu nol besar.
Para diplomat kita berangkat ke Mesir dengan kantong tipis, mengandalkan tekad baja dan mimpi besar. Di tengah kebingungan dan keterbatasan finansial yang menghimpit di Kairo, takdir mempertemukan mereka dengan Muhammad Ali Taher.
“Ambil Semuanya, Saya Ikhlas”
Lahir di Nablus, Palestina, pada 1896, Muhammad Ali Taher bukan sekadar pengusaha sukses. Ia adalah seorang jurnalis, pemilik jaringan media berpengaruh, sekaligus aktivis anti-kolonialisme yang mendedikasikan hidupnya untuk kemerdekaan bangsa-bangsa tertindas.
Ketika mendengar perjuangan gigih bangsa Indonesia, hatinya tergerak secara mendalam. Dalam buku literatur “Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri” karya M. Zein Hassan, dicatat bagaimana Ali Taher tanpa berpikir panjang mendatangi bank dan mencairkan seluruh sisa kekayaan pribadinya.
Seluruh uang itu diserahkan kepada perwakilan Indonesia untuk membiayai operasional lobi politik. Saking tulusnya, ketika para diplomat hendak menyodorkan kuitansi atau surat tanda terima resmi—untuk kelak dicatat sebagai utang negara—Ali Taher menolak mentah-mentah.
Bagi dirinya, bantuan tersebut murni didasarkan pada ikatan ukhuwah dan kemanusiaan. Tanpa tanda terima, tanpa pamrih, dan ikhlas seikhlas-ikhlasnya.
Buah Manis Solidaritas Lintas Batas
Uang dari saudagar Palestina itu menjelma menjadi bahan bakar utama. Berkat sokongan finansial tersebut, perwakilan Indonesia di Kairo leluasa bergerak, melobi tokoh-tokoh penting Liga Arab, dan meyakinkan Mesir, Suriah, Irak, hingga Lebanon.
Hasilnya monumental. Mesir menjadi negara pertama di dunia yang secara resmi mengakui kemerdekaan Indonesia pada tahun 1947, yang kemudian disusul oleh negara-negara Arab lainnya. Pengakuan kolektif ini menjadi legitimasi internasional pertama yang mematahkan klaim sepihak Belanda di Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Melihat kondisi dunia hari ini, kisah Muhammad Ali Taher adalah pengingat yang menampar kesadaran kita: bahwa kemerdekaan Indonesia memiliki utang sejarah yang besar pada dunia Islam, khususnya Palestina. Sebuah solidaritas lintas batas yang membuktikan bahwa kemanusiaan tidak pernah mengenal batas negara.




