Malam bergelayut di Tel Aviv. Kamera hanya merekam bayangan di atas atap, menangkap suara-suara parau yang membedah rutinitas maut. Tak ada ledakan, desing peluru, atau genangan darah di layar. Dokumenter NAZA (2026) justru memilih jalan sunyi untuk membongkar kejahatan struktural: menjadikan birokrasi militer sebagai subjek utama investigasi.
Karya kolaborasi Yuval Abraham dan Rachel Szor ini baru saja merenggut Special Jury Prize di Venice Film Festival ke-83. Dibesut bersama produser eksekutif Jonathan Glazer, film ini bertumpu pada kesaksian 24 perwira dan intelijen aktif Israel. Wajah dan suara mereka disamarkan. Dari mulut mereka, terungkap bagaimana kecerdasan buatan menyulap nyawa manusia menjadi deretan kuota matematis.
“NAZA” bukan sekadar judul. Ia adalah akronim birokrasi untuk menamai estimasi “kerusakan kolateral” atau batas wajar korban sipil yang boleh dikorbankan demi satu target.
The Investigative Filmmakers
Yuval Abraham & Rachel Szor
Duo sineas investigatif di balik kemenangan monumental No Other Land. Lewat karya terbarunya, mereka berani menggeser lensa dari penderitaan korban di lapangan ke ruang ber-AC tempat keputusan genosida dirasionalisasi melalui algoritma dan data.
Teror sesungguhnya dalam film ini lahir dari pengakuan dingin para serdadu. Mereka bekerja di semacam pabrik pemrosesan data, di mana keputusan menghabisi nyawa direduksi menjadi sekadar klik mouse. Kematian masyarakat sipil tak lagi dilihat sebagai ekses tak terhindarkan, melainkan fitur yang sengaja dikalkulasi sejak awal oleh sistem.
Pola depersonalisasi ini sejalan dengan temuan riset lembaga pemantau konflik global yang mengindikasikan bahwa otomatisasi senjata telah menggerus pertimbangan etis manusia hingga ke titik nadir.
“Kekerasan massal hari ini tak lagi butuh amarah. Ia hanya butuh algoritma, eufemisme birokrasi, dan jarak.”
GETNEWS BEDAH FILM: Sinema & Kebijakan Maut →Untuk memahami anatomi normalisasi kekerasan ini, kerangka Audit Strategis GetNews membedah tiga instrumen utama yang diekspos NAZA:
Bisa ditebak, rilis NAZA segera memicu reaksi keras. Militer Israel bergegas menepis temuan film, berlindung di balik dalih bahwa narasumber anonim tak bisa diverifikasi silang. Namun, apresiasi standing ovation selama lebih dari 24 menit di Venice menjadi tamparan telak.
Karya ini tak lagi memohon simpati; ia memaksa kita menatap langsung ke dalam mesin pembunuh, lalu bertanya: sejauh mana dunia membiarkan nyawa manusia dikonversi menjadi baris kode algoritma?
Skor GETNEWS: 8.8 / 10
Catatan Redaksi:
Film ini menuntut ketahanan mental penontonnya. Ia kering, klinis, dan amat menekan. Wajib disimak oleh peneliti kebijakan, praktisi hukum humaniter, hingga jurnalis investigasi yang ingin menelusuri bahaya perselingkuhan antara militerisme dan teknologi kecerdasan buatan.




