MENJELANG PERTENGAHAN 2026, diskursus mengenai kedaulatan agraria di Indonesia kembali dihantam oleh gelombang kejut sinematik. Kolaborasi teranyar antara jurnalis investigatif Dandhy Laksono dan antropolog Cypri Paju Dale melalui dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita berhasil melahirkan sebuah otopsi visual yang dingin. Film berdurasi 95 menit ini menolak tunduk pada narasi romantis pembangunan ibu kota; ia memilih merekam jerit sunyi dari rimba-rawa Papua Selatan.
Diproduksi secara kolaboratif oleh Watchdoc bersama Greenpeace Indonesia dan LBH Papua Merauke, dokumenter ini mencatat pembukaan yang kontroversial sejak rilis Maret 2026 lalu. Konfrontasi nyata tidak hanya terjadi di lapangan, melainkan merembet ke ruang sipil digital dan domestik, ditandai dengan puluhan insiden pembubaran paksa acara nonton bareng (nobar) oleh aparat keamanan di berbagai daerah. Pesta Babi menjadi anomali: sebuah karya jurnalistik yang belum sempat selesai ditonton, namun ekosistem ketakutannya sudah terbukti di dunia nyata.
Sinopsis: Korporatisasi Hutan Adat Muyu dan Marind
Judul film ini meminjam nama sebuah ritual sakral—Pesta Babi—sebuah pranata sosial dalam kebudayaan suku Muyu yang berfungsi sebagai simbol kohesi, resolusi konflik, dan kedaulatan pangan berbasis kearifan lokal. Namun, Ben Hania dan Dandhy memperlihatkan bagaimana struktur spiritual ini perlahan digilas oleh traktor raksasa Proyek Strategis Nasional (PSN) yang merombak hutan ulayat menjadi hamparan monokultur tebu dan sawit berskala mega-industri.
Kamera Watchdoc bergerak lincah di antara Merauke, Boven Digoel, dan Mappi, menangkap kontras visual yang brutal melalui bidikan drone: garis batas tegas antara kanopi hutan hujan yang lebat dengan tanah merah yang gundul menganga. Melalui testimoni otentik masyarakat adat suku Marind, Yei, Awyu, dan Muyu, film ini membongkar paradoks transisi energi dan swasembada pangan. Di balik retorika “Ketahanan Pangan Nasional” yang digemakan dari Jakarta, terdapat realitas hilangnya ruang hidup, kehancuran ekosistem sagu, dan marjinalisasi sistemik manusia Papua.
“Pesta Babi menelanjangi pola kolonialisme gaya baru: di mana penaklukan sebuah peradaban tidak lagi membutuhkan deklarasi perang, melainkan cukup dengan stempel regulasi berselimut jargon ketahanan pangan.”
Explore BEDAH FILM: Land Grabbing & Agrarian Conflict →Audit Strategis: Ekonomi Politik di Balik Ekosistem Monokultur
Analisis ini membedah instrumen kekuasaan dan akumulasi modal yang diungkap dalam dokumenter Pesta Babi.
Vonis GetNews:
Pesta Babi adalah sebuah dokumen penting yang merobek topeng filantropi pembangunan Indonesia modern di tanah Papua. Pendekatannya yang advokatif memang membuat ruang bagi perspektif penyeimbang dari otoritas negara terasa minim, menciptakan kesan narasi yang linear. Namun, kekuatan data lapangan dan kejujuran suara dari bawah membuat film ini mustahil untuk diabaikan.
Upaya represif menghentikan pemutaran film ini di berbagai kota justru menjadi pembenaran atas tesis utamanya: bahwa ada ketakutan sistemik jika mata publik mulai mengeja kebenaran di balik proyek pangan nasional. Ini bukan sekadar dokumenter lingkungan; ini adalah alarm keras mengenai arah kedaulatan bangsa kita.
Skor GETNEWS: 8.7 / 10
Catatan: Film ini mengandung isu sensitif politik dan lingkungan. Beberapa pemutaran di berbagai daerah mengalami hambatan.
BACA JUGA ARTIKEL LAINNYA:
The Voice of Hind Rajab: Otopsi Moral atas Kesunyian Dunia



