Tuban, getnews – Upaya menekan kasus tuberkulosis (TBC) pada anak di Kabupaten Tuban terus digencarkan. Puskesmas Wire menghadirkan inovasi pelayanan publik bertajuk “Putri Balgiz Tos TB” (Jemput dan Skrining TBC pada Balita Bermasalah Gizi melalui Mantoux Test). Program ini menyasar balita dengan gangguan gizi melalui pendekatan jemput bola ke desa-desa.
Inovasi ini muncul karena rendahnya cakupan skrining TBC pada anak di wilayah kerja Puskesmas Wire yang pada tahun 2023 hanya mencapai 0,29 persen, serta tingginya angka stunting (14 persen), wasting (12 persen), dan underweight (13 persen).
Menurut Nutrisionis Madya Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Tuban, Suswati, kondisi tersebut menunjukkan perlunya intervensi terpadu antara bidang gizi dan kesehatan.
“Semakin rendah status gizi anak, semakin tinggi risiko terkena TBC. Anak stunting memiliki risiko dua hingga tiga kali lebih tinggi, bahkan delapan kali lipat bagi anak yang sangat pendek,” ujar Suswati dalam program Dialog Ekspansi di LPPL Pradya Suara Tuban, Rabu (5/11/2025).
Lebih lanjut, Suswati menjelaskan bahwa inovasi ini dijalankan secara kolaboratif lintas program dan lintas sektor. Tim yang terdiri atas bidan desa, tenaga gizi, dokter, dan petugas promosi kesehatan turun langsung ke lapangan untuk melakukan Mantoux Test pada balita sasaran. Prosesnya juga memanfaatkan teknologi digital: hasil pemeriksaan difoto oleh orang tua, dikirim ke bidan desa, lalu diteruskan ke dokter untuk analisis lanjutan.
Sementara itu, dr. Susi Indah Riyani, Dokter Umum UOBG Puskesmas Wire, menambahkan bahwa program ini mampu mendeteksi dini kasus TBC yang sebelumnya sulit diketahui.
“Sejak berjalan pada 2024, kami menemukan kasus TBC balita yang langsung mendapatkan pengobatan lengkap. Dampaknya sangat positif terhadap peningkatan status gizi,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa pengobatan TBC di Puskesmas diberikan secara gratis, dan pemantauan dilakukan setiap hari melalui video call agar anak tetap disiplin minum obat.
Berkat pelaksanaan yang berkelanjutan, dampak inovasi ini cukup signifikan. Cakupan skrining TBC balita meningkat dari 9,43 persen (2024) menjadi 51,37 persen pada triwulan ketiga 2025. Selain itu, angka stunting menurun menjadi 6,4 persen, dan underweight turun menjadi 8 persen di wilayah kerja Puskesmas Wire.
Program ini juga mendapat dukungan CSR dari dunia usaha, berupa piagam dan kaus penghargaan bagi anak yang tuntas menjalani pengobatan. Ke depan, jangkauan inovasi ini akan diperluas ke seluruh desa di wilayah kerja Puskesmas Wire, serta diharapkan dapat direplikasi oleh puskesmas lain di Kabupaten Tuban.
Inovasi ini menjadi bukti bahwa permasalahan gizi tidak dapat dipisahkan dari penyakit infeksi, dan bahwa deteksi dini TBC merupakan kunci penting untuk memastikan balita tumbuh sehat dan kuat.
Sebagai penutup, semangat gerakan ini digaungkan melalui slogan:“Sayang Balita Kita, Bebaskan dari TBC. Balita Sehat, Generasi Hebat.”(Mc,Tuban/Eyv)
infopublik.id
Foto: dr. Susi Indah Riyani dan Nutrisionis Madya Dinkes P2KB Tuban, Suswati. (yavid/Mc.Tuban)




