Skip to content
getnews.001 White logo GETNEWS.co.id

CLARITY IN EVERY INSIGHT

getnews.001 White logo GETNEWS.co.id

CLARITY IN EVERY INSIGHT

  • AMBARA
  • ANALISIS GETNEWS
  • INSIDE INDONESIA
  • GET INSIGHT
  • GET SPORT
  • GET PLANET
  • GET INFO
  • GET DATA
  • GET CORNER
  • OASE
  • LITERASI ANOMALI
  • NEWS
  • Nusa Tenggara Barat
  • AMBARA
  • ANALISIS GETNEWS
  • INSIDE INDONESIA
  • GET INSIGHT
  • GET SPORT
  • GET PLANET
  • GET INFO
  • GET DATA
  • GET CORNER
  • OASE
  • LITERASI ANOMALI
  • NEWS
  • Nusa Tenggara Barat
Close

Search

getnews.001 White logo GETNEWS.co.id

CLARITY IN EVERY INSIGHT

getnews.001 White logo GETNEWS.co.id

CLARITY IN EVERY INSIGHT

  • AMBARA
  • ANALISIS GETNEWS
  • INSIDE INDONESIA
  • GET INSIGHT
  • GET SPORT
  • GET PLANET
  • GET INFO
  • GET DATA
  • GET CORNER
  • OASE
  • LITERASI ANOMALI
  • NEWS
  • Nusa Tenggara Barat
  • AMBARA
  • ANALISIS GETNEWS
  • INSIDE INDONESIA
  • GET INSIGHT
  • GET SPORT
  • GET PLANET
  • GET INFO
  • GET DATA
  • GET CORNER
  • OASE
  • LITERASI ANOMALI
  • NEWS
  • Nusa Tenggara Barat
Close

Search

Nusa Tenggara Barat

Antara Penurunan Tren Statistik, Eksekusi Penyerapan Anggaran Desa, dan Tantangan Kemiskinan Kultural

By Lilisatya Wati
5 November 2026 2 Min Read
0

MATARAM – ​Rilis data Badan Pusat Statistik (BPS) per Maret 2026 yang mencatatkan penurunan persentase penduduk miskin di Nusa Tenggara Barat (NTB) menjadi 11,17% (berkurang sekitar 8,68 ribu jiwa) memberikan angin segar bagi dinamika sosio-ekonomi daerah. Namun, arahan Wakil Gubernur NTB Hj. Indah Dhamayanti Putri dalam Rapat Koordinasi Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan (TKPK) Provinsi NTB 2026 menyingkap tantangan struktural yang sesungguhnya: keberlanjutan tren penurunan ini sangat bergantung pada efisiensi eksekusi anggaran dan akurasi data intervensi di tingkat tapak.

​Peringatan tegas Wagub terkait lambatnya pencairan dana Program Desa Berdaya di sekitar 100 desa—dari total 257 desa sasaran—menjadi alarm merah bagi efektivitas birokrasi daerah. Di tengah waktu efektif APBD 2026 yang tersisa kurang dari dua bulan, mengendapnya alokasi anggaran pengentasan kemiskinan di tingkat desa tidak hanya memicu risiko kelambatan penyerapan (underspending), melainkan secara langsung menunda pemenuhan hak-hak dasar dan pemberdayaan ekonomi masyarakat rentan.

​Dinamika pengentasan kemiskinan di NTB ini membawa tiga fokus analisis strategis:

  1. ​Akselerasi Eksekusi Program Desa Berdaya vs. Risiko Kerawanan Akhir Tahun: Keterlambatan pencairan dana di hampir 40% desa sasaran mengindikasikan adanya sumbatan administrasi, verifikasi teknis, atau kendala kapasitas SDM pemerintah desa. Evaluasi ketat yang diinstruksikan kepada para Wakil Bupati/Wakil Wali Kota selaku Ketua TKPK Kabupaten/Kota mutlak dilakukan dengan pendampingan langsung (troubleshooting), agar penyerapan anggaran tidak dilakukan secara terburu-buru yang dapat merusak kualitas program.
  2. ​Integrasi Data P3KE dan Presisi Intervensi Sosial: Imbauan pemanfaatan data akurat menggarisbawahi krusialnya pembersihan data (data cleansing) berbasis Penyasaran Percepatan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem (P3KE). Tanpa integrasi data tunggal yang diperbarui secara real-time, program bantuan sosial, jaminan kesehatan, maupun pemberdayaan ekonomi berisiko mengalami salah sasaran (inclusion and exclusion errors) yang merugikan anggaran daerah.
  3. ​Optimalisasi Pembiayaan Non-APBD dan Kemandirian Ekonomis: Keterlibatan lembaga Filantropi Islam seperti BAZNAS dalam penyediaan rumah layak huni dan modal usaha produktif bagi mustahik merupakan instrumen konvergensi yang sangat bernilai. Integrasi dana zakat, infak, dan sedekah (ZIS) dengan alokasi APBD memposisikan pembiayaan sosial tidak lagi sekadar charity (karitatif), melainkan modal kerja yang mengubah status penerima bantuan menjadi pelaku ekonomi mandiri.
​

Audit Strategis: Kinerja Penanggulangan Kemiskinan & Evaluasi TKPK NTB (2026)

Vektor ParameterRincian Substantif & Tinjauan Evaluasi Kebijakan Pemprov NTB
Capaian Kemiskinan BPS (Maret 2026)Persentase penduduk miskin NTB turun menjadi 11,17% (pengurangan kuantitatif sebesar ~8,68 ribu jiwa).
Fokus Kebijakan Rapat KoordinasiRakor TKPK Provinsi NTB 2026 dipimpin Wagub Hj. Indah Dhamayanti Putri di Mataram (5 November 2026).
Evaluasi Program Desa BerdayaPengawasan khusus terhadap ~100 desa dari 257 desa sasaran yang belum mencairkan dana dengan sisa waktu <2 bulan.
Skema Kolaborasi Lintas SektorSinergi APBD dengan dana ZIS BAZNAS untuk pemberdayaan ekonomi mustahik dan rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH).

*Sumber: BPS NTB & Diskominfotik NTB (Data Diolah per 5 November 2026)

Penurunan angka kemiskinan NTB hingga 11,17% merupakan pijakan penting yang harus dikawal secara konsisten. Keberhasilan Pemprov NTB mencapai target pengetasan kemiskinan jangka panjang kini bergantung pada ketegasan pemerintah daerah dalam mempercepat pencairan dana Desa Berdaya yang tertahan, memastikan presisi data penerima manfaat, serta memperkuat pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis kemitraan berkelanjutan.

Distribute Strategic Insight
WHATSAPP
X-POST
FACEBOOK

Tags:

BAZNAS pemberdayaan ekonomi mustahik NTBData BPS Maret 2026 kemiskinan NTBProgram Desa Berdaya NTB pencairan danaTim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan TKPK NTBWagub NTB Indah Dhamayanti Putri kemiskinan
Author

Lilisatya Wati

Follow Me
Other Articles
Previous

Roy Suryo dan Ijazah Jokowi: Komedi Putar yang Enggan Berhenti Berputar

Next

Harga Bahan Pokok di Mataram Stabil, Menteri Perdagangan Apresiasi Kinerja Pemkot Mataram

No Comment! Be the first one.

    Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    • Tentang Kami
    • Redaksi
    • Pedoman Siber
    • get privacy
    Copyright 2026 GETMEDIA GROUP