MUKOMUKO – Ekosistem hutan Bengkulu menghadapi pekan kelam yang mengguncang pilar konservasi nasional. Dalam kurun waktu 24 jam pada Kamis (30/4), otoritas lingkungan melaporkan kematian beruntun satwa kharismatik: seekor Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae) dan dua ekor Gajah Sumatra (Elephas maximus sumateranus) di wilayah Kabupaten Mukomuko.
Penemuan bangkai Harimau Sumatra di aliran anak sungai Desa Bukit Makmur, yang terjadi bersamaan dengan temuan induk dan anakan gajah di Kawasan Hutan Produksi Air Teramang, memberikan sinyal bahaya bagi integritas Bentang Alam Seblat. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu kini tengah berpacu dengan waktu melakukan nekropsi guna membedah penyebab kematian secara ilmiah.
Meski pemeriksaan awal terhadap bangkai induk gajah menunjukkan kondisi fisik yang relatif utuh—mengecilkan spekulasi perburuan gading tradisional—peristiwa ini justru memperkuat dugaan adanya ancaman non-fisik seperti peracunan atau degradasi habitat yang ekstrem. Rentetan kematian di titik yang berdekatan ini menegaskan bahwa ruang hidup satwa liar di Bengkulu kian terjepit oleh tekanan aktivitas manusia.
Tragedi ini merupakan alarm keras bagi kebijakan tata kelola hutan di Sumatra. Kehilangan satu unit keluarga gajah dan seekor predator puncak dalam waktu bersamaan bukan sekadar angka statistik, melainkan keruntuhan fungsional ekosistem. Pemerintah dituntut untuk melakukan audit total terhadap konsesi lahan di sekitar kawasan Seblat guna memastikan koridor satwa tidak berubah menjadi “kuburan massal” akibat hilangnya sumber pangan dan jalur migrasi.




