Aceh, getnews – Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menegaskan pentingnya penguatan subsektor fesyen sebagai bagian dari strategi peningkatan kualitas produk dan komersialisasi. Untuk itu Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) melalui Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain serta Direktorat Fesyen menyelenggarakan Bootcamp II Akselerasi Fesyen Muslim Indonesia di Provinsi Aceh pada 25–27 November 2025.
Program ini menjadi bagian dari skema pendampingan komprehensif untuk meningkatkan nilai tambah, kualitas produk, sekaligus kesiapan promosi jenama fesyen muslim menuju pasar yang lebih luas. Kegiatan ini berlangsung di Hotel Kyriad Muraya, Aceh, serta lokasi luar ruang untuk sesi pemotretan di Museum Tsunami sebagai latar visual karya peserta.
“Akselerasi fesyen muslim bukan hanya soal estetika, tetapi tentang memastikan jenama lokal memiliki daya saing, identitas kuat, dan kesiapan menembus pasar,” kata Menteri Ekraf Teuku Riefky pada Selasa, 25 November 2025.
Sebelumnya Bootcamp I pada 25 Oktober 2025 berfokus pada pelatihan intensif tentang pengembangan produk, branding, marketing, dan business management.
Sedangkan Bootcamp II berfokus pada review produk hasil pendampingan dan sesi pemotretan profesional untuk kebutuhan katalog/lookbook.
Menteri Ekraf Teuku Riefky menyebutkan industri fesyen memiliki data yang luar biasa, di mana investasi di subsektor fesyen terus meningkat mencapai Rp 9.43 triliun pada semester pertama 2025 dan di waktu yang sama ekspor subsektor fesyen menjadi yang terbesar yaitu mencapai 7.099 juta USD.
“Jadi memang tugas kementerian ini adalah mencari lokal champion untuk kita dorong ke pasar nasional, terus kita cari lagi nasional champion untuk kita bawa ke pasar global,” tegasnya.
Sebanyak 10 jenama terlibat, terdiri atas sembilan jenama fesyen dari Aceh dan satu jenama parfum, masing-masing diwakili owner dan desainer dengan total 20 peserta. Peserta merupakan pelaku usaha yang telah melalui tahapan sosialisasi, kurasi, pelatihan, dan mentoring pada rangkaian Akselerasi Fesyen Muslim Indonesia.
Agenda Bootcamp II meliputi review kesiapan produk untuk pemotretan, proses produksi visual, hingga penguatan presentasi jenama melalui materi promosi. Program ini dirancang sebagai jembatan agar karya peserta tampil lebih kompetitif, terstandar, dan siap memasuki etalase promosi nasional maupun internasional.
Katalog/lookbook yang dihasilkan akan menjadi media promosi utama sebelum penampilan pada ajang peragaan busana/pameran yang direncanakan berlanjut hingga JMFW (Jakarta Muslim Fashion Week) 2027. Melalui inisiatif ini, Kementerian Ekraf memperkuat ekosistem fesyen muslim dari hulu ke hilir agar tumbuh berkelanjutan dan berdaya saing global.
Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal mengapresiasi Akselerasi Fesyen Muslim Indonesia, menurutnya kegiatan tersebut sangat tepat karena anak muda Aceh yang kreatif. Ia mengharapkan Banda Aceh mampu menjadi kiblat fesyen muslim.
“Dengan kehadiran Kementerian Ekraf di sini, mudah-mudahan juga bisa membantu ke depan,sehingga yang diharapkan menjadi kiblat fashion Muslim fashion itu ada di Banda Aceh. Salah satunya dengan menyiapkan sekolah fesyen dikolaborasikan dengan Banda Aceh Academy,” harapnya.
Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain Yuke Sri Rahayu mengatakan kegiatan ini memang dilaksanakan dalam rangka memberikan kesempatan kepada para pelaku fesyen muslim di daerah, tahun ini ada tiga provinsi Aceh, DIY dan Jawa Tengah.
“Dalam rangka kita menggali potensi para fesyen designer muslim untuk menghasilkan produk yang fashionable yang bisa diterima market bukan hanya di daerah tetapi mampu masuk ke pasar nasional bahkan global,” ujar Yuke.
Direktur Fesyen Romi Astuti mengungkapkan salah satu alasan Aceh terpilih untuk Bootcamp II selain masuk ke dalam 15 Provinsi prioritas dalam RPJMN Aceh terkenal dengan Kota Serambi Mekkah dengan syariat Islam.
“Semoga brand-brand Aceh ini juga bisa menjadi trend center-nya pakaian muslim. Kita sudah ditetapkan menjadi dari laporan State of the Global Islamic Economy (SGIE) Report berada di nomor satu dalam awareness modest fashion, belum di sisi produksi, jadi jangan hanya dikonsumsi tetapi kita juga harus menjadi produsen sehingga ada manfaat ekonomi yang kita peroleh,” jelasnya.
Program menghadirkan dukungan pemangku kepentingan, antara lain mentor dari Islamic Fashion Institute dan praktisi fotografi industri fesyen untuk memastikan standar kualitas visual dan bisnis peserta.
kementerian ekonomi kreatif




