LITERASI ANOMALI

Madilog: Petualangan Pikiran yang Belum Selesai – Bagian 7

Oleh: Emha Firmansyah

​Bagian I: Replikasi Senyap di Pinggir Sawah

​Pamflet yang robek ternyata bekerja layaknya spora. Meskipun manajemen pabrik berusaha keras melakukan pembersihan, beberapa lembar kertas blacu itu berhasil lolos dan berpindah ke tangan-tangan yang tepat.

​Dua malam berselang, lingkaran kecil di angkringan pinggir sawah itu secara organik meluas. Sembilan orang kini duduk melingkar. Dua di antaranya adalah buruh muda yang menyelinap diam-diam di paruh waktu malam. Sorot mata mereka tampak berbinar, memancarkan rasa ingin tahu yang besar.

​“Mas Rian,” bisik salah satu buruh muda bernama Andi—nama yang sama dengan sang jurnalis oportunis, namun dengan nasib material yang bertolak belakang. “Saya membaca selebaran itu di loker barak. Selama hidup, saya selalu diyakinkan bahwa kemiskinan keluarga kami adalah garis nasib yang mutlak. Baru malam ini saya paham ada struktur bernama kontradiksi kelas. Mengapa pengetahuan ini seperti sengaja disembunyikan dari kami?”

​Pak Min tersenyum simpul, menyuguhkan segelas teh hangat. Mbak Siti langsung mengambil peran sebagai mentor taktis, menerjemahkan asas Materialisme dengan dialek pasar yang lugas.

​“Sederhananya begini, Di,” sahut Mbak Siti sembari membetulkan posisi celemeknya. “Jangan pernah percaya jika para pemegang saham atau birokrat itu berkhotbah bahwa ‘rezeki setiap manusia sudah diatur rapi dari langit’, sementara di saat yang sama, mereka jugalah yang mengendalikan penuh kuota armada truk pengangkut nikel dan menentukan potongan upah harianmu. Mereka yang mengatur sirkulasinya, tapi Tuhan yang dijadikan tameng pembungkaman.”

​Ruang diskusi menjadi hangat oleh pertukaran nalar. Rian berdiri di sudut angkringan, merasakan energi intelektual yang membakar dada—layaknya Tan Malaka versi kekurangan pasokan kafein.

​Bagian II: Jaringan Represi Senyap

​Namun, fajar keesokan harinya datang membawa tagihan realitas yang dingin.

​Rian mendapati ibu kosnya sudah menunggu di depan pintu kamar dengan wajah yang diliputi kecemasan mendalam. Jemarinya gelisah memainkan ujung daster.

​“Nak Rian,” buka ibu kos dengan nada berbisik, matanya sesekali melirik ke arah luar pagar. “Tadi pagi-pagi sekali, ada dua orang perwakilan dari manajemen tambang datang kemari. Mereka menyampaikan pesan… jika Nak Rian masih melanjutkan aktivitas diskusi aneh di luar itu, kontrak sewa kamarmu terpaksa tidak bisa diperpanjang bulan depan. Tolong mengerti, Nak. Sebagian besar kamar di sini disewa oleh pekerja kontrak mereka. Saya tidak bisa mempertaruhkan sumber penghasilan keluarga.”

​Rian terpaku, lidahnya mendadak kelu.

​Tekanan belum usai. Malam harinya, layar ponselnya bergetar hebat. Panggilan dari ibunya di kampung halaman masuk membawa getaran suara yang cemas dan penuh ketakutan.

​“Rian, kamu sebenarnya sedang berbuat apa di kota?” suara ibunya terdengar bergetar di seberang jaringan telepon. “Ada seseorang yang mengaku wartawan menghubungi perangkat desa, mengatakan bahwa kamu sedang menggalang gerakan radikal yang mengancam proyek negara. Bapakmu sampai tidak bisa tidur, Nak. Kita ini hanya keluarga rakyat kecil, jangan mencari perkara yang bisa merusak masa depan kuliahmu.”

​Rian memutus sambungan telepon dengan perlahan. Ia duduk di tepi kasur, menenggelamkan kepalanya di antara kedua lutut. Di atas meja belajar, sisa pamflet yang kusut tergeletak diam, tampak seperti lembar bukti kejahatan struktural.

​Bagian III: Ujian Kedalaman Nalar

​Di depan cermin kamar mandi kos yang retak di sudut ruangan, partikel udara kembali berdistorsi. Siluet bertubuh kurus dengan kacamata bulat itu kembali mengejawantah. Tan Malaka berdiri di sana, memandang Rian dengan sorot mata yang serius, namun sisa senyum satirenya masih membekas di sudut bibir.

​“Benteng pertahanan mereka mulai bergeser ke ruang privatmu, bukan?” kata Tan Malaka, suaranya terdengar seperti embusan angin gunung dari arah pegunungan Bayah tahun 1943.

​Ia berjalan perlahan, lalu mengambil tempat duduk di sudut kasur yang reyot. “Ini adalah represi struktural dalam bentuknya yang paling sublim. Mereka tidak perlu mengayunkan gada atau menembakkan gas air mata. Mereka cukup mengirimkan kecemasan pada isi perutmu, jaminan tempat tinggalmu, dan ketakutan pada keluargamu. Ini adalah penjelmaan Logika Mistika yang paling halus: menciptakan ilusi ketakutan agar manusia secara sukarela membatalkan haknya untuk merombak nasib.”

​Rian mendesah panjang, menatap bayangan sang pemikir besar dengan pandangan kosong. “Saya berada di persimpangan yang buntu, Bang. Jika saya memilih terus melangkah, kenyamanan keluarga di kampung akan terancam, saya terusir dari kos ini, dan mungkin status akademis saya di kampus akan dihabisi. Namun, jika saya memilih mundur malam ini… itu artinya Madilog hanya akan berakhir sebagai sekadar bacaan pengantar tidur yang munafik.”

​Tan Malaka terkekeh rendah, sebuah tawa yang sarat akan kegetiran seorang martir revolusi.

​“Di sinilah letak garis batas yang memisahkan antara pemikir sejati dengan pencari panggung, Rian. Dulu, aku harus merayap di dalam gua yang lembap, diburu oleh intelijen gabungan tiga negara, didera kelaparan, namun jemariku tetap menulis Madilog. Karena aku tahu persis: ongkos untuk merombak cara berpikir sebuah bangsa itu teramat mahal. Bayarannya adalah kenyamanan pribadimu, pengasingan sosial, dan masa depan yang tidak pernah menjanjikan keamanan.”

​Pria tua itu bangkit, menatap Rian dengan sorot mata yang menghunjam langsung ke pusat kesadaran sang mahasiswa.

​“Sekarang, kalkulasikan pilihanmu secara material. Mundur malam ini, dan jadilah sarjana filsafat biasa yang kelak akan mengajarkan pada murid-muridmu bahwa ‘segala ketimpangan di dunia ini sudah dirancang dengan baik oleh sistem’. Atau, tetap tegak melangkah maju, meskipun barisanmu saat ini hanya menyisakan sembilan orang yang dipenuhi ketakutan. Ingat satu hal: lembaran sejarah tidak pernah digerakkan oleh gerombolan massa yang nyaman dalam ketundukan, melainkan oleh segelintir orang nekat yang menolak menukar akal sehat mereka.”

​Di luar jendela kamar, hujan kembali turun menghantam atap seng dengan ritme yang monoton, seolah alam sedang menguji ketahanan mental di dalam ruangan tersebut.

​“Saya mulai memahami polanya, Bang,” bisik Rian pelan, rahangnya kembali mengeras. “Mengapa melakukan revolusi mental jauh lebih berdarah-darah ketimbang angkat senjata secara fisik.”

​Tan Malaka tersenyum lebar, menyapukan pandangannya untuk terakhir kali sebelum figurnya mulai larut kembali ke dalam kegelapan.

​“Karena musuh terbesarmu tidak pernah berdiri di luar, Rian. Ia bersembunyi di dalam ketakutan kepalamu sendiri… dan di dalam isi kantong orang lain.”

(Bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *