LITERASI ANOMALI

Ilusi Angka 17.500 dan Secangkir Kopi yang Menguap

Ilustrasi (istimewa)

DI BULAN MEI 2026, udara ibu kota terasa lebih berat dari biasanya, seolah awan kelabu di atas sana ikut menanggung beban utang luar negeri. Namun, jika Anda menatap layar raksasa di Bundaran Kota, dunia sedang baik-baik saja. Wajah Juru Bicara Kementerian Harmoni Ekonomi tersenyum dengan presisi yang telah diuji oleh algoritma.

“Kawan-kawan sebangsa,” suara bariton sang Juru Bicara menggema melalui pelantang suara yang dipasang di setiap sudut halte bus. “Hari ini, kita mencatat sejarah baru! Mata uang kita telah sukses mencapai titik ekuilibrium patriotik di angka 17.500 per Dolar AS! Ini bukanlah pelemahan, melainkan Lompatan Kemandirian. Dengan angka ini, ekspor kita tak tertandingi, dan kita akhirnya merdeka dari ketergantungan barang impor yang merusak moral!”

Di bawah layar raksasa itu, Wira berdiri sambil merapatkan kerah jaketnya yang mulai berserabut. Di kepalanya, sebuah mantra berputar-putar, dogma mutlak yang diwajibkan untuk dihafal oleh setiap aparatur sipil: Inflasi adalah Kesejahteraan. Devaluasi adalah Kedaulatan. Harga Mahal adalah Pengorbanan.

Wira bekerja di Departemen Rekalibrasi Arsip. Tugasnya sangat sederhana, namun krusial bagi kewarasan bernegara. Jika minggu lalu pemerintah mengatakan batas psikologis Rupiah adalah 16.000, maka hari ini, saat angka menyentuh 17.500, Wira harus menghapus semua rekam jejak digital minggu lalu. Ia harus merevisi sejarah agar terlihat bahwa angka 17.500 memang sudah menjadi target emas pemerintah sejak lima tahun lalu. Di republik ini, masa lalu sangatlah fleksibel; masa lalulah yang harus menyesuaikan diri dengan kesalahan masa kini.

Setelah jam kerja yang melelahkan—di mana ia berhasil menghapus 400 artikel berita lama yang memprediksi kebangkrutan—Wira mampir ke sebuah kedai kopi tenda di gang sempit dekat stasiun. Ia butuh asupan kafein sintetis sebelum pulang ke apartemen susunnya.

“Satu kopi saset, Mak,” ujar Wira, meletakkan selembar uang dua puluh ribuan yang lecek di atas meja kayu.

Mak Minah, perempuan tua yang wajahnya sudah lebih berkerut dari uang kertas tersebut, menatap Wira dengan pandangan kosong. “Kurang, Nak Wira. Mulai sore ini, kopi saset harganya tiga puluh ribu.”

Wira tertegun. “Tiga puluh ribu? Kemarin pagi masih lima belas ribu, Mak!”

Mak Minah celingukan, memastikan tidak ada Polisi Moral Ekonomi yang sedang berpatroli, lalu berbisik. “Gandum impor untuk campuran kopinya naik. Gula naik. Gas naik. Dolar sudah tembus 17.500, Nak. Mak tidak bisa kulakan kalau harganya tidak dinaikkan.”

Di titik ini, doublethink di dalam kepala Wira mengalami benturan keras.

Logika perutnya yang lapar berteriak bahwa negara sedang sekarat; bahwa angka 17.500 adalah bencana yang membuat daya beli rakyat hancur lebur menjadi debu. Namun, logika yang ditanamkan oleh Kementerian memaksanya meyakini bahwa membayar lebih mahal untuk secangkir kopi adalah bentuk kontribusi langsung kepada ketahanan pangan nasional.

“Mak Minah,” desis Wira, setengah memperingatkan. “Hati-hati berbicara. Jangan menyebut harga naik. Sebut saja… ‘Penyesuaian Nilai Tambah’. Kalau ada petugas yang dengar Mak mengeluh soal Dolar, gerobak ini bisa disita karena dituduh menyebarkan pesimisme ekonomi.”

Mak Minah tertawa getir, tawa yang terdengar seperti ranting kering yang patah. “Apalah artinya kata-kata, Nak Wira? Mau disebut penyesuaian atau harga naik, perut Mak tetap tidak bisa diisi dengan pidato menteri.”

Wira merogoh saku celananya, mengeluarkan selembar sepuluh ribuan terakhirnya, dan menyerahkannya. Ia menerima segelas plastik berisi cairan hitam yang lebih banyak airnya ketimbang bubuk kopinya. Rasanya hambar, seperti janji-janji kampanye.

Sambil menyeruput kopi encernya, Wira menatap layar televisi kecil yang menggantung di sudut kedai Mak Minah. Televisi itu sedang menyiarkan diskusi para pengamat ekonomi berdasi rajut, yang dengan penuh semangat memaparkan betapa beruntungnya rakyat di angka 17.500 ini, karena kini para petani lokal akan menjadi raja di negeri sendiri. Tentu saja, mereka tidak menyorot fakta bahwa traktor, pupuk, dan benih para petani itu diimpor dengan mata uang asing.

Tiba-tiba, suara deru sirine terdengar dari jalan utama. Sebuah van hitam milik Satgas Stabilitas Harga melintas lambat. Dari pengeras suara van tersebut, terdengar imbauan yang diulang-ulang secara mekanis: “Bagi warga yang menemukan penimbun bahan pokok atau pedagang yang mengeluhkan nilai tukar, segera laporkan ke nomor darurat. Ketahanan ekonomi adalah tanggung jawab bersama.”

Mak Minah buru-buru memalingkan wajah, pura-pura sibuk mengelap gelas. Wira menundukkan pandangannya ke dalam gelas plastiknya. Jantungnya berdebar, sebuah ketakutan purba merayap di tengkuknya. Ketakutan bukan pada kelaparan, melainkan ketakutan jika wajahnya gagal memancarkan kebahagiaan yang diwajibkan oleh negara.

Wira menghabiskan kopinya dalam satu tegukan. Ia berdiri, merapikan jaketnya, dan memaksakan otot-otot wajahnya untuk membentuk senyuman simetris. Ia harus segera kembali ke apartemennya, tidur, dan bersiap bekerja besok pagi. Siapa tahu besok nilai tukar menyentuh angka 18.000, dan ia harus kembali menghapus arsip sejarah hari ini.

Di bawah rintik hujan bulan Mei, Wira berjalan pulang. Ia melihat selembar uang kertas pecahan lima ribu rupiah terinjak di genangan air lumpur. Tak ada yang memungutnya. Ia tersenyum, bukan senyum sinis, melainkan senyum kekalahan yang paripurna. Ia menatap layar raksasa di ujung jalan untuk terakhir kalinya malam itu.

“Rupiah Menguat ke 17.500, Fondasi Ekonomi Makin Kokoh!” baca Wira dalam hati.

Perutnya memang keroncongan, daya belinya memang musnah, dan masa depannya telah digadaikan. Tapi saat itu juga, otak Wira akhirnya menyerah pada algoritma kebohongan. Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa secangkir kopi seharga tiga puluh ribu adalah kenikmatan tertinggi.

Ia memenangkan pertarungan melawan akal sehatnya sendiri. Ia akhirnya mencintai angka 17.500.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *