LITERASI ANOMALI

Madilog: Petualangan Pikiran yang Belum Selesai – Bagian 33

Tan Malaka, insert: Emha Firmansyah (GETNEWS./Literasi Anomali/istimewa)

Oleh: M Hero Firmansyah

​Bagian I: Pabrikasi Narasi dan Peluru Dendam

​Fajar berikutnya mengejawantah tepat ketika aparatus propaganda kekuasaan mengaktifkan kartu permainan yang paling kotor di ruang publik. Persis seperti kalkulasi matematika yang dirumuskan oleh proyeksi Tan Malaka malam lalu.

​Seluruh monitor televisi di selasar blok lapas dan halaman muka portal media resmi serentak memuntahkan judul berita utama yang bombastis dan dirancang bias:

“Skandal Darah di Balik Gerakan Subversif: Anak Kandung Jenderal Suryo Terindikasi Selundupkan Ideologi Kiri, Sang Ibu Terbukti Mantan Simpatisan Terlarang!”

​Satu unit foto dokumentasi lama milik Ibu Rian semasa aktif di universitas dipaksa beredar secara masif di jagat siber. Narasi tersebut memutarbalikkan seluruh jalinan fakta objektif secara ugal-ugalan: Rian dikonstruksikan sebagai sesosok “anak hasil hubungan gelap yang memelihara dendam psikologis terhadap struktur negara”, ibunya dilabeli sebagai “aktor intelektual di balik pergerakan”, sementara seluruh spora banjir kertas fotokopi buram di pelosok dicap sebagai “warisan dendam politik lama yang bangkit memprovokasi stabilitas”.

​Di dalam sel isolasi, Rian duduk dengan tenang memindai lembar demi lembar halaman surat kabar harian yang sengaja disodorkan oleh sipir blok dengan maksud melumpuhkan mentalnya. Rian hanya melepaskan sebaris tawa kecil yang satir sembari menggelengkan kepalanya perlahan.

​“Sebuah dramaturgi yang teramat komikal,” desis Rian, melipat koran tersebut di atas lantai semen. “Pada kalender tahun lalu, mereka mengerahkan seluruh instrumen birokrasi untuk menyembunyikan eksistensi ayah kandung saya dari lembar sejarah. Hari ini, komoditas nama yang sama justru mereka sewa kembali untuk menyerang reputasi saya. Doktrin Logika Mistika kekuasaan memang selamanya ahli dalam urusan membalikkan fakta lapangan.”

​Dari balik dinding jeruji sel sebelah, Pak Min meluncurkan pekikan parau yang bergema memotong sunyi lorong blok:

​“Mas Rian! Sirkulasi informasi di luar membuktikan bahwa barisan bos besar di atas sedang didera kepanikan tingkat makro! Semakin ugal-ugalan taktik kotor yang mereka mainkan, secara ilmiah mengonfirmasi bahwa tingkat ketakutan mereka telah mencapai batas puncaknya!”

​Bagian II: Anomali Sosiologis Massa Cair

​Namun, skenario pembunuhan karakter yang dirancang oleh mesin propaganda pusat justru memicu efek kejut sosiologis yang berbalik arah secara satir.

​Di kedalaman warung-warung komoditas kopi pinggiran jalan, kelompok ibu rumah tangga yang awalnya pasif kini mulai meluncurkan interupsi tajam:

​“Sangat tidak adil memperlakukan anak muda itu demikian… Di masa lalu ayah biologisnya bertindak sebagai algojo struktural, dan hari ini ketika anaknya memilih jalan nalar yang lurus, reputasinya justru dilumat habis oleh sistem. Desain politik macam apa ini?”

​Di koridor pasar-pasar tradisional, sebaris vokal lantang dari seorang perempuan pedagang sayur memecah kerumunan:

​“Jika seorang anak dari trah jenderal saja memiliki keberanian material untuk menantang ketidakadilan sistem, variabel apa yang membuat kita yang berada di kelas pelapis bawah ini memilih tetap diam dan takluk?!”

​Disrupsi paling menggelikan justru mengegejawantah pada psikologi masyarakat kelas menengah. Barisan aparatus sipil negara (ASN) dan tenaga pendidik yang selama belasan bulan ini mengunci diri dalam zona aman, kini mulai nekat mereplikasikan lembaran fotokopi Madilog ke jejaring internal mereka, dibubuhi sebaris tulisan tangan:

“Jika struktur kekuasaan sampai merasa perlu membongkar dan memanipulasi aib domestik sebuah keluarga, hal tersebut merupakan indikator ilmiah bahwa gerakan literasi kritis ini telah berada di koordinat yang teramat dekat dengan kebenaran.”

​Di dalam perimeter lembaga pemasyarakatan sendiri, volume “murid” klandestin Rian melonjak dua kali lipat hanya dalam hitungan satu paruh malam. Bahkan, seorang kepala sipir senior dengan gestur was-was mendekati jeruji sel Rian saat jadwal patroli sunyi, melepaskan bisikan parau:

​“Mas Rian… anak kandung saya di rumah kedapatan membedah lembaran kertas fotokopi buram itu. Tadi fajar, dia melayangkan pertanyaan kritis kepada saya: kenapa volume upah bulanan bapaknya sekecil ini padahal negara memelihara surplus kekayaan alam yang melimpah? Rasio saya membeku, Mas. Saya kehilangan formula untuk menjawabnya.”

​Bagian III: Benteng Beton vs Isu Murahan

​Paruh malam kembali mengonsolidasi kegelapan yang pekat di dalam sel isolasi lapas. Di atas permukaan dinding semen yang lembap, partikel udara didera distorsi kronologis yang halus.

​Siluet Tan Malaka mengejawantah kembali di sudut ruangan, melepaskan tawa terbahak-bahak yang begitu masif hingga tubuh transparannya tampak berguncang hebat di depan Rian.

​“Kelakar sejarah yang paling spektakuler!” seloroh Tan Malaka sembari memegangi lingkar perut tirusnya, sisa tawanya masih bergetar di udara. “Aparatus kekuasaan baru saja mengeksekusi tembakan tepat di kaki mereka sendiri, Rian! Mereka berasumsi dengan mempabrikasi isu murahan mengenai silsilah keluargamu, massa akan didera antipati dan menarik mundur dukungan. Realitas material justru membuktikan sebaliknya: kolektif rakyat di tingkat basis malah menaruh simpati dan kian didera rasa penasaran yang akut. Logika Mistika penguasa selamanya bertransformasi menjadi entitas yang paling idiot ketika rasionya dikepung oleh kepanikan massal!”

​Rian menyunggingkan senyum keletihannya, bersandar pada dinding sel yang dingin. “Taktik mereka kian kehilangan etika, Bang. Setelah fase fitnah garis darah ini, kalkulasi saya memprediksi mereka akan meluncurkan narasi sekunder bahwa saya adalah pengguna zat narkotika atau mengidap gangguan klinis sakit jiwa.”

​Tan Malaka memberikan anggukan takzim, kurva senyum satirnya kian menajam.

​“Itu adalah diktat standar dari operasi hitam kekuasaan, Nak. Namun pegang tesis ini: semakin masif mereka menyemprotkan lumpur hitam, semakin banyak kepala manusia biasa di luar sana yang akan melontarkan pertanyaan paling berbahaya bagi eksistensi menara istana: ‘Variabel mengerikan apa yang tersimpan di dalam kepala satu anak muda dan selembar kertas fotokopi buram, hingga membuat struktur negara harus mengerahkan seluruh dayanya demi membungkamnya?’

​Figur transparan sang bapak Republik melangkah satu jengkal mendekati terali besi, sorot matanya memancarkan binar kebanggaan jenaka yang pekat.

​“Rasiomu telah selesai melewati ujian madu penjinak yang manis. Detik ini, kau sedang ditempa oleh ujian badai fitnah. Pertahankan stamina logikamu, Rian. Sebab di luar perimeter penjara ini, benih kesadaran kelas yang kau semai kemarin telah mulai tumbuh secara liar, acak, dan mutlak tidak akan pernah bisa diinterupsi oleh algoritma kekuasaan mana pun.”

​Sebelum partikel energinya melarut kembali ke dalam pori-pori dinding beton, siluet sang ideolog asketis memiringkan kepalanya, melepaskan sebaris bisikan dengan nada satir yang nakal:

​“O ya… kalkulasi taktisku mendeteksi bahwa esok pagi mereka akan menawarkan fasilitas sel kelas VIP dengan pendingin udara agar suaramu terisolasi dari narapidana lain. Tolak paket kompromi spasial itu, Rian. Sel beton yang bau amonia ini terbukti jauh lebih efektif bertindak sebagai mimbar dakwah rasional ketimbang ruangan mewah yang ber-AC.”

​Rian membuka kelopak matanya lebar-lebar, menatap lurus pada bayangan dinding yang kini kembali kosong. Di luar, deru mesin generator lapas menderu konstan membelah sunyi, namun di dalam kesadarannya, sebaris persamaan matematika perjuangan telah terkunci rapat—sebuah nalar yang bersiap mengubah setiap jengkal ruang isolasi menjadi laboratorium kesadaran yang siap meledakkan takhayul modern.

(Bersambung)


Catatan Redaksi / Disclaimer:

Seluruh rangkaian narasi dalam serial “Madilog: Petualangan Pikiran yang Belum Selesai” ini merupakan karya fiksi spekulatif yang diinspirasikan dari traktat filsafat ekonomi-politik dalam buku MADILOG karya Tan Malaka.

Garis alur, karakterisasi tokoh (termasuk visualisasi tokoh sejarah), dynamics institusi, waktu, serta koordinat peristiwa yang digambarkan dalam teks ini sepenuhnya adalah rekaan kreatif penulis untuk kolom Literasi Anomali. Jika terdapat kesamaan nama tokoh, tempat kejadian, maupun konformitas situasi linier dengan realitas aktual dalam industri tambang nikel atau kebijakan birokrasi, hal tersebut merupakan kebetulan matematis dan tidak merepresentasikan kebijakan resmi dari institusi mana pun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *