LOMBOK TENGAH — Operasi kemanusiaan berskala besar yang digelar tim SAR gabungan di pesisir selatan Lombok akhirnya memasuki babak akhir. Darmawan, 46 tahun, nelayan asal Dusun Batu Nampar Selatan, Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur, yang dilaporkan hilang misterius sejak awal pekan lalu, ditemukan dalam kondisi meninggal dunia, Kamis pagi, 28 Mei 2026.
Jasad korban berhasil diidentifikasi dan dievakuasi oleh tim penyelamat sekitar pukul 08.10 WITA. Otoritas SAR mengonfirmasi bahwa posisi jasad korban ditemukan mengapung bebas di permukaan air, hanya berjarak sekitar 10 meter dari titik koordinat perkiraan awal saat korban terhempas dari sampannya (last known position).
Kepala Kantor SAR Mataram, Muhamad Hariyadi, melalui Koordinator Unit Siaga SAR Mandalika, Gede Eka Suarjana, membenarkan penemuan jasad korban pada hari keempat penyisiran intensif tersebut.
”Korban telah berhasil dievakuasi secara taktis oleh tim SAR gabungan dan langsung diberangkatkan menuju rumah duka di Desa Batu Nampar, Lombok Timur, untuk diserahterimakan kepada pihak keluarga,” ujar Gede Eka Suarjana, Kamis, 28 Mei 2026.
Kilas Balik Tragedi Hempasan Gelombang
Lini masa peristiwa tragis ini bermula pada Senin sore, 25 Mei 2026, sekitar pukul 16.30 WITA saat korban bertolak melaut seorang diri. Kejanggalan mulai terendus sekitar pukul 19.30 WITA ketika komunitas nelayan lokal menemukan perahu jukung milik korban terombang-ambing di tengah laut dalam kondisi kosong tanpa awak.
Gerakan pencarian mandiri yang sempat digulirkan malam itu oleh warga Jerowaru hanya menemukan helai pakaian korban yang tersangkut di struktur keramba budi daya, serta sisa tali pengikat perahu yang putus akibat tarikan beban mekanis. Bukti forensik lapangan tersebut mengindikasikan kuat bahwa korban terjatuh ke laut akibat hantaman cuaca buruk dan eskalasi gelombang tinggi saat berjuang mengunci posisi jangkar perahunya.
Merespons laporan darurat tersebut, Basarnas Mataram melalui Unit Siaga SAR Mandalika langsung menetapkan status siaga krisis dan menerjunkan personel penyelamat sejak Selasa, 26 Mei 2026. Strategi pencarian dirancang secara berlapis, mencakup penyisiran permukaan air menggunakan armada perahu karet (rubber boat bermesin), manuver penyelaman bawah air oleh tim kualifikasi khusus, hingga pemantauan visual di sepanjang garis pantai Teluk Awang.
Keberhasilan evakuasi pada hari keempat ini didukung oleh solidnya orkestrasi elemen gabungan lintas sektoral. Aliansi taktis di lapangan melibatkan personel Pos TNI AL Teluk Awang, Direktorat Kepolisian Perairan dan Udara (Polair) Pos Mandalika Polda NTB, Taruna Siaga Bencana (Tagana) Lombok Tengah, Unit SAR Lombok Timur, Palang Merah Indonesia (PMI) Lombok Timur, serta ratusan nelayan swadaya. Dengan ditemukannya korban, operasi SAR resmi dinyatakan ditutup dan seluruh unsur kesatuan dikembalikan ke pos komando masing-masing.




