AMBARA

Penataan Ulang Data Desil: Ketika Orang Kaya Ketar-Ketir dan Bansos Salah Alamat Akhirnya Mau Diberantas!

​Ada sebuah misteri abadi di negeri ini yang tingkat keakuratannya kadang bikin garuk-garuk kepala: kenapa tetangga yang punya mobil dua dan rumahnya berlantai granit justru paling rajin nerima paket sembako bansos, sementara warga yang gentengnya bolong-bolong malah luput dari radar pendataan?

​Menjawab keluh kesah berjemaah di grup WhatsApp emak-emak ini, Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun akhirnya angkat bicara. Pemerintah dikabarkan sedang sibuk melakukan operasi besar-besaran untuk merombak Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN). Tujuannya satu: biar pengkategorian desil 1 sampai 10 nggak salah sasaran lagi.

​Operasi “Gropyokan” Data Desil: Biar Nggak Salah Alamat

​Ditemui di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (27/8/2026), Misbakhun menegaskan bahwa pemerintah lagi getol-getolnya melakukan sensus ekonomi secara super detail.

​Kenapa pendataan ulang ini mendadak jadi urusan hidup dan mati?

  1. Uang Negara Bukan Daun: Pemerintah menggelontorkan anggaran fantastis hingga ribuan triliun rupiah untuk subsidi dan bantuan sosial. Kalau datanya masih pakai metode “kira-kira” atau “asal comot”, duit sebanyak itu bakal menguap begitu saja ke kantong warga yang sebenarnya sudah tajir melintir.
  2. Desil Jadi “Kartu Sakti”: Ke depannya, urusan mau beli gas melon 3 kg, BBM subsidi, sampai jatah perlindungan sosial bakal mutlak ditentukan oleh status kelas desil Anda. Jadi, jangan heran kalau nanti bakal banyak warga mendadak pura-pura jatuh miskin demi lolos verifikasi.
  3. DPR Jadi Satpam Anggaran: Pihak parlemen, kata Misbakhun, siap siaga mengawal ketat proses pembersihan data ini. Penginnya cuma satu: jangan sampai uang pajak rakyat dipakai buat subsidi orang yang tiap hari nongkrong di kafe sambil pamer gawai keluaran terbaru.

​Realitas Lapangan: Saat yang Kaya Ngebet Masuk Desil Miskin

​Masyarakat tentu menyambut rencana bersih-bersih data ini dengan senyum penuh arti. Sudah jadi rahasia umum kalau kategori desil di Indonesia ini kadang punya daya magis tersendiri—orang yang jelas-jelas mampu mendadak punya “surat keterangan tidak mampu” berkat kepiawaian melobi tingkat kelurahan.

​Semoga saja lewat sensus ekonomi dan perbaikan DTSEN yang sedang digarap pemerintah ini, julukan “bansos salah alamat” bisa pensiun dini. Biar uang negara yang ribuan triliun itu benar-benar mendarat di dompet rakyat yang gulung tikar, bukan di saku sultan-sultan terselubung!

Foto cover: ilustrasi (GETNEWS.)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *