Nusa Tenggara Barat STATISTIK

Pariwisata NTB: Hotel Berbintang Berjaya, Non-Bintang Masih Berjuang

MATARAM — Wajah pariwisata Nusa Tenggara Barat (NTB) menunjukkan gairah yang kontras pada periode Maret 2026. Berdasarkan rilis terbaru BPS, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel bintang meroket tajam, mengindikasikan bahwa Lombok dan Sumbawa semakin menjadi destinasi favorit bagi segmen pasar menengah ke atas dan wisatawan korporasi.

​Data menunjukkan TPK hotel bintang mencapai 43,11%, melonjak signifikan sebesar 12,23 poin dibandingkan bulan sebelumnya. Namun, pemandangan berbeda terlihat di hotel non-bintang yang hanya mencatatkan TPK sebesar 17,54%. Kesenjangan yang lebar ini memberikan sinyal bahwa limpahan berkah dari event internasional dan perjalanan dinas belum sepenuhnya “menetes” ke penginapan rakyat dan homestay di desa wisata.

Berikut adalah Audit Strategis GetNews terkait performa pariwisata NTB:

Strategic Audit: NTB Tourism Performance May 2026

Indikator PariwisataCapaian AktualVonis Strategis
TPK Hotel Bintang43,11% (+12,23 poin)STRONG RECOVERY
TPK Hotel Non-Bintang17,54% (-3,28 poin)MARKET DISPARITY
Lama Menginap (RLM)1,81 HariSHORT STAY PATTERN

Catatan Investigatif: PR “Length of Stay”

​Meskipun okupansi hotel bintang melonjak, tantangan klasik pariwisata NTB tetap muncul: Rata-rata Lama Menginap (RLM) tamu hanya bertengger di angka 1,81 hari. Wisatawan masih memperlakukan NTB sebagai destinasi transit atau short-trip, bukan destinasi menetap yang lama.

​Hal ini berbanding lurus dengan tingginya mobilitas di bandara. Dengan jumlah penumpang angkutan udara yang mencapai 221.782 orang (naik 18,74%), NTB sebenarnya sedang dibanjiri orang, namun mereka belum cukup “terikat” untuk tinggal lebih lama dan membelanjakan uang lebih banyak di sektor ekonomi kreatif lokal.

​Kesimpulan

​Tumbuhnya okupansi hotel bintang adalah prestasi, namun defisitnya perhatian pada hotel non-bintang adalah peringatan. Agar ekonomi pariwisata benar-benar inklusif, pemerintah daerah perlu lebih agresif mempromosikan wisata berbasis komunitas yang mampu menahan wisatawan tinggal lebih lama, bukan sekadar datang untuk selfie lalu terbang kembali ke Jakarta atau Bali.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *