BELU — Eksotisme kebudayaan di beranda terdepan Indonesia kembali memancarkan magisnya. Menjelang pembukaan ajang pariwisata tahunan Festival Fulan Fehan 2026, para pemangku adat (Rai Bot) bersama tokoh sosiokultural Kabupaten Belu menggelar ritual adat sakral bertajuk “Menembus Tujuh Pintu Leluhur”. Upacara ritualistik ini dilaksanakan di kawasan sakral padang sabana Fulan Fehan, Kecamatan Lamaknen, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Ritual pra-acara ini diposisikan sebagai instrumen spiritual wajib untuk memohon restu spiritual (permisi) kepada para leluhur (umat lulik) dan penjaga alam setempat. Langkah ini diambil guna menjamin kelancaran, keselamatan, serta kesuksesan seluruh rangkaian pagelaran festival seni pertunjukan kolosal yang melibatkan ribuan penari adat di wilayah tapal batas negara RI-Timor Leste tersebut.
Secara antropologis, prosesi “Menembus Tujuh Pintu Leluhur” dipimpin oleh para tetua adat lintas suku dengan mengenakan pakaian adat tenun ikat khas Belu secara rigid. Mereka merapalkan mantra (kesan) kuno sembari mempersembahkan sirih pinang, hewan kurban, serta tuak tradisional di tujuh titik situs pemujaan purba yang secara turun-temurun diyakini sebagai pintu gerbang gaib menuju peradaban para leluhur Lamaknen.
Setiap pintu yang dilewati dalam ritual ini merepresentasikan klaster sejarah, nilai sosiologis, serta kesepakatan perdamaian antarsuku di masa lampau. Pembersihan diri dan penyelarasan energi alam ini krusial dilakukan mengingat lokasi utama Festival Fulan Fehan berada di ketinggian bentang alam yang sarat akan situs-situs sejarah megalitikum benteng pertahanan tradisional tujuh lapis (Benteng Makes).
Pemerintah Kabupaten Belu bersama Kementerian Kebudayaan menegaskan bahwa Festival Fulan Fehan 2026 bukan sekadar ajang tontonan pariwisata komersial biasa. Festival ini dirancang sebagai wadah living heritage yang merekatkan kembali simpul-simpul kebudayaan masyarakat perbatasan, sekaligus mengeskalasi roda ekonomi kreatif lokal melalui kedatangan wisatawan domestik maupun mancanegara.
Melalui keaslian ritual pembuka ini, Festival Fulan Fehan 2026 siap menyuguhkan harmoni seni budaya yang berdaulat. Kehadiran ribuan penari Likurai kolosal di atas permadani hijau sabana Fulan Fehan nantinya diharapkan mampu menggaungkan pesan perdamaian, nasionalisme penjaga perbatasan, serta ketahanan identitas kultural etnis nusantara di mata dunia.




