GET PLANET Nusa Tenggara Barat

Menolak Kereta Gantung Rinjani: Menjaga Harga Keaslian dan Warisan Ekologis Masa Depan

MATARAM — Rencana pembangunan infrastruktur kereta gantung menuju kawasan Gunung Rinjani senilai Rp6,7 triliun menuai gelombang penolakan keras dari berbagai elemen masyarakat dan pemerhati lingkungan. Penolakan ini bukan sekadar resistensi terhadap investasi, melainkan sebuah sikap ideologis untuk menjaga status Rinjani sebagai benteng ekologis dan ruang spiritual yang sakral bagi masyarakat Sasak.


​Kampanye “Menolak Kereta Gantung Rinjani” menekankan bahwa keaslian alam adalah warisan yang tidak ternilai harganya dan tidak boleh dikorbankan demi keuntungan ekonomi jangka pendek.


Rinjani: Ruang Hidup, Budaya, dan Warisan Dunia


​Gunung Rinjani bukan hanya sekadar panorama pendakian, melainkan entitas vital yang memegang tiga fungsi krusial bagi Pulau Lombok:



  • Mata Air Kehidupan: Lereng Rinjani adalah benteng ekologis yang menjaga ketersediaan aliran air bagi seluruh penduduk Lombok. Pembangunan masif di zona sensitif dikhawatirkan akan merusak tatanan hidrologi alami.

  • Kesakralan Budaya: Bagi masyarakat Sasak, Rinjani adalah ruang spiritual yang harus dihormati dengan adab. Mengubahnya menjadi komoditas wisata instan dianggap mencederai nilai-nilai luhur tersebut.

  • Status UNESCO Global Geopark: Sebagai bagian dari jaringan Geopark Dunia, perlindungan terhadap ekosistem asli adalah mandat mutlak yang harus dijalankan di atas logika pembangunan utilitas.


Menimbang Risiko Investasi: Erosi Makna Perjuangan


​Para penolak proyek ini menyoroti bahwa teknologi instan seperti kereta gantung akan menghilangkan esensi pendakian Rinjani yang selama ini dikenal sebagai proses transformasi batin melalui kesabaran dan perjuangan fisik. Selain itu, ancaman Erosi Ekologis akibat pembukaan akses dan pembangunan utilitas di kawasan konservasi menjadi risiko nyata yang sulit dimitigasi.


​Visi pembangunan ke depan seharusnya berfokus pada Eco-Tourism yang berkelanjutan, seperti memperkuat pemberdayaan pemandu lokal (porter dan guide), memperbaiki tata kelola pendakian yang sudah ada, serta menjaga kesunyian alam. Penolakan ini menjadi bukti kedewasaan kepemimpinan dan masyarakat dalam memprioritaskan keberlanjutan masa depan di atas keuntungan sesaat.


Strategic Audit: Rinjani Cable Car Project Assessment 2026

Variabel DampakAnalisis Risiko & NilaiVonis Strategis
Nilai InvestasiEstimasi Rp6,7 Triliun (Pembangunan Utilitas Kawasan).HIGH-RISK CAPITAL
Status KonservasiUNESCO Global Geopark & Zona Penyangga Mata Air.ECOLOGICAL MANDATE
Dampak SosialPotensi Degradasi Ekonomi Porter & Nilai Sakral Budaya.CULTURAL DEGRADATION
Foto cover: Danau Segara Anak Gunung Rinjani (Edmond Ken)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *