AMBARA

Sentimen “Tipis Kuping” dan Ujian Kebenaran Pahit buat Pak Prabowo

MEDIA BARAT​ kembali berulah dengan analisisnya yang senget dan tajam kayak silet cukur. Kali ini, majalah mingguan bergengsi asal Inggris, The Economist, menurunkan laporan utama yang isinya mempreteli habis-habisan gaya kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Dengan pilihan kata yang sama sekali tidak ada sopan-santunnya menurut adat ketimuran, mereka menyebut nasib Indonesia kini digantungkan pada seorang mantan jenderal yang “tipis kuping” alias gampang tersinggung, plus punya rekam jejak HAM yang buram.

​Bagi media asing, Pak Presiden adalah sosok yang butuh dikasih jamu pahit berupa kebenaran-kebenaran yang tidak mengenakkan (unpalatable truths). Tentu saja, artikel ini langsung memicu kasak-kusuk di kalangan elite politik kita yang biasanya langsung pasang badan kalau bos besar disentil pihak luar.

Ketika Jurnalisme Asing Berubah Jadi Guru BP

​Membaca ulasan tersebut, kita seperti melihat guru BP sekolah yang sedang mengomeli murid paling bandel di kelas. The Economist tampaknya gemas dengan kecenderungan politik domestik yang makin sentralistis dan bagaimana lingkaran istana memperlakukan kritik. Frasa “thin-skinned” disematkan bukan tanpa alasan; itu adalah sindiran telak bagi kebiasaan respons cepat (dan kadang baperan) dari mesin siber maupun pendukung setia pemerintah setiap kali ada narasi yang kurang mengenakkan hati sang jenderal.

​Namun, mari kita tanyakan pada rumput yang bergoyang di pedesaan Indonesia: apakah mereka peduli dengan ulasan berbahasa Inggris berbayar (paywall) tersebut? Kemungkinan besar tidak. Selama harga pupuk tidak naik ugal-ugalan dan bansos cair tepat waktu, mau media internasional menyebut pemimpin mereka “tipis kuping” atau “tebal jidat”, urusan perut tetap nomor satu.

Audit Strategis: Sengatan Kritik Asing terhadap Istana

Aspek StrategisKondisi LapanganAnalisis GetNews
Citra InternasionalNarasi media Barat konsisten menyoroti isu HAM masa lalu.Risiko penurunan persepsi tata kelola dari investor Barat yang sensitif isu-isu demokrasi.
Resiliensi DomestikKritik dibenturkan dengan narasi kedaulatan dan nasionalisme.Isu moralitas internasional jarang bergeser menjadi disinsentif politik riil di tingkat domestik.
Manajemen KritikKecenderungan respons defensif dari mesin siber pendukung pemerintah.Justru memperkuat tesis luar negeri mengenai watak kekuasaan yang alergi terhadap disonansi.
Sumber: Audit Strategis Indonesia Insights – GetNews Premium Format

Penutup: Jamu Pahit dari London

​Pada akhirnya, kritik dari luar negeri ini ibarat jamu godok tradisional: baunya menyengat, rasanya pahit luar biasa, tapi kadang ada khasiatnya kalau mau diminum secara jernih. Pemimpin yang kuat tidak lahir dari ruang hampa yang isinya cuma pujian “siap Pak, laksanakan Pak!” dari para pembantu yang cari muka.

​Mungkin ada baiknya para penasihat istana sesekali membelikan Pak Presiden langganan majalah ini, ketimbang sibuk menyaring berita agar yang masuk ke meja kerja beliau hanyalah laporan yang indah-indah saja. Sebab, musuh terbesar seorang penguasa bukanlah kritikus yang galak, melainkan kepungan para penjilat yang membuat realitas di luar istana tampak fana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *