MATARAM – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (Pemprov NTB) baru saja merilis cetak biru yang mengawinkan dua aset terbesar daerah secara radikal. Kawasan Geopark Rinjani di Pulau Lombok dan Geopark Tambora di Pulau Sumbawa resmi ditetapkan sebagai simpul utama pengembangan kebudayaan daerah. Kebijakan ini menandai pergeseran peta jalan pembangunan: lanskap vulkanis tidak lagi dipandang sebagai ruang ekologi yang pasif, melainkan sebagai jangkar kultural yang hidup.
Melampaui Sertifikasi UNESCO
Langkah Pemprov ini merupakan dekonstruksi terhadap cara pandang konvensional yang kerap mereduksi geopark sebatas destinasi pendakian atau laboratorium riset batuan purba. Dengan menyuntikkan dimensi kebudayaan, lingkaran Rinjani dan Tambora kini diposisikan sebagai ruang pertahanan bagi perlindungan kearifan lokal (indigenous knowledge).
Kebijakan ini menjadi benteng bagi keberlangsungan ritual adat dan ekspresi seni tiga suku utama: Sasak, Samawa, dan Mbojo (Sasambo). Pemprov menyadari bahwa tanpa perlindungan terhadap manusia dan tradisinya, pengakuan internasional dari UNESCO hanya akan menjadi etalase konservasi yang hampa spiritualitas.

Benteng Sosial Melawan Komodifikasi
Di tengah serbuan modernisasi yang kian agresif mencerabut akar budaya generasi muda, integrasi ini menawarkan model pariwisata berbasis masyarakat (community-based tourism) sebagai penangkal. Kekuatan pariwisata berkelanjutan NTB kini digeser dari sekadar menjual panorama visual menjadi kedalaman interaksi kultural.
Strategi ini tidak hanya bertujuan menciptakan dampak ekonomi berganda (multiplier effect) bagi warga lingkar koordinat, tetapi juga mengunci ruang hidup lokal agar tidak mudah diakuisisi oleh logika pasar industri pariwisata massal yang eksploitatif.




