PANGGUNG MUSYAWARAH Nasional (Munas) HIPMI di Lampung mendadak berubah menjadi arena kuis matematika tingkat sekolah dasar yang menggemaskan. Presiden Prabowo Subianto sukses mencuri perhatian publik bukan lewat paparan target pertumbuhan ekonomi yang muluk-muluk, melainkan melalui sebuah insiden kalkulasi mandiri yang berujung ambyar di atas podium.
Suasana formal khas pertemuan para taipan muda langsung cair ketika sang Presiden mencoba bermanuver menggunakan ilmu cocoklogi numerolog. Prabowo berusaha mengaitkan tanggal dan bulan pelaksanaan acara dengan angka 8—digit sakral yang selama ini dianggap sebagai angka keberuntungan dalam karier politiknya. Sialnya, kalkulator di kepala sang Jenderal tampaknya sedang mengalami glitch sesaat, menghasilkan rumus penjumlahan sederhana yang melompat dari hukum matematika universal.
Menyadari rumusnya keliru dan menghasilkan angka yang bukan delapan, Prabowo tidak lantas memanggil menteri ekonomi untuk merevisi data. Dengan jurus kedewasaan politik yang matang, ia langsung meralat ucapannya sendiri sembari melempar senyum lebar. Langkah spontan ini langsung disambut gemuruh tawa dan tepuk tangan riuh dari para pengusaha yang hadir, seolah memaklumi bahwa urusan menjumlahkan tanggal memang kadang lebih rumit ketimbang menghitung kuota impor.
Di jagat maya, potongan video berdurasi beberapa detik tersebut langsung menjadi komoditas hiburan yang masif. Warganet, yang biasanya gemar baku hantam urusan politik, kali ini kompak bersikap humanis. Mayoritas menilai kesalahan hitung itu sebagai hal manusiawi. Lagipula, jika menteri keuangan saja bisa salah memprediksi stabilitas rupiah hingga menembus angka Rp 18.044, maka salah hitung matematika dasar oleh seorang presiden tentu sangat layak untuk dimaafkan.
Kejadian di Lampung ini menjadi pengingat taktis bahwa di balik ketegasan retorika politik luar negeri yang gemar mendatangi undangan Trump hingga Putin, Prabowo tetaplah seorang manusia biasa yang bisa pening jika mendadak disuruh berhitung cepat di atas panggung. Pidato penting soal peran HIPMI dalam membangun ekonomi nasional memang sarat akan bobot makro. Namun, publik tampaknya akan lebih mengingat Munas tahun ini sebagai momen di mana angka delapan berhasil memaksa seorang kepala negara untuk meralat ucapannya sendiri tanpa perlu intervensi Mahkamah Konstitusi.




