GETNEWS.CO.ID, Mataram — Sektor pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mencatatkan dualisme performa yang kontradiktif pada periode Mei 2026. Berdasarkan laporan resmi Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB, pergerakan wisatawan nusantara (wisnus) mengalami lonjakan signifikan sebesar 10,49 persen secara bulanan (month-to-month), menyentuh angka 1.332.393 orang.
Kendati arus pergerakan pelancong lokal ke pulau seribu masjid ini terus menebal, industri perhotelan justru dihadapkan pada indikator retensi yang mencemaskan. Rata-rata Lama Menginap Tamu (RLM) hotel berbintang pada Mei 2026 terpangkas menjadi 1,86 hari dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 1,93 hari. Kontradiksi ini mencerminkan fenomena pelancong kilat (short-stay traveler) yang minim belanja durasi tinggal—tantangan klasik bagi target quality tourism regional.
Eksodus Wisnus ke Mataram dan Lombok Timur
Dominasi spasial pergerakan wisnus masih berpusat pada episentrum ekonomi kota. Kota Mataram menjadi wilayah tujuan favorit utama dengan menyerap kunjungan terbanyak mencapai 318.661 orang sepanjang bulan Mei.
Namun, akselerasi pertumbuhan tertinggi justru dicatatkan oleh wilayah sekunder:
- Kabupaten Lombok Utara: Mengalami pertumbuhan kunjungan bulanan (m-to-m) tertinggi sebesar 22,19 persen dengan total 106.813 kunjungan.
- Kabupaten Lombok Timur: Mengekor ketat dengan lonjakan 21,81 persen, mendatangkan 227.533 pelancong nusantara.
Di seberang ceruk pasar, performa kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) yang masuk melalui gerbang udara utama, Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM), justru mencatatkan kontraksi. Jumlah wisman pada Mei 2026 melorot menjadi 7.987 orang dari bulan April sebelumnya yang sempat menyentuh 8.686 orang. Arus wisman di paruh kuartal kedua ini didominasi kuat oleh turis regional ASEAN sebanyak 4.030 orang, disusul pelancong Eropa di angka 2.489 orang.
Okupansi dan Pilihan Kelas Kamar
Sisi pasokan akomodasi terbantu oleh penguatan Tingkat Penghuni Kamar (TPK) hotel berbintang yang terkerek ke level 41,07 persen, naik 5,01 poin dibanding April 2026. Preferensi kelas menginap didominasi oleh segmen menengah atas, di mana konsumen lebih selektif memilih fasilitas berstandar tinggi.
| Klasifikasi Hotel | Tingkat Penghuni Kamar (TPK) | Rata-Rata Lama Menginap (RLM) |
|---|---|---|
| Hotel Bintang 3 | 43,72% (Tertinggi) | 1,95 Hari |
| Hotel Bintang 5 | 42,19% | 1,99 Hari (Terlama) |
| Hotel Bintang 1 | 26,58% (Terendah) | 1,20 Hari (Tersingkat) |
| Hotel Non-Bintang | 27,99% | 1,55 Hari |
Bagi otoritas pariwisata NTB, potret data Berita Resmi Statistik BRS No. 44/07/52/Th. XX ini menjadi pekerjaan rumah yang benderang. Menambah volume kepala wisatawan terbukti mudah dicapai melalui promosi dan konektivitas domestik yang kuat. Tantangan struktural yang sesungguhnya adalah merumuskan atraksi penahan agar para pelancong bersedia membuka dompet mereka lebih lama di hotel-hotel Lombok, alih-alih sekadar menjadikan pulau ini destinasi singgah akhir pekan yang tergesa-gesa.




