AMBARA

Iran Tak Biarkan Satu Tetes Minyak Lewat Selat Hormuz: AS yang Berantem, Kita yang Pusing

​ADA SATU HUKUM alam yang tidak pernah diajarkan di sekolah, tapi selalu terbukti valid di dunia nyata: kalau Iran dan Amerika Serikat lagi saling gertak di Timur Tengah, yang pusing duluan justru abang-abang penjual bensin eceran di pinggir jalan Pantura.

​Baru-baru ini, Garda Revolusi Iran (IRGC) mengeluarkan gertakan yang bikin gemetar para pimpinan dunia: mereka berjanji tidak akan membiarkan satu tetes minyak pun lolos melewati Selat Hormuz selama Amerika Serikat masih hobi meluncurkan serangan.

​Bagi orang awam, ancaman “satu tetes minyak” ini mungkin terdengar bagai drama politik berlebihan. Tapi buat yang paham peta geopolitik—atau minimal paham kenapa harga bahan bakar minyak tiba-tiba naik—Selat Hormuz itu bukan sekadar celah laut biasa. Itu adalah leher dari rantai pasok energi global. Sekitar seperlima minyak dunia lalu-lalang di celah sempit itu setiap hari.

​Begitu Iran memutuskan untuk “memasang gembok” di Selat Hormuz, ibaratnya mereka sedang mematikan sakelar listrik di rumah tetangga yang sedang asyik pesta. Imbasnya tidak cuma bikin mesin militer AS mikir dua kali, tapi juga bikin harga minyak mentah dunia melambung tinggi secepat kilat.

​Lalu, apa urusannya sama kita yang tinggal ribuan kilometer jauhnya di Indonesia?

​Nah, di sinilah lucunya. Dunia geopolitik itu terhubung lewat tali yang sangat peka. Ketika dua negara adidaya dan negara berpengaruh saling kunci di perairan Teluk, efek domino-nya langsung berasa sampai ke dompet rakyat jelata. Minyak mentah makin mahal, biaya logistik membengkak, harga sembako ikut naik, dan pada akhirnya subsidi BBM di dalam negeri bakal ketar-ketir.

​Amerika yang berantem, Iran yang mengancam, tapi dompet kita yang ikut kebobolan.

​Sikap tegas IRGC ini seolah menguji seberapa tahan napas ekonomi barat tanpa pasokan energi dari Teluk. Ini gaya gertakan khas Timur Tengah: kalau kami tidak bisa tenang, kalian juga tidak boleh kenyang.

​Selat Hormuz kini resmi jadi gelanggang adu gengsi. Apakah AS akan melunak, atau justru makin memperkeruh suasana? Yang jelas, selama Selat Hormuz masih jadi bahan sandera, siap-siap saja kita menahan napas setiap kali mampir ke SPBU. Sungguh, hidup di zaman sekarang itu berat: perang di Samudra, sesak napasnya di dompet sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *