AMBARA

Safari Politik Jokowi Menjelang 2029: Dari Gelar Adat Sampai Mampir Rakorda, Pensiunan Jaman Now Memang Beda

Mantan Presiden ke-7 RI Joko Widodo saat menerima gelar adat di NTT (istimewa)

​ADA TEORI TIDAK TERTULIS di negeri ini: kalau orang biasa pensiun dari pekerjaannya, kegiatan favorit mereka biasanya berkisar antara momong cucu, merawat burung perkutut, atau paling ekstrem bikin grup WhatsApp reuni SMP. Tapi hukum itu sama sekali tidak berlaku bagi mantan presiden Republik Indonesia.

​Alih-alih duduk manis menikmati hari tua di beranda rumah sambil minum teh manis, Presiden ke-7 RI Joko Widodo justru sibuk keliling Indonesia dengan gaya rockstar lewat berbagai agenda safari daerah.

​Belakangan, agenda jalan-jalan beliau mendadak naik level dan berbau mistis-kultural. Bayangkan saja, dari ujung barat sampai timur, Pak Jokowi dibikin sibuk menerima aneka rupa gelar kebangsawanan. Di Lampung (26–28 Juni 2026), beliau dinobatkan sebagai “Baginda Pemuka Bangsa”. Belum selesai urusan selendang adat Lampung, akhir Juli kemarin beliau mendarat di NTT dan resmi diangkat menjadi “Sesepuh Raja-Raja Timor”.

​Luar biasa sekali. Mantan kepala negara kita ini rupanya sedang merintis karier sebagai raja Nusantara versi modern.

​Tentu saja, bagi para pengamat politik yang kurang kerjaan—tapi analisisnya sering bikin ketar-ketir para elite—kunjungan berbalut tradisi ini dibaca bukan sekadar ajang silaturahmi budaya. Ada pesan politik yang terpampang nyata di balik kilatan blitz kamera dan prosesi pemakaian mahkota adat.

​Analis PARA Syndicate, Ari Nurcahyo, sampai harus mengerahkan tenaga analisisnya untuk menyimpulkan hal yang sebenarnya sudah ditebak banyak orang: pengaruh politik Jokowi belum pudar sama sekali.

​Menurut Pak Ari, sambutan meriah di berbagai daerah itu adalah cara halus sang mantan presiden untuk berpesan kepada para elite di Jakarta: “Halo, kursi panas boleh sudah berganti, tapi suara di akar rumput masih di kantong saya, lho!”

​”Jokowi ingin menunjukkan bahwa pengaruh politiknya tidak memudar pasca-lengser pada Oktober 2024,” ujar Ari.

​Tentu saja, punya basis dukungan akar rumput yang militan itu penting untuk menjaga bargaining power alias daya tawar politik. Apalagi, di sela-sela agenda penobatan gelar adat yang megah itu, beliau sempat-sempatnya mampir ke Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) PSI Kota Kupang buat kasih pengarahan langsung ke kader.

​Ini kombinasi hobi yang sangat jenius: siang hari dihormati bak raja adat setempat, sore harinya jadi mentor partai.

​Fenomena ini menyadarkan kita bahwa di Indonesia, pensiun dari jabatan politik itu sifatnya cuma administratif. Pengaruhnya? Tetap jalan terus, bahkan kadang makin aktif merajut peta kekuatan menuju 2029.

​Buat para politisi yang sedang duduk tenang di singgasana kekuasaan saat ini, mungkin ada baiknya sesekali ikut check-in hotel di daerah sambil lihat sambutan rakyat. Siapa tahu, kalian sadar bahwa kursi empuk di Senayan atau Istana itu sewaktu-waktu bisa terasa gerah kalau sang “Sesepuh Raja-Raja” sudah mulai turun gunung!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *