AMBARA

Niat Hancurkan Iran, AS-Israel Malah Kena Prank di Selat Hormuz

​ADA HUKUM BESI dalam dunia sinetron kolosal maupun strategi geopolitik global: jangan pernah sok-sokan bikin rencana besar kalau akhirnya cuma bikin malu diri sendiri di hadapan penonton satu dunia.

​Itulah kira-kira moral cerita yang bisa kita petik dari krisis Timur Tengah belakangan ini. Berdasarkan leak alias kebocoran dokumen dan informasi intelijen panas yang baru saja menyeruak dari Muscat, Teheran, hingga Washington, ada satu kenyataan pahit yang harus ditelan bulat-bulat oleh kubu Gedung Putih dan Tel Aviv: kesepakatan antara Iran dan Oman untuk membuka kembali jalur vital Selat Hormuz dikabarkan sudah deal alias hampir diketok palu!

​Artinya apa? Mari kita pelan-pelan mengeja kenyataan ini supaya para pendukung garis keras Donald Trump dan Benjamin Netanyahu tidak mendadak jantungan: perang mati-matian yang digadang-gadang bakal menumbangkan atau melucuti taring Republik Islam Iran itu ternyata berakhir dengan ekspansi pengaruh regional Iran yang makin menggurita.

​Mereka kalah telak. Iran keluar sebagai pemenang sambil nyengir lebar.

​Kok bisa, sih? Padahal narasi awalnya kan mau “menghukum rezim”, “menjinakkan nuklir”, atau paling tidak bikin Iran bertekuk lutut. Tapi rupanya, teori konspirasi tingkat dewa ala Hollywood itu hancur lebur di hadapan realitas lapangan.

​Lewat drama negosiasi tingkat tinggi yang difasilitasi Oman—sahabat baik semua bangsa yang hobinya jadi penengah konflik—Iran justru berhasil mengamankan kendali dan menegaskan posisinya sebagai penguasa lorong air paling strategis di muka bumi. Ketika Selat Hormuz dibuka kembali atas restu mereka, dunia internasional langsung sadar: mau dikeroyok pakai sanksi ekonomi sekeras apapun, kalau urusan jalur logistik minyak global kuncinya ada di kantong Teheran, ya mau tidak mau mereka harus diajak ngopi bareng.

​Jadi, buat Tuan Trump dan Bibi Netanyahu yang kemarin koar-koar paling lantang di panggung internasional, mungkin ada baiknya kalian mulai bikin grup WhatsApp baru khusus evaluasi strategi. Judul grupnya pas banget: “Kalah Perang, Menang Nyesel”.

​Sementara itu, di Teheran, teh hangat sepertinya terasa jauh lebih manis diminum sore ini!

Foto cover: Tentara Bersenjata Iran (Masoud Shahrestani)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *