GET CORNER

Politik dan “Arisan Kekuasaan”: Refleksi Tajam W.S. Rendra

​Bagi sebagian orang, politik digambarkan sebagai panggung idealisme tempat cita-cita luhur dan kesejahteraan rakyat diperjuangkan. Namun, sastrawan besar sekaligus “Si Burung Merak” W.S. Rendra punya sudut pandang yang jauh lebih telanjang dan menohok.

​Melalui kalimat tajamnya, Rendra pernah berujar: “Politik adalah cara menggulingkan kekuasaan, untuk menikmati giliran berkuasa.”

​Pernyataan ini bukan sekadar bentuk sinisme, melainkan sebuah otokritik yang mendalam terhadap watak kekuasaan. Rendra membedah dinamika politik praktis ke dalam dua poin esensial:

  • Politik sebagai Arena Perebutan: Kalimat awal menyoroti bagaimana politik kerap kali direduksi sekadar menjadi strategi menjatuhkan lawan dan merebut kendali, bukan lagi soal adu gagasan atau kebijakan publik yang memihak rakyat.
  • Siklus “Giliran”: Bagian penutup kalimat ini memperlihatkan ironi terbesar: ketika rezim berganti, substansi kebijakannya sering kali tidak banyak berubah. Yang berganti hanyalah “aktornya”—siapa yang duduk di kursi empuk dan menikmati fasilitas kekuasaan.

​Pelajaran untuk Kita Semua

​Kritik sosial yang dilontarkan Rendra ini mengajak kita untuk tidak menjadi masyarakat yang naif. Tanpa adanya kontrol sosial yang kuat dari warga negara, politik berisiko terperangkap dalam lingkaran setan (vicious circle) di mana pergantian kepemimpinan terasa seperti sebuah “arisan” antarelite semata.

​Pada akhirnya, suara rakyat tidak boleh hanya menjadi kendaraan moral saat perebutan kekuasaan terjadi, lalu dilupakan ketika giliran berkuasa telah resmi di tangan.

Foto cover: W.S Rendra (ist)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *