AMBARA

Dilema Rumah Adat Sade Pasca-Kebakaran: Mau Tetap “Aesthetic” Pakai Ilalang atau Syok Terapi Kebakaran Lagi?

​Tragedi kebakaran hebat yang meratakan 120 rumah adat, art shop, masjid, hingga museum di Desa Adat Sade, Pujut, Lombok Tengah, meninggalkan suka duka yang bikin elus dada. Bagaimana tidak? Rumah adat ikonik yang tadinya begitu eksotis mendadak amblas jadi puing-puing hanya dalam hitungan menit gara-gara materialnya yang serba “ramah api”.

​Melansir respons cepat dari Pemkab Lombok Tengah, Bupati H. Lalu Pathul Bahri mulai melempar wacana yang cukup radikal: gimana kalau atap ilalang dan dinding bambu yang mudah terbakar itu diganti pakai bahan modern yang lebih tahan api?

​Tentu saja, rencana ini harus melewati ritual diskusi panjang dulu bersama para budayawan, ahli, dan tokoh adat setempat—biar tidak dituduh “merusak estetika warisan leluhur” demi mengejar seng baja ringan.

​Wacana penggantian bahan bangunan ini langsung membuka perdebatan seru antara mempertahankan tradisi atau mengalah pada realitas di lapangan:

  1. Geng Aesthetic Budaya vs Kenyataan Pahit Harus diakui, daya tarik Desa Adat Sade itu ya ada pada atap ilalang dan dinding bambunya yang khas (plus tradisi lumur kotoran kerbau yang fenomenal itu). Kalau atapnya mendadak diganti spandek atau genteng metal, hilang sudah sensasi “kembali ke zaman dulu” yang dicari turis mancanegara.
  2. Krisis Bahan: Ilalang Sekarang Lebih Langka dari Jodoh! Warga lokal sendiri membocorkan rahasia dapur yang tak kalah kocak sekaligus miris. Soal biaya rekonstruksi rumah adat sebetulnya warga bisa usahakan, tapi bahan ilalangnya itu loh yang sekarang makin ghoib! Warga Sade bahkan sampai harus pre-order (PO) ilalang ke desa tetangga, dan itu pun belum tentu dapet stoknya.
  3. Pilih Rumah Adat Autentik atau Rumah Tahan Api? Kebakaran kilat kemarin jadi bukti kalau material tradisional memang super rawan. Kalau ada angin kencang sedikit saja, ilalang kering langsung menyambut api dengan suka cita. Penataan ulang pakai bahan tahan api mungkin bikin tampilannya agak beda, tapi minimal warga tidak perlu senut-senut tiap kali ada yang menyalakan korek api di dekat rumah.

​Kini tinggal menunggu bagaimana hasil musyawarah adat Sade dengan Pemkab Loteng. Apakah Desa Adat Sade akan tetap setia pada atap ilalang sambil siaga penyemprot air di setiap sudut, atau mengalah pada zaman demi keamanan bersama? Kita tunggu saja babak selanjutnya!

Foto cover: Sebuah sepeda saksi kebakaran yang meluluhlantakkan Desa Adat Sade pada Sabtu 22/8/2026 (zetbeka/getnews.)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *