Sinetron komedi-tragedi bertajuk “Apartemen Misterius Lapas Cibinong” resmi mencapai puncaknya di Gedung Senayan. Setelah kemarin sempat ngeles dengan gaya bahasa formal yang menyejukkan hati, jajaran pimpinan Lapas Kelas IIA Cibinong akhirnya merasakan dinginnya ruang Rapat Dengar Pendapat (RDP) DPR yang mendadak berubah jadi ruang sidang dakwaan.
Melansir laporan dari Tribunnews.com, suasana RDP DPR langsung membara dalam hitungan detik. Anggota dewan yang sudah kenyang makan asam garam taktik birokrasi tanpa ampun memarahi Kalapas Cibinong dan rombongannya.
Kalimat legendaris “Jangan bohong!” pun bergema keras di mikrofon, memotong narasi manis pejabat pemasyarakatan yang masih keukeuh bilang bahwa deretan hunian kinclong berstandar apartemen itu hanyalah sekadar “rumah dinas dan fasilitas asimilasi”.
Ketika Jurus Ngeles Nabrak Tembok Tebal Senayan
Di hadapan kamera media, alibi “itu kan cuma rumah dinas Pak Kalapas” mungkin kedengarannya cukup anggun. Tapi membawanya ke hadapan anggota DPR yang hobi menguliti anggaran adalah sebuah kesalahan taktik yang sangat fatal:
- Rumah Dinas Rasa Penthouse: Anggota DPR dibuat terheran-heran dengan logika pengelola lapas. Masa iya rumah dinas dan tempat asimilasi narapidana fasilitasnya lengkap, kinclong, dan rapi ala unit apartemen sewaan di kawasan CBD, sementara blok warga binaan reguler desak-desakan mirip sarden kaleng?
- Drama Pintu Digembok: Aksi petugas lapas yang sempat menghadang dan mengunci pintu saat Ombudsman RI membawa seragam lengkap plus surat resmi sidak jadi bahan empuk buat dibantai. “Kalau tidak ada apa-apa, kenapa harus digembok pas pengawas datang?” tanya dewan dengan nada tinggi.
- Gagap Menjawab Cecaran: Di bawah brondongan pertanyaan tajam, penjelasan Kalapas dinilai berputar-putar seperti gasing. Kata “bohong” pun terlontar dari meja pimpinan sidang sebagai bentuk frustrasi melihat instansi negara yang hobi merangkai alasan.
Pelajaran Penting: Jangan Main-Main Sama Indra Keenam Anggota DPR
Kejadian di Senayan ini membuktikan bahwa masyarakat—termasuk para wakilnya di DPR—sudah punya trust issue level akut kalau bicara soal fasilitas penjara. Mau dibilang rumah dinas kek, fasilitas asimilasi kek, atau sanggar seni sekalipun, kalau di dalamnya ada sofa empuk, kulkas, dan AC dingin di dalam kompleks penjara, publik bakal otomatis mencium aroma fasilitas VIP narapidana berkantong tebal.
Kini Kalapas Cibinong dan Ditjenpas disarankan untuk berhenti pakai jurus puitis saat klarifikasi. Daripada disemprot “jangan bohong” jilid dua di RDP berikutnya, lebih baik jujur saja dari awal—atau minimal, cepat-cepat ubah desain “rumah dinas apartemen” itu jadi barak ronda!




