LONDON — Media ekonomi terkemuka The Economist kembali menyoroti efektivitas kebijakan ekonomi Presiden Indonesia Prabowo Subianto. Dalam analisis terbarunya, media tersebut menilai pendekatan populistik yang diterapkan pemerintahannya dinilai belum mampu menyelesaikan berbagai persoalan ekonomi struktural mendasar di tanah air.
The Economist mencatat tingkat dukungan publik terhadap kepemimpinan Prabowo merosot hingga ke kisaran 45 persen seiring genap dua tahun masa pemerintahannya. Penurunan kepercayaan publik dan ketidakpastian di kalangan pelaku pasar tersebut dipicu oleh kekhawatiran atas tingginya beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk membiayai program-program sosial berskala besar.
Meskipun pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat masih menunjukkan daya tahan, para ekonom dan pengamat internasional menegaskan bahwa ketergantungan pada program populistik belanja pemerintah tanpa ekspansi penerimaan negara yang memadai tidak akan cukup untuk membawa Indonesia melompat menjadi negara berpenghasilan tinggi.




