KEPUTUSAN PRESIDEN Prabowo Subianto mendirikan Komando Daerah Militer (Kodam) XXX/Rinambora di Nusa Tenggara Barat (NTB) bukan sekadar urusan seremonial pemotongan pita atau pembagian wilayah administrasi militer baru. Langkah ini menandai pergeseran doktrin pertahanan teritorial Indonesia di lintasan kepulauan yang kian strategis.
Selama puluhan tahun, NTB berada di bawah bayang-bayang komando Kodam IX/Udayana yang berpusat di Bali. Dengan berdirinya Kodam XXX/Rinambora yang dipimpin oleh Mayjen TNI Edi Saputra, Mabes TNI AD secara resmi memotong birokrasi komando dan menempatkan “otak” pertahanan langsung di jantung wilayah Lombok dan Sumbawa.
Juru Bicara Pemprov NTB, Dr. H. Ahsanul Khalik, menyampaikan pandangan Gubernur H. Lalu Muhamad Iqbal (Miq Iqbal) yang melihat pembentukan ini sebagai jawaban atas kerentanan wilayah kepulauan. “Pertahanan yang kuat menciptakan rasa aman, sementara rasa aman memberi ruang bagi pembangunan dan kesejahteraan untuk tumbuh,” ungkapnya di Mataram, Selasa (6/10/2026).
Penamaan Rinambora—akronim dari Gunung Rinjani (Lombok) dan Gunung Tambora (Sumbawa)—menjadi simbol pengikat dua pulau yang selama ini kerap menghadapi ketimpangan perhatian. Di luar simbolisme geografi, tantangan riil yang menanti Kodam baru ini adalah mengamankan aset vital nasional seperti KEK Mandalika, mengawal lalu lintas maritim regional, serta menjadi motor tanggap darurat bencana di sabuk vulkanik NTB.
Audit Strategis: Analisis Geopolitik Kebijakan Kodam XXX/Rinambora
| Sudut Pandang Strategis | Implikasi Lapangan & Tantangan Nyata |
|---|---|
| Pemotongan Rentang Komando | Otonomi keputusan pertahanan kini tak lagi bergantung pada markas di Denpasar, mempercepat mobilisasi pasukan saat krisis keamanan atau bencana alam di NTB. |
| Perisai Investasi & Internasionalisasi | Kehadiran Kodam memberi jaminan stabilitas jangka panjang bagi kawasan pariwisata skala besar (Mandalika) dan pusat pertumbuhan ekonomi baru di Pulau Sumbawa. |
| Ujian Pertahanan Berbasis Rakyat | Tantangan Mayjen TNI Edi Saputra untuk menyelaraskan pola Pembinaan Teritorial (Binter) dengan karakteristik kultural suku Sasak, Samawa, dan Mbojo. |
*Sumber: Diskominfotik NTB (Data Diolah)




