
Bukan Wanen, Melainkan Mengelak
Sebuah gestur kebudayaan kerap kehilangan makna hakikinya ketika zaman bergeser lebih cepat ketimbang daya kritis masyarakatnya. Di Pulau Lombok, tradisi merariq—yang kerap diawali dengan aksi memaling atau tepelaiq (melarikan calon pengantin perempuan)—kini kembali mengundang tanya.
Melalui video di akun Instagram pribadinya @tuangurubajang, mantan Gubernur Nusa Tenggara Barat, Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi, menyuarakan kritik tajam terhadap artikulasi tradisi ini di era modern. Menurutnya, praktik larik-melarikan ini telah bergeser menjadi tindakan yang condong membawa kemudaratan, salah satunya membuka celah lebar bagi tingginya angka pernikahan usia dini.
Meluruskan Makna Wanen
Dalam narasi masyarakat lokal, aksi memaling sering diselimuti romantisme keberanian atau wanen. Pria yang berani melarikan gadis pujaan hatinya dianggap memiliki kesatriaan. Namun, TGB menampik persepsi tersebut.
“Wanen itu kalau dia berani datang kepada keluarga perempuan dan mengatakan, ‘Bismillah, saya berniat untuk menikahi putri Anda.’ Itu wanen. Jangan dibolak-balik. Kok orang mencuri, dibilang wanen. Sejak kapan mencuri itu namanya wanen?” tegas TGB.
Kritik ini bukan bentuk pengerdilan terhadap warisan leluhur Sasak, melainkan panggilan untuk memilah mana substansi kebudayaan dan mana kebiasaan yang perlu direnovasi. Tradisi alternatif seperti ngendeng—meminta restu dan melamar secara terbuka kepada keluarga perempuan—dinilai jauh lebih bermartabat serta mengedepankan penghormatan antar-keluarga.
| Pola Tradisi | Esensi Tindakan | Risiko Sosial |
|---|---|---|
| Memaling / Tepelaiq | Melarikan wanita tanpa pamit awal | Celah nikah dini & konflik antar-keluarga |
| Ngendeng | Pinangan langsung & terbuka | Kepastian hukum adat/negara & komunikasi setara |
Dari Tradisi Menuju Prestasi
Kebudayaan bukanlah benda mati yang rigid; ia hidup dan bernapas bersama nilai-nilai kebaikan yang diusung pengampunya. Ketika suatu mekanisme adat justru mengancam masa depan anak dan memperbesar angka putus sekolah, evaluasi sosial menjadi hal yang tak terelakkan.
TGB mendorong generasi muda Sasak untuk meredefinisi ulang arti keberanian di era hari ini. Keberanian sejati tak lagi diukur dari seberapa nekat seseorang melarikan anak orang di malam hari, melainkan dari keberanian mengukir prestasi, berinovasi, dan membangun fondasi hidup yang mapan sebelum melangkah ke jenjang rumah tangga.
Foto: GETNEWS./ist