Hanzhalah Al-Usayyidi ra., salah seorang juru tulis wahyu Rasulullah ﷺ, pernah berjalan menyusuri jalanan Madinah dalam keadaan menangis tersedu-sedu. Ketika bertemu dengan Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. dan ditanya tentang keadaannya, jawaban Hanzhalah terucap dengan penuh rasa gelisah: “Hanzhalah telah munafik!”
Sangkaan berat itu muncul bukan karena Hanzhalah telah melanggar larangan besar, melainkan karena ia merasakan perubahan kondisi batin. Saat berada di majelis Rasulullah ﷺ, keimanan mereka membumbung tinggi seolah-olah surga dan neraka tampak nyata di depan mata. Namun, ketika kembali ke rumah, berinteraksi dengan anak-istri, serta sibuk dengan urusan pekerjaan, rasa khusyuk itu perlahan melonggar.
Ketika aduan ini disampaikan langsung kepada Rasulullah ﷺ, beliau memberikan pemahaman yang sangat manusiawi dan membebaskan: “Wahai Hanzhalah, sesaat dan sesaat (Sā’atan wa Sā’ah).” Beliau mengulangnya hingga tiga kali (HR. Muslim).
Mendedah Makna Sā’atan wa Sā’ah: Menata Ekspektasi Spiritual
1. Fluktuasi Iman Adalah Fitrah Kemanusiaan
Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa jika manusia mampu mempertahankan tingkat kekhusyukan yang konstan sebagaimana saat berada di majelis ilmu, niscaya para malaikat akan turun dan menjabat tangan mereka di jalanan dan di atas tempat tidur. Namun, manusia bukanlah malaikat. Ada waktu untuk berzikir dan beribadah secara intensif, dan ada waktu untuk menunaikan tanggung jawab duniawi, mengurus keluarga, serta beristirahat. Naik-turunnya grafik iman (Yazīdu wa Yanquṣ) adalah keniscayaan dalam perjalanan hidup seorang hamba.
2. Gelisah akan Keimanan Sebagai Tanda Kejujuran Batin
Pelajaran berharga dari kisah Hanzhalah dan Abu Bakar adalah munculnya rasa cemas saat iman sedang surut. Kegelisahan bahwa diri telah “munafik” justru menjadi bukti otentik bahwa di dalam dada masih bersemayam keimanan yang jujur. Orang munafik yang sejati tidak akan pernah merisaukan kualitas imannya; mereka nyaman dalam kepalsuan.
3. Mencegah Siklus Keputusasaan Spiritual
Banyak orang merasa berkecil hati ketika semangat ibadah yang dirasakan pasca-kajian meluntur selang beberapa hari kemudian. Mereka terjebak pada prasangka buruk (su’udzon) terhadap diri sendiri dan menganggap perubahannya sebagai bentuk kepura-puraan. Padahal, solusi syariat bukanlah menyerah dan berhenti melangkah, melainkan terus mengisi ulang (recharge) bejana batin melalui majelis ilmu, bacaan Al-Qur’an, dan lingkungan yang saleh.
| Pilar Sikap | Ekspektasi Semu (Perfectionism Spiritual) | Pragmatisme Sunnah (Sā’atan wa Sā’ah) |
|---|---|---|
| Tolok Ukur Khusyuk | Menuntut puncak kekhusyukan hadir setiap saat tanpa henti. | Menerima dinamika waktu: ada saat ibadah, ada saat mengurus dunia. |
| Respon Saat Iman Turun | Vonis diri sebagai munafik, putus asa, & berhenti beribadah. | Menyadari dinamika iman lalu datang kembali memohon ampun & merawatnya. |
| Keseimbangan Hidup | Mengabaikan hak keluarga & pekerjaan demi mengejar rasa khusyuk. | Proporsional: menunaikan hak Allah, hak keluarga, & hak diri sendiri. |
Vonis Nurani: Rawat Waktu Khususmu Bersama Allah
Pesan “Sesaat dan sesaat” adalah resep kenabian untuk menjaga stamina jiwa dalam mengarungi perjalanan panjang menuju Allah. Jangan pernah membiarkan penurunan grafik iman menghentikan langkah kaki dari kebaikan.
Yang paling krusial dalam porsi kehidupan yang terbagi-bagi ini adalah menjaga agar “sesaat” yang diperuntukkan khusus bagi Allah tidak pernah sirna sepenuhnya dari rutinitas harianmu.




