LONDON — Harga minyak mentah dunia mencatatkan koreksi tajam pada penutupan perdagangan Jumat (17/4/2026) waktu setempat atau Sabtu (18/4/2026) WIB. Penurunan drastis sebesar 9 persen ini dipicu oleh keputusan Iran untuk membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz, yang meredakan kekhawatiran akut akan gangguan suplai energi global.
Kembalinya aktivitas di rute distribusi energi paling krusial di dunia tersebut memberikan sentimen positif yang instan, memicu aksi jual di pasar berjangka setelah sebelumnya harga sempat melonjak akibat ketegangan geopolitik.
Brent dan WTI Terkoreksi Signifikan
Mengutip laporan Associated Press, harga minyak mentah acuan internasional, Brent, anjlok ke level 90,38 dollar AS per barel (sekitar Rp 1,54 juta). Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) AS merosot ke posisi 83,85 dollar AS per barel (sekitar Rp 1,43 juta).
Selain pembukaan Selat Hormuz, pasar juga merespons optimisme atas peluang kesepakatan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran. Sinyal meredanya konflik di Timur Tengah ini menurunkan premi risiko yang selama ini membebani harga komoditas energi dunia.
Kewaspadaan di Tengah Optimisme
Meskipun tekanan suplai mulai melandai, para analis pasar tetap memberikan catatan peringatan. Ketidakpastian geopolitik dinilai belum sepenuhnya hilang, dan setiap perubahan kebijakan mendadak di kawasan Teluk tetap berpotensi memicu volatilitas harga kembali.
Penurunan harga minyak dunia ini diprediksi akan memberikan dampak domino pada kebijakan energi domestik di berbagai negara, termasuk Indonesia, dalam menentukan struktur harga BBM dan subsidi energi pada kuartal mendatang.




