Oleh: M Hero Firmansyah
Pembongkaran Berhala Historis
Fajar berikutnya muncul di atas cakrawala pesisir selatan dengan sapuan warna kelabu yang dingin. Di dalam pondok nelayan yang dilingkupi aroma pekat air garam dan ikan mengering, Rian duduk bersila menghadap bentangan ombak, mendekap lembar salinan bab terakhir Madilog yang asli di atas pangkuannya. Goresan tinta tua Tan Malaka seolah memantulkan kenyataan yang menguji isi kepalanya.
Arya dan Pak Min berdiri mematung di sudut ruangan, menanti keputusan Rian dalam keheningan yang pekat.
“Rasio saya telah selesai menghitung pilihannya,” ujar Rian pelan, suaranya hampir larut ditelan desau angin laut selatan yang konstan. “Kita lempar keseluruhan data ini ke ruang publik. Tanpa sensor, tanpa kompromi. Publikasikan termasuk catatan kaki di mana Tan Malaka menegaskan: ‘Jangan pernah kalian bersekongkol untuk mengubah jasad dan namaku menjadi dewa baru’.”
Pak Min menarik napas dalam-dalam, mengembuskan sisa kecemasannya ke udara. “Siapkan mental dan perlindunganmu, Mas Rian. Langkah ini secara nyata akan mengubah posisi kita menjadi musuh bersama di dalam lingkaran pergerakan.”
Dan persis seperti yang telah diperkirakan, dalam kurun waktu 24 jam, kekacauan baru pecah di ruang siber.
Namun, hantaman paling brutal justru tidak diluncurkan oleh aparatur keamanan negara atau manajemen korporasi tambang. Serangan paling mematikan dan sinis justru datang dari sesama barisan aktivis senior—manusia-manusia yang selama belasan tahun mengklaim diri sebagai pengikut paling murni dari ajaran Tan Malaka.
Sebuah konsorsium organisasi pergerakan sayap lama mengeluarkan pernyataan resmi yang sarat akan tekanan politik:
“Rian dan sel bawah tanahnya secara nyata telah melakukan tindakan pengkhianatan. Mereka menyebarkan fabrikasi data untuk mencemarkan nama besar martir pergerakan Tan Malaka. Sebuah proses perubahan sejarah mutlak membutuhkan mitos kepahlawanan untuk memelihara semangat massa. Tanpa adanya berhala yang disembah, massa akan kehilangan energi perlawanan. Ini adalah agenda infiltrasi yang digerakkan oleh anak kandung penguasa militer untuk memecah belah persatuan buruh!”
Alur komunikasi di berbagai platform media sosial seketika dibanjiri oleh pembunuhan karakter berskala masif:
“Putra kandung jenderal algojo yang munafik!”
“Gerakan kosmetik hasil desain intelijen atas!”
“Boikot gerakan anak muda ini, rasionya sengaja disewa untuk menghabisi sisa-sisa heroisme bangsa!”
Kenyataan lapangannya terekam jelas dalam dokumen anggaran rahasia; faksi aktivis vokal yang menyerang Rian secara digital ini, pada kuartal yang sama, tercatat menerima kucuran dana Sponsor Kemitraan Pembangunan dari konsorsium perusahaan tambang nikel yang sama.
Arya melepaskan tawa satirnya yang teramat dingin sembari menggeser jemarinya di atas layar ponsel yang terus memanas. “Inilah manifestasi murni dari Logika Mistika yang diadopsi oleh barisan pergerakan: mereka jauh lebih nyaman menyembah patung semen Tan Malaka di ruang seminar, ketimbang menghidupkan metodologi kritis isinya di ruang kenyataan.”
Represi Spora Sekunder
Benturan horizontal itu segera berubah menjadi ancaman fisik yang nyata. Paruh malam itu, sekitar pondok nelayan diserbu oleh massa cair yang pergerakannya dikomandoi oleh instruktur tak dikenal berpakaian sipil. Tanma ruang untuk bernegosiasi, mereka bertiga terpaksa melarikan diri, menerobos kerapatan hutan bakau di sepanjang garis pasang laut.
Di tengah pelarian yang melelahkan, ponsel di saku celana Rian bergetar lemah. Panggilan rahasia masuk dari Mbah Karno—sang penyintas operasi hitam tahun 1965. Suaranya terdengar goyah dan melemah dari seberang saluran.
“Saya meminta maaf yang terdalam, Nak Rian… garis belakang di desa goyah,” bisik Mbah Karno parau di antara deru angin. “Sebagian besar dari barisan korban masa lalu memilih menarik mundur dukungan mereka. Mereka menyampaikan kesimpulan yang teramat menyedihkan: Lebih aman memelihara mitos pahlawan yang telah mati, ketimbang menghadapi kebenaran fakta yang hidup dan mengancam kenyamanan rumah kami. Usia saya sudah berada di batas senja, namun nalar saya menolak mundur. Saya tetap berdiri di barisan rasiomu.”
Rian terus berlari menerobos lumpur payau yang pekat, mendekap ransel kedap air berisi unit diska lepas data induk Madilog. Deru napasnya tersengal, memotong keheningan malam yang apek.
“Dinamika ini bergerak di luar nalar waras,” desis Rian kepada Arya yang bergerak di sampingnya. “Kita dihantam secara fisik oleh barisan manusia yang di atas kertas seharusnya berdiri sebaris dalam perjuangan ini.”
Dialektika Titik Terendah
Di tengah kerapatan hutan bakau yang gulita dan beraroma apek lumpur rawa, akar-akar pohon mencuat ke permukaan laksana sulur jemari mayat yang menuntut pertanggungjawaban sejarah. Di titik terujung isolasi tersebut, suasana seolah berjalan melambat pekat.
Siluet Tan Malaka muncul kembali di antara jajaran pohon bakau. Namun malam ini, sebuah tawa terbahak-bahak yang sarat akan kegetiran satir meledak dari mulut tirusnya—sebuah suara tawa yang terdengar hampir histeris, memantul di antara sunyinya rawa pesisir.
“Saksikan dengan mata kepalamu sendiri sekarang, Rian!” seru Tan Malaka sembari memegangi perut tirusnya, sisa tawa satirnya masih bergetar hebat. “Inilah ketakutan terbesar yang rasioku rumuskan sebelum jasadku dihilangkan dari sejarah! Ancaman terbesar gerakan ini bukan datang dari moncong senjata penjajah asing, bukan pula dari brankas modal kapitalis tulen. Musuh paling mematikan adalah barisan pengikutku sendiri yang otaknya lebih memilih menyembah nama besar dan menjadikanku berhala, ketimbang menggunakan pisau analisis gagasanku secara objektif. Mereka mengeksekusiku untuk kedua kalinya dalam lintasan sejarah—pertama mereka habisi fisik ragaku, dan kedua mereka bunuh pemikiranku dengan mengubahnya menjadi patung suci yang anti-kritik!”
Rian bersandar pada batang pohon bakau yang kasar, membiarkan pakaiannya kotor oleh lumatan lumpur rawa. “Lalu untuk tujuan nyata apa seluruh kebenaran data ini harus kita pertaruhkan, Bang? Semakin gencar kita menelanjangi ketimpangan informasi ini, semakin masif massa melempar kebencian terhadap sel kita.”
Tan Malaka seketika menghentikan tawanya. Wajah tirusnya mendadak dikunci oleh ekspresi keseriusan ideologis yang teramat dingin, meskipun sisa senyum sinisnya tidak pernah benar-benar tanggal dari sudut bibir.
“Sebab inilah bekerjanya hukum Materialisme dalam bentuknya yang paling murni dan tanpa pemanis, Rian,” ujar Tan, suaranya kini terdengar berat dan menghunjam langsung ke pusat kesadaran sang mahasiswa. “Fakta objektif itu tidak pernah dirancang untuk memuaskan popularitas atau memenangkan sentimen pasar. Ia pahit. Massa secara psikologis jauh lebih gemar meneguk madu penenang bernama Logika Mistika ketimbang dipaksa mengunyah fakta nyata yang mengganggu zona nyaman mereka. Namun justru melalui proses seleksi alamiah yang brutal inilah, manusia-manusia yang tetap memilih bertahan di barisanmu malam ini adalah kader yang paling berharga di muka bumi.”
Ia melangkah satu jengkal lebih dekat, figur transparannya memotong keremangan hutan bakau.
“Posisi koordinatmu hari ini telah sempurna, Rian. Garis darah penindas milik Jenderal Suryo terbukti mengalir di tubuh biologismu. Mitos kesucian Tan Malaka telah selesai kau hancurkan di meja publik. Dan barisan aktivis kosmetik telah resmi mengeluarkan kepalamu secara sosial. Dalam dialektika, ini adalah titik terendah yang paling sempurna dalam hidup seorang pemikir.”
Sepasang mata sang bapak Republik berkilat memancarkan binar ketabahan asketisnya yang legendaris.
“Sebab hanya dari koordinat titik terendah yang bersih dari segala ilusi romantis itulah… sebuah revolusi pikiran yang sejati baru bisa benar-benar memulai langkah pertamanya.”
Siluet sang pemikir besar mulai melarut kembali ke dalam kerapatan kabut payau hutan bakau, partikel energinya menyatu dengan malam pesisir yang kian matang oleh kontradiksi. Namun, sebaris siasat terakhirnya tertinggal di udara sebelum keheningan total kembali berkuasa.
“Pertahankan gerak nomaden ragamu malam ini, Rian. Namun pasang barikade pada rasiomu agar menolak untuk mundur dari fakta kebenaran. Fajar esok hari akan menyodorkan variabel baru; akan ada beberapa kepala yang melangkah menembus kabut pesisir ini—mereka datang bukan sebagai pasukan yang dikirim oleh Pak Harjo, melainkan barisan manusia yang memutuskan merapat ke dalam selmu karena isi kepala mereka telah sampai pada titik muak tertinggi terhadap segala bentuk kepalsuan struktur.”
Rian menegakkan rahangnya, menghapus cipratan lumpur payau di wajahnya dengan ujung lengan kemeja yang basah. Di tangannya, unit diska lepas hitam itu terasa dingin sekaligus mantap. Di kejauhan, lolongan sirene patroli pelabuhan masih terdengar samar, namun di dalam kesadaran Rian, fajar pertempuran nalar yang murni telah selesai menghabisi sisa-sisa keraguannya.
(Bersambung)
Catatan Redaksi / Disclaimer:Seluruh rangkaian narasi dalam serial “Madilog: Petualangan Pikiran yang Belum Selesai” ini merupakan karya fiksi spekulatif yang diinspirasikan dari traktat filsafat ekonomi-politik dalam buku MADILOG karya Tan Malaka.
Garis alur, karakterisasi tokoh (termasuk visualisasi tokoh sejarah), dinamika institusi, waktu, serta koordinat peristiwa yang digambarkan dalam teks ini sepenuhnya adalah rekaan kreatif penulis untuk kolom Literasi Anomali. Jika terdapat kesamaan nama tokoh, tempat kejadian, maupun konformitas situasi linier dengan realitas aktual dalam industri tambang nikel atau kebijakan birokrasi, hal tersebut merupakan kebetulan matematis dan tidak merepresentasikan kebijakan resmi dari institusi mana pun.


