LITERASI ANOMALI

Madilog: Petualangan Pikiran yang Belum Selesai – Bagian 31

Tan Malaka, insert: Emha Firmansyah (GETNEWS./Literasi Anomali/istimewa)

Oleh: M Hero Firmansyah

Demarkasi Ketiga

​Fajar berikutnya merayap membelah lembaga pemasyarakatan dengan ketegangan yang kian pekat. Ibu Rian kembali duduk di balik partisi kaca tebal, matanya menyiratkan kalkulasi penuh harap. Rian duduk tegak, binar matanya bersih dari sisa keraguan psikologis.

​“Ibu,” buka Rian, suaranya tenang menembus interkom. “Rasio saya sudah menetapkan konklusi final.”

​Wanita itu menahan napas.

​“Saya menolak opsi meminta Ayah keluar dari persembunyiannya di luar negeri untuk menyuplai kapital. Saya juga menolak paket rehabilitasi atau formula damai apa pun dari rahim sistem.”

​Rian menyunggingkan senyum tipis yang satir—mimik yang menduplikasi Tan Malaka saat menghadapi interogasi kolonial.

​“Saya memilih demarkasi ketiga. Saya tetap mengisolasi raga di sel ini, namun saya mengonversi setiap jam di balik jeruji untuk mengedukasi narapidana, sipir, siapa saja yang mau mendengar fakta material. Saya memilih menjadi virus kesadaran di jantung lapas ini. Tugas Ibu di luar adalah mempertahankan sirkulasi spora kertas fotokopi itu. Jangan pernah tekan tombol interupsi.”

​Ibunya terdiam lama. Gurat wajahnya mencair, melahirkan kebanggaan seorang kader ideologis. “Kau telah ditempa menjadi murid Tan Malaka yang sejati, Nak.”

​Sabotase Senyap

​Keputusan Rian memicu kejut sosiologis di luar prediksi intelijen.

​Di dalam lapas, “ruang kelas bawah tanah” tumbuh subur. Narapidana hingga sipir muda mulai fasih mendiskusikan upah nominal, kesadaran kelas, dan membongkar mitos Logika Mistika. Di luar terali, spora kertas fotokopi menolak reda. Ibu rumah tangga di pasar, pemuda sub-urban yang membuat komik strip, hingga guru SD di pelosok yang nekat mendekonstruksi Madilog di kelas meski berujung surat pemecatan administratif—semuanya bergerak liar.

​Namun, disrupsi paling telak terjadi lewat quiet quitting para birokrat lapis menengah. Pegawai negeri di divisi strategis memperlambat eksekusi proyek hilirisasi ekstraktif. Mereka tidak turun ke jalan; mereka “melupakan” dokumen Amdal, salah mengirim enkripsi dokumen ke meja rival, atau mendadak sakit saat rapat koordinasi penting dengan konsorsium tambang.

​Pak Gatot mengirim pesan melalui pengacara: “Gerakan massa cair ini di luar kendali represi. Ancaman bagi elit kapitalis bukan lagi teriakan di jalan, tapi pegawai mereka sendiri yang mulai meragukan moral pekerjaan mereka. Ini kanker rasiologi yang mematikan bagi sistem.”

​Ujian Madu Penjinak

​Malam mengunci sel isolasi dalam kepekatan. Siluet Tan Malaka muncul kembali di dinding beton, duduk bersila dengan senyum jenaka.

​“Langkah komputasi yang cerdas, Rian,” puji Tan Malaka. “Kau menolak menjadi pahlawan tunggal yang klise, dan menolak jinak pada sistem. Kau memilih menjadi duri di dalam daging birokrasi mereka.”

​Rian bersandar pada dinding dingin. “Apakah sebaran spora ini punya kapasitas ilmiah untuk berhasil, Bang? Ataukah raga saya hanya akan membusuk di sini?”

​Tan Malaka menggeleng. “Dalam Materialisme Historis, revolusi pikiran tidak pernah instan. Variabel penentunya adalah volume benih kesadaran yang kau tanam. Malam ini, rasiomu menyemai benih itu di koordinat yang tidak pernah diantisipasi meja kekuasaan: di kepala orang-orang yang selama belasan tahun dikondisikan untuk menolak berpikir. Preman pasar, koruptor mikro, ibu rumah tangga, hingga pegawai negeri yang ketakutan kehilangan gaji.”

​Figur transparan itu melangkah mendekat. “Doktrin Logika Mistika paling panik ketika manusia kelas pekerja berhenti patuh dan meluncurkan satu kata: ‘Kenapa?’. Dan gerakanmu sedang mempabrikasi ribuan kepala untuk melontarkan pertanyaan itu.”

​Tan Malaka mulai melarut ke dalam dinding beton, meninggalkan satu bisikan terakhir:

​“Pasang proteksi tertinggi menyambut esok hari. Dalam empat puluh delapan jam, mereka akan datang ke meja kunjunganmu untuk menyodorkan penawar yang paling manis. Tolak racun pemanis itu dengan ketajaman rasiomu.”

​Rian membuka matanya, menatap jeruji besi. Di luar, cerobong pabrik nikel masih menderu, menolak sadar bahwa spora kertas buram di luar sana telah mulai menggerogoti sekrup-sekrup terkecil dari mesin mereka.

(Bersambung)


Catatan Redaksi / Disclaimer:

Seluruh rangkaian narasi dalam serial “Madilog: Petualangan Pikiran yang Belum Selesai” ini merupakan karya fiksi spekulatif yang diinspirasikan dari traktat filsafat ekonomi-politik dalam buku MADILOG karya Tan Malaka.

Garis alur, karakterisasi tokoh (termasuk visualisasi tokoh sejarah), dinamika institusi, waktu, serta koordinat peristiwa yang digambarkan dalam teks ini sepenuhnya adalah rekaan kreatif penulis untuk kolom Literasi Anomali. Jika terdapat kesamaan nama tokoh, tempat kejadian, maupun konformitas situasi linier dengan realitas aktual dalam industri tambang nikel atau kebijakan birokrasi, hal tersebut merupakan kebetulan matematis dan tidak merepresentasikan kebijakan resmi dari institusi mana pun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *