LITERASI ANOMALI

Madilog: Petualangan Pikiran yang Belum Selesai – Bagian 6

Oleh: Emha Firmansyah

​Bagian I: Agitasi di Bawah Pintu Pondokan

​Barisan itu kini menyusut hingga ke titik paling radikal. Hanya tersisa empat orang di dalam lingkar inti: Rian, Pak Min, Pak Toro—buruh uzur yang emosinya mudah meledak—dan Mbak Siti, istri buruh yang sehari-hari mengelola lapak gorengan namun memiliki nalar paling taktis di antara mereka.

​“Kita tidak bisa terus-menerus bersembunyi di balik kepulan asap angkringan,” cetus Pak Toro, suaranya serak menahan geram. “Kita harus beralih ke agitasi tulisan. Kita cetak pamflet, sebar secara senyap di sepanjang koridor pondokan saat pergantian shift malam.”

​Rian menyetujui rencana itu. Menggunakan sisa uang patungan yang terkumpul sebesar seratus delapan puluh tujuh ribu rupiah, mereka mendatangi sebuah bilik komputer sewaan untuk mencetak selebaran sederhana. Judul di bagian atas dibuat tebal dan mencolok:

“Hilirisasi untuk Siapa? Materialisme Tan Malaka: Lihat Angka, Bukan Janji!”

​Isinya padat dan dingin: menyandingkan grafik pertumbuhan laba bersih korporasi dengan kurva stagnasi upah riil pekerja, penjelasan dialektika dasar, serta sebongkah kutipan tajam dari Tan Malaka: “Jika suatu bangsa kaya akan sumber alam namun miskin dalam pengetahuan ekonomi-politik, maka selamanya mereka hanya akan menjadi budak di tanah sendiri.”

​Malam itu, di bawah lindungan pekatnya kabut polusi pabrik, mereka bergerak layaknya penyusup. Menyelipkan lembaran kertas itu di bawah celah pintu pondokan, meletakkannya di atas jok sepeda motor buruh, hingga menempelkannya pada batang-batang pohon di area publik perusahaan.

​Bagian II: Komodifikasi Isu dan Logika Klik

​Efek dari selebaran itu meledak keesokan paginya.

​Seorang mandor lapangan berjalan tergesa-gesa masuk ke area pondokan dengan wajah merah padam, tangannya meremas setumpuk pamflet yang telah disobek-sobek.

​“Siapa yang bertanggung jawab atas sampah provokatif ini?!” teriak sang mandor, suaranya melengking di antara barisan barak. “Mau jadi pahlawan kesiangan? Perusahaan sudah mencairkan tunjangan hari raya, membagikan paket sembako tahunan, dan kalian masih kurang bersyukur?!”

​Pak Min melangkah maju tanpa ragu, berdiri tegap memangkas jarak. “Ini bukan provokasi, Pak. Ini adalah kalkulasi matematika ekonomi. Jika data yang kami sajikan di kertas itu keliru, silakan bantah dengan data baru. Namun jika angka-angka itu valid, mengapa manajemen harus panik?”

​Sebelum situasi semakin meruncing, dua petugas keamanan internal berbadan tegap muncul dari balik barak, didampingi oleh seorang pria berkemeja rapi yang menenteng kamera saku dan ponsel pintar. Namanya Andi, seorang jurnalis dari jaringan media digital arus utama. Senyumnya tampak ramah, namun sorot matanya menyimpan kalkulasi seorang pemburu komoditas visual.

​“Wah, ini fenomena yang sangat menarik,” ujar Andi sembari mengarahkan lensa ponselnya ke arah Rian dan robekan pamflet. “Kebangkitan nalar kiri di tapak industri nikel modern. Boleh saya ambil wawancara? Saya bisa buat narasi ini viral dengan judul: ‘Buruh Nikel Bangkitkan Pemikiran Radikal Tan Malaka’.”

​Rian langsung menginterupsi dengan tatapan curiga. “Tolong jangan dipelintir untuk komodifikasi sensasi, Mas. Ini bukan soal spektrum kiri atau kanan. Ini adalah persoalan mengembalikan akal sehat yang hilang.”

​Andi terkekeh, melambaikan tangannya dengan santai. “Di era industri informasi hari ini, anak muda, segalanya adalah soal pengemasan (framing). Jika saya mengemas gerakan kalian dari sudut pandang humanis, kalian bisa mendapatkan simpati publik di media sosial. Namun, jika pihak korporasi mengirimkan nota keberatan ke meja redaksi kami, narasinya bisa bergeser dalam sekejap menjadi: ‘Kelompok Radikal Mengganggu Stabilitas Investasi Nasional’. Kalian mau pilih narasi yang mana?”

​Mbak Siti yang sejak tadi memperhatikan dari balik kerumunan, langsung maju dan menepis pelan tangan Andi yang memegang ponsel. “Ini dia contoh nyata dari Logika Mistika industri media. Anda datang bukan untuk membedah fakta material atau penderitaan paru-paru anak-anak kami, melainkan hanya ingin mengubah keringat buruh menjadi hitungan jumlah pengunjung situs web Anda!”

​Situasi kian buntu. Petugas keamanan mulai melontarkan ancaman untuk menyerahkan Rian ke aparat penegak hukum atas tuduhan tindakan provokasi tanpa izin dan penyebaran narasi kebencian struktural. Beberapa buruh yang awalnya mendekat karena penasaran, perlahan melangkah mundur, memilih menyelamatkan posisi aman mereka.

​Bagian III: Penjajahan yang Dikemas Cantik

​Malam harinya, di dalam kamar kos yang pengap, Rian duduk bersandar pada meja belajar. Di hadapannya tergeletak sisa pamflet yang telah lecek dan robek di bagian sudutnya.

​Di depan baling-baling kipas angin dinding yang berderit bising, partikel udara kembali mengalami distorsi kronologis. Siluet Tan Malaka kembali mewujud. Kali ini, ia tampak memegang selembar pamflet karya Rian, mengamatinya dengan saksama di bawah temaram lampu kamar sambil mengangguk-angguk kecil.

​“Sebuah eksperimen agitasi yang berani, Rian,” kata Tan Malaka, sebuah senyum sinis yang penuh dengan kegetiran sejarah tersungging di wajah tirusnya. “Namun kau lihat sendiri… perangkat penindasan di zamanmu jauh lebih adaptif. Di zamanku, fasisme menggunakan moncong bayonet untuk membungkam nalar. Di zamanmu, mereka menggunakan aliansi antara manajemen korporasi, aparat pengamanan, dan industri media untuk mengubah esensi perbudakan menjadi paket investasi yang tampak suci.”

​Rian menghela napas berat, memejamkan matanya yang lelah. “Apakah itu artinya kita membentur dinding tebal yang mustahil ditembus, Bang? Kita kembali kehilangan barisan.”

​Tan Malaka melangkah mendekat, meletakkan pensil tua imajiner yang sejak tadi ia pegang ke atas meja belajar Rian. Tatapan matanya berkilat, memancarkan determinasi seorang pemikir yang kenyang akan kegagalan taktis.

​“Belum kalah, anak muda. Ini adalah proses dialektika yang sedang bekerja secara organik. Setiap aksi sekecil apa pun akan selalu melahirkan kontradiksi baru di dalam sistem. Industri media menginginkan sensasi komoditas, manajemen menginginkan keheningan total, dan buruh menginginkan kepastian isi piring. Namun di tengah benturan kepentingan itu, lihatlah… ada beberapa kepala yang mulai terbangun dari tidurnya. Itu adalah surplus yang paling berharga.”

​Ia menunjuk sisa pamflet di atas meja dengan ujung jemarinya.

​“Teruskan. Meskipun pada akhirnya hanya ada sepuluh orang yang benar-benar membaca, merenungkan, dan memahami isi selebaran itu, dampak jangka panjangnya jauh lebih berbahaya bagi status quo ketimbang seribu orang yang menekan tombol suka dan membagikannya di jejaring digital tanpa pernah mengerti substansinya.”

​Siluet sang bapak Republik perlahan mulai menipis, larut ke dalam kegelapan malam bersama derit kipas angin yang kian melemah.

​“Dan simpan kewaspadaan tertinggimu terhadap jurnalis itu,” sebuah bisikan penutup bergema di kepala Rian sebelum keheningan total kembali meraja. “Dia tidak datang untuk mencari kebenaran material. Dia datang untuk memanen angka impresi digital. Itu adalah sekte Logika Mistika modern yang paling manipulatif di abadmu.”

​Rian membuka matanya, menatap lurus ke arah lembaran Madilog. Ia tahu, babak berikutnya tidak akan lagi berjalan di bawah bayang-bayang, melainkan sebuah benturan terbuka yang tak terhindarkan.

(Bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *