MATARAM — Sektor pariwisata Nusa Tenggara Barat (NTB) mencatatkan pertumbuhan signifikan dengan total 1,3 juta perjalanan wisatawan nusantara per Mei 2026. Namun, di balik angka kunjungan yang masif, duet Gubernur Lalu Muhamad Iqbal dan Wakil Gubernur Indah Dhamayanti Putri kini mengalihkan fokus strategi: dari sekadar mengejar volume kunjungan menuju peningkatan nilai ekonomi bagi masyarakat lokal.
Pemerintah Provinsi NTB resmi mengadopsi model Wellness Tourism (wisata kebugaran) sebagai pilar baru ekonomi kreatif daerah. Strategi ini dirancang untuk memperpanjang durasi tinggal (length of stay) wisatawan, yang selama ini menjadi kendala utama dalam mengoptimalkan devisa pariwisata.
Strategi Integrasi: Sport dan Wellness
Kepala Dinas Kominfotik NTB, Dr. H. Ahsanul Khalik, menegaskan bahwa perubahan tren global menuntut destinasi wisata untuk menawarkan lebih dari sekadar pemandangan estetik. “Pariwisata berkualitas bukanlah tentang berapa banyak orang yang datang, tetapi berapa besar manfaat yang tinggal,” ujar Ahsanul.
Strategi ini memanfaatkan ekosistem sport tourism yang telah mapan—seperti Rinjani 100 Ultra dan Pocari Sweat Run Lombok 2026—sebagai pintu masuk untuk menjaring wisatawan, yang kemudian akan dikonversi menjadi konsumen layanan kebugaran.
Efek Domino Ekonomi Lokal
Model wisata ini dirancang sebagai senjata untuk menekan angka kemiskinan dengan cara memutus ketergantungan pada rantai pasok industri besar. Melalui dorongan penggunaan transportasi lokal dan akomodasi berbasis komunitas, Pemprov NTB berupaya memastikan aliran uang dari sektor pariwisata berputar di tingkat akar rumput.
Dengan beralihnya posisi NTB dari destinasi petualangan murni menjadi pusat kesehatan dan ketenangan, pemerintah daerah optimis dapat menciptakan ekonomi pariwisata yang lebih tahan banting dan inklusif.




