OASE

Teori Ibn Khaldun: Ketika Pajak Makin Banyak, Tanda-Tanda Negara Butuh “Kopi Hitam dan Self-Healing”

​Ada satu hukum alam dalam ilmu ekonomi-politik yang sudah diramalkan oleh mbahnya para sosiolog, Ibn Khaldun, ratusan tahun lalu: “Semakin kreatif pemerintah menciptakan jenis pajak baru, semakin dekat negara itu dengan mode collapse.”

​Dalam kitab terkenalnya, Muqaddimah, beliau membongkar skema klasik yang bikin rakyat urut dada dari zaman peradaban kuno sampai era aplikasi dompet digital modern.

​Siklus Pajak Mode “Bikin Elus Dada”

​Menurut Ibn Khaldun, jalan cerita keuangan negara itu mirip pola hubungan asmara:

  1. Fase “Masih Manis” (Awal Berdiri): Pemerintahnya masih rajin, tarif pajak murah, dan jenis pungutannya cuma sedikit. Hasilnya? Rakyat semangat jualan, ekonomi ngegas, dan kas negara justru melimpah ruah karena semua orang senang bayar pajak tanpa merasa diperas.
  2. Fase “Banyak Gaya” (Akhir Era): Birokrasi mulai membesar, gaya hidup elite makin tinggi, dan anggaran mendadak tekor. Alih-alih mengencangkan ikat pinggang sendiri, pemerintah memilih jalan pintas paling instan: bikin pajak baru buat segala hal! Dari pajak usaha, pajak hiburan, sampai kalau bisa, ‘pajak menghirup udara segar’.

​Efek Samping: Ketika Rakyat Pilih “Mogok Kerja”

​Saat negara mulai kehabisan ide dan asal tarik pajak, yang terjadi bukannya makin kaya, tapi justru bikin ekonomi kena mental:

  • Sindirian Laffer Curve Zaman Dulu: Makin mahal dan jelimet pajaknya, orang-orang malah malas kerja keras. Buat apa banting tulang kalau hasilnya habis dipotong pajak?
  • Pindah ke Mode Underground: Rakyat bakal cari jalan pintas. Kalau perdagangan formal dipajaki habis-habisan, pasar gelap dan transaksi “di bawah meja” langsung panen raya.
  • Hasil Akhir yang Ironis: Kas negara yang tadinya mau ditambal malah makin bolong, karena basis ekonomi rakyatnya keburu lemas duluan.

​Kutipan di atas adalah sentilan paling telak dari abad ke-14 untuk para pembuat kebijakan zaman now: kalau mau nambah pendapatan negara, jalannya adalah bikin rakyat tambah makmur, bukan malah bikin daftar pungutan pajak makin panjang kayak bon belanjaan supermarket!

Foto cover: Lukisan wajah Ibnu Khaldun (ist)

Penulis: Fatih ‘O

Editor: Emha Firmansyah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *