MATARAM — Nusa Tenggara Barat (NTB) kembali berada di bawah sorotan radar toleransi nasional. Menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah dan Perayaan Nyepi Tahun Baru Caka 1948 yang jatuh dalam waktu yang hampir bersamaan pada Maret 2026, Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) NTB mengeluarkan seruan tegas untuk menjaga Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibmas).
Ketua FKUB NTB, Dr. Buya M. Subki Sasaki, menekankan bahwa sinkronisasi dua hari besar ini merupakan momentum krusial untuk membuktikan kedewasaan sosial masyarakat Bumi Gora. Tantangannya terletak pada kontrasnya ritual: Idulfitri yang dirayakan dengan “gebyar” kemenangan melawan Nyepi yang menuntut keheningan total.
Menjembatani “Gempita” dan “Hening”
Potensi gesekan sosiologis antara tradisi malam takbiran yang gegap gempita dengan ritual penyepian yang sunyi diantisipasi melalui edukasi lintas sektoral. Buya Subki menyebutkan bahwa FKUB telah menyurati seluruh jaringan di Kabupaten/Kota untuk menggelar koordinasi dengan aparat kepolisian (Polda NTB) guna memastikan stabilitas berada di zona “Sangat Aman”.
Sejalan dengan FKUB, Ketua PWNU NTB, Prof. Dr. TGH. Masnun Tahir, menegaskan bahwa koordinasi dengan Kementerian Agama dan Forkopimda terus diintensifkan. Fokus utamanya adalah menangkal framing negatif atau narasi provokatif di media sosial yang dapat memecah belah keharmonisan yang telah lama terjalin di NTB.
Catatan Akhir: Merawat Khazanah Kerukunan
NTB memiliki rekam jejak panjang dalam mengelola pertemuan hari besar agama yang berdekatan. Jika transisi antara malam kemenangan umat Muslim dan hari penyepian umat Hindu berjalan mulus tanpa insiden, ini akan menjadi bukti empiris bahwa semboyan “NTB Makmur Mendunia” didukung oleh fondasi kerukunan yang kokoh. Namun, kewaspadaan terhadap infiltrasi narasi pemecah belah di ruang digital tetap menjadi prioritas utama bagi aparat keamanan dan tokoh agama.
BACA JUGA ARTIKEL LAINNYA:
Prabowo dan Jurus ‘Muter-Muter’ di Tengah Perang AS-Iran



