BERN — Pemerintah Swiss secara resmi menunjuk dokumenter Who is Still Alive (Qui Vit Encore) karya sutradara Nicolas Wadimoff sebagai wakil negara tersebut untuk bersaing dalam kategori Best International Feature Film pada ajang Academy Awards ke-99. Film ini merekam secara intim perkelahian psikologis dan luka emosional sembilan warga Palestina yang berhasil lolos dari krisis kemanusiaan di Gaza, tempat kehilangan rumah dan ruang hidup telah menjadi trauma kolektif yang tak terelakkan.

​Melansir laporan Variety, karya ini mencatatkan tayang perdana dunianya (world premiere) di seksi prestisius Venice Days 2025. Sejak saat itu, perjalanan festivalnya terus mendapat pengakuan kritis internasional. Who is Still Alive sukses memboyong penghargaan Prix de Soleure di Solothurn Film Festival 2026, amankan nominasi Dokumenter Terbaik di Swiss Film Awards, hingga berkeliling di panggung sinema ternama seperti Locarno Film Festival, Amman International Film Festival, dan Hot Docs.

​”Ini adalah sebuah kehormatan besar, tetapi juga merupakan tanggung jawab yang amat berat untuk memastikan suara-suara mereka yang bertahan hidup dapat terdengar di panggung global,” ujar Wadimoff merespons penunjukan resminya.

Sinopsis: Mikro-Trauma di Luar Garis Depan Konflik

​Berbeda dengan film dokumenter perang yang kerap mengandalkan sensasionalisme visual di garis depan pertumpahan darah, Who is Still Alive memilih mundur ke koridor-koridor sunyi tempat para penyintas berusaha menyusun kembali pecahan hidup mereka. Wadimoff menautkan ingatan, rasa bersalah karena bertahan hidup (survivor’s guilt), serta perihnya kenyataan bahwa tanah lahir mereka telah diratakan dengan tanah. Film ini menjadi otopsi atas hilangnya tempat pulang dan inkubasi trauma yang terus berjalan meski bom telah berhenti bergema di telinga mereka.

​Proses produksi karya ini menyimpan tantangan logistik yang kompleks. Tim produksi terpaksa memboyong seluruh lokasi syuting ke Afrika Selatan—satu-satunya wilayah yang memungkinkan warga Palestina masuk tanpa hambatan visa di tengah pengetatan mobilitas global. Bagi Wadimoff, karya ini memperpanjang jejak dokumentasi krisisnya terhadap wilayah tersebut, sekaligus melengkapi trilogi pengamatan politik-kemanusiaannya setelah merilis Aisheen (Still Alive in Gaza) pada 2008 dan The Apollo of Gaza pada 2018.

“Who is Still Alive memindahkan panggung perang dari medan tempur fisik ke dalam ruang trauma domestik para penyintas Gaza yang harus hidup bersama bayang-bayang rumah mereka yang telah musnah.”

Jalur Distribusi dan Peta Persaingan Oscar

​Di pasar Amerika Serikat, hak distribusi film ini telah diamankan oleh Watermelon Pictures, distributor independen yang sebelumnya sukses mengawal The Voice of Hind Rajab menembus jajaran nominasi Academy Awards. Sementara itu, untuk pasar Eropa, film ini dijadwalkan mulai tayang di bioskop-bioskop Prancis pada Oktober mendatang.

​Berdasarkan regulasi Academy of Motion Picture Arts and Sciences (AMPAS), tenggat waktu pendaftaran (deadline entry) untuk kategori Best International Feature Film jatuh pada 30 September. Adapun malam puncak penganugerahan Oscar ke-99 sendiri dijadwalkan berlangsung pada 14 Maret 2027. Penunjukan Who is Still Alive diprediksi akan makin memperkuat narasi kemanusiaan Palestina di panggung diplomasi kebudayaan dunia.

Sumber: Variety / Foto cover: Film Who is Still Alive (istimewa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *