ENDE – Akses jalan nasional Trans Flores yang menghubungkan Kabupaten Ende dan Nagekeo, khususnya di KM 4+350, kini kembali terbuka dan dapat dilalui kendaraan secara normal. Jalur vital tersebut sempat melumpuhkan total konektivitas darat akibat tertutup material tanah berpasir dan bebatuan setinggi 30 meter pascalempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang kawasan Flores pada Sabtu (15/8/2026).
Merespons kondisi darurat tersebut, Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) NTT Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian PUPR menerjunkan tiga unit ekskavator untuk pembersihan jalur secara intensif. Pembersihan bertahap yang dimulai dari pembukaan akses kendaraan roda dua hingga kendaraan roda empat dengan sistem buka-tutup, kini telah menuntaskan penanganan utama hingga transportasi pulih sepenuhnya per Kamis (20/8/2026).
Audit Strategis: Penanganan Darurat Jalur Trans Flores KM 4+350
| Sektor / Parameter | Rincian Status Penanganan & Tantangan Lapangan |
|---|---|
| Titik Longsor Utama | Jalur Trans Flores Ende–Bajawa KM 4+350 (Material tebing 30 meter). |
| Pelaksana Teknis | BPJN NTT Ditjen Bina Marga Kementerian PUPR & BNPB. |
| Status Jaringan Komunikasi | Kabel serat optik terdampak longsor telah berhasil dipulihkan secara bertahap oleh tim lintas sektor. |
| Tantangan Kedaruratan | Ancaman gempa susulan (termasuk M 6,0 pada Kamis siang) memicu penghentian sementara operasional alat berat sesuai Prosedur K3. |
| Tahapan Selanjutnya | Pembersihan lereng atas tebing, penguatan struktur (retaining wall/geogrid), serta revitalisasi ketahanan infrastruktur jangka panjang. |
*Sumber: BPJN NTT / Tim Komunikasi Kebencanaan BNPB (Data diolah)
Meskipun lalu lintas kendaraan telah pulih, petugas teknis di lapangan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam pembersihan sisa material di lereng atas. Pembukaan kembali urat nadi transportasi Ende–Nagekeo ini diharapkan dapat mempercepat penyaluran logistik bantuan bencana serta memulihkan denyut perekonomian warga di Pulau Flores.




