DI SEBUAH KOTA yang selalu tergesa-gesa, berdirilah sebuah kuil agung tempat manusia mempelajari aturan-aturan duniawi. Mereka menyebutnya Fakultas Hukum—sebuah tempat di mana para pemuda dan pemudi berkumpul untuk menghafal pasal-pasal, mempelajari bagaimana mengikat manusia lain dengan kertas, dan bermimpi menjadi tangan kanan keadilan.
Di antara ribuan pencari ilmu itu, terdapat enam belas pejalan. Mereka adalah anak-anak muda yang dianugerahi kecerdasan, dikaruniai kemudahan, dan mengenakan jubah kebanggaan di pundak mereka. Namun, seperti yang sering terjadi pada mereka yang terlalu lama menatap pantulan dirinya sendiri di permukaan air, keenam belas pejalan ini melupakan satu hukum paling kuno di alam semesta: Hukum Jiwa Dunia.
Mereka mengira bahwa karena mereka tahu cara membengkokkan argumen di ruang sidang, mereka juga bisa membengkokkan hati nurani. Di sebuah ruang rahasia yang tak kasat mata—sebuah lembah digital yang terbuat dari cahaya layar dan sinyal-sinyal tak bersuara—mereka merangkai kata-kata berbisa. Mereka menertawakan para pejalan lain yang tidak seberuntung mereka. Mereka mencemooh keringat kaum miskin, merundung mereka yang berjuang dengan tertatih-tatih, dan meracuni udara dengan diksi-diksi kesombongan.
Mereka merasa aman di dalam tenda rahasia itu. Namun, mereka lupa bahwa angin selalu mengembara ke mana-mana, dan Alam Semesta tidak pernah membiarkan ketidakseimbangan dibiarkan begitu saja.
“Ketika engkau menginginkan sesuatu,” tulis seorang filsuf kuno, “seluruh alam semesta akan bersatu untuk membantumu mencapainya.” Tetapi, hal yang sama berlaku untuk keburukan. Ketika engkau memancarkan racun ke dalam Jiwa Dunia, alam semesta akan bersatu untuk memantulkannya kembali kepadamu, bukan untuk menghancurkanmu, melainkan untuk membangunkanmu dari tidur yang lelap.
Dan begitulah, rahasia itu terbongkar. Tenda digital mereka robek oleh badai kebenaran. Pesan-pesan kelam yang diketik oleh keenam belas pejalan itu berhamburan ke ruang publik, dibaca oleh ribuan mata. Dalam semalam, jubah kebanggaan mereka lucut. Mereka yang dulu bermimpi menjadi hakim, kini duduk di kursi pesakitan, diadili oleh tatapan masyarakat, dibicarakan di setiap sudut kedai kopi, dan dikecam oleh burung-burung yang hinggap di pohon akasia kampus mereka.
Salah satu dari enam belas pejalan itu bernama Elara.
Hari itu, ketika badai cemoohan publik menghantamnya paling keras, Elara melarikan diri dari keramaian kampus. Ia berjalan tanpa arah hingga menemukan sebuah taman tua di belakang perpustakaan, tempat di mana waktu seolah berhenti. Di sana, duduk seorang tukang kebun tua yang sedang menyiram bunga kamboja. Wajahnya dipenuhi garis-garis kebijakan yang digurat oleh matahari dan angin.
Elara duduk di sebuah bangku batu, menutupi wajah dengan kedua tangannya, dan menangis. Ia menangisi reputasinya yang hancur, masa depannya yang kini tak pasti, dan gelar kebanggaan yang seolah tergelincir dari genggamannya.
Mendengar isak tangis itu, sang tukang kebun tua mendekat. Ia tidak membawa buku hukum, melainkan setangkai kamboja yang baru mekar.
“Mengapa engkau menangis, wahai Pejalan?” tanya pria tua itu, suaranya sedamai gemericik air di oase gurun.
“Aku telah melakukan kesalahan besar,” isak Elara, menatap layar ponselnya yang gelap. “Aku dan lima belas temanku… kami mengucapkan kata-kata yang jahat. Kami merasa lebih tinggi dari orang lain. Kini, dunia membenci kami. Semua buku tebal yang kupelajari bertahun-tahun tidak bisa menyelamatkanku dari hukuman ini. Takdirku telah hancur.”
Tukang kebun tua itu tersenyum lembut. Ia duduk di sebelah Elara dan memutar tangkai kamboja di tangannya.
“Engkau salah mengartikan apa itu takdir, Anakku,” ucapnya. “Hukuman dan rasa malu yang engkau rasakan saat ini bukanlah kutukan. Ini adalah Pertanda (Omens). Sang Pencipta berbicara kepada kita melalui banyak bahasa. Terkadang Ia berbicara melalui kebahagiaan, namun tak jarang Ia harus menggunakan penderitaan agar kita mau mendengarkan.”
Elara mengangkat wajahnya yang sembap. “Pertanda? Pertanda apa dari sebuah kehancuran?”
“Pertanda bahwa engkau hampir saja tersesat di padang pasir kehidupan tanpa kompas yang benar,” jawab pria tua itu. “Kalian berenam belas sedang bersiap untuk menjadi penegak hukum bagi manusia lain, namun kalian lupa menanamkan cinta di dalam hati kalian. Hukum yang ditegakkan tanpa cinta hanyalah pedang tumpul yang melukai si pemegang pedang.”
Sang tukang kebun menunjuk ke arah daun-daun yang berguguran ditiup angin sore. “Kata-kata bukanlah sekadar huruf yang diucapkan atau diketik. Kata-kata adalah Alkimia paling murni. Saat engkau mengucapkan kata-kata kesombongan untuk merendahkan orang miskin atau mereka yang lemah, engkau sebenarnya sedang menodai sebagian dari Jiwa Dunia. Karena pengemis di jalanan, anak petani yang berjuang mencari ilmu, dan dirimu sendiri… semuanya dirajut oleh tangan yang sama.”
Air mata Elara kembali menetes, namun kali ini bukan air mata keputusasaan, melainkan air mata kesadaran. Ia menyadari betapa miskin jiwanya selama ini. Ia telah mengumpulkan nilai-nilai akademis yang sempurna, namun gagal membaca bahasa hatinya sendiri. Ia telah menukar empati dengan tepuk tangan palsu dari pergaulan elitenya.
“Lalu, apa yang harus kulakukan sekarang?” tanya Elara lirih. “Apakah aku masih bisa menemukan Takdir Pribadiku setelah namaku tercoreng?”
“Tentu saja,” pria tua itu meletakkan bunga kamboja di pangkuan Elara. “Kesalahan hanyalah cara alam semesta mengajarimu untuk membaca peta dengan lebih teliti. Terimalah konsekuensinya dengan dada lapang. Jangan lari dari rasa malu itu, tapi biarkan ia membakar habis kesombonganmu. Setelah abunya tersapu angin, engkau akan menemukan dirimu yang baru—seorang pembela keadilan yang tidak hanya mengandalkan pasal-pasal di kepala, tetapi juga mendengarkan getaran di hati.”
Matahari mulai tenggelam, mewarnai langit dengan palet jingga keemasan, layaknya gurun yang memantulkan cahaya. Sang tukang kebun bangkit berdiri, mengambil alat siramnya, dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi.
Di bangku batu itu, Elara duduk dalam keheningan yang damai. Enam belas mahasiswa itu mungkin akan menerima sanksi akademis. Mereka mungkin akan dihukum oleh manusia. Namun Elara tahu, bagi alam semesta, ini adalah proses inisiasi. Kejatuhan mereka adalah anugerah yang disamarkan.
Ia menyentuh kelopak kamboja di pangkuannya. Mulai detik ini, ia berjanji tidak akan lagi menggunakan kata-kata untuk menghancurkan, melainkan untuk menyembuhkan. Perjalanannya untuk menjadi manusia yang seutuhnya tidak berakhir karena sebuah skandal; sebaliknya, perjalanan sucinya untuk menemukan Takdir Pribadinya, baru saja dimulai.
BACA JUGA ARTIKEL LAINNYA:
Sirkus di Depok: 16 Calon Jaksa dan Hakim yang Gagal Lulus Ujian ‘Adab’



