GET CORNER

Menemukan “Rumah” di Negeri Bambu: Cerita Komunitas Keluarga Katolik Indonesia di Beijing

BEIJING, GetNews — Menjadi perantau di negeri orang kerap kali menghadirkan rasa rindu akan rumah, tak terkecuali bagi para pelajar dan pekerja asal Indonesia yang tengah mengadu nasib di Beijing, Tiongkok. Di tengah riuk pikuk kota megapolitan yang sarat dengan perbedaan budaya dan bahasa, kehadiran sebuah komunitas yang hangat menjadi penyejuk tersendiri.

Inilah yang dirasakan oleh para anggota Keluarga Katolik Indonesia Beijing (KKIB). Lebih dari sekadar tempat beribadah, komunitas ini telah bertransformasi menjadi “rumah kedua” bagi diaspora Indonesia di sana.

Tim GetNews berkesempatan berbincang langsung dengan Axel Sutanto (20), mahasiswa asal Surabaya yang kini menempuh pendidikan di Beijing Institute of Technology sekaligus memperkuat kepengurusan KKIB periode 2026–2027. Bersama rekannya, Wendy (22) asal Makassar yang berkuliah di kampus yang sama, Axel membagikan kisah perjalanan dan dinamika komunitas hangat ini.

Berawal dari Persekutuan Doa, Berkembang jadi Keluarga

Kisah KKIB tidak tercipta dalam semalam. Axel menceritakan bahwa jejak awal komunitas ini sudah membentang sejak tahun 2001. Kala itu, para Romo Karmel melihat adanya kebutuhan emosional dan spiritual yang kuat dari umat Katolik Indonesia di Beijing untuk beribadah menggunakan bahasa ibu.

“Awalnya terbentuk Persekutuan Doa Katolik Beijing (PDKB) yang fokus pada kegiatan doa rutin dan Misa berbahasa Indonesia,” ujar Axel.

Seiring berjalannya waktu, kebutuhan para perantau ternyata berkembang. Mereka tidak hanya memerlukan ruang untuk berdoa, tetapi juga ruang untuk saling menopang dan merajut jejaring persaudaraan. Merespons dinamika tersebut, pada tahun 2015 PDKB resmi berganti nama menjadi Keluarga Katolik Indonesia Beijing (KKIB).

Kini, KKIB diisi oleh lanskap anggota yang cukup beragam. Meski didominasi oleh mahasiswa, kehadiran diaspora yang sudah lama menetap di Beijing memberi warna tersendiri. Hubungan antargenerasi dan lintas profesi ini justru menjadi fondasi utama yang mempererat ikatan kekeluargaan mereka.

Dari Gedung Gereja hingga Rumah Sendiri

Untuk kegiatan rutin seperti Persekutuan Doa atau Doa Rosario bersama, anggota KKIB biasanya berkumpul di aula gereja lokal selepas Misa. Namun, jika ada perayaan atau agenda besar yang melibatkan banyak massa, KBRI Beijing sering kali menjadi tuan rumah yang ramah bagi mereka.

Aktivitas KKIB pun terbilang hidup. Selain Misa bersama, mereka rutin menggelar tradisi Doa Rosario tiap minggu di bulan Mei dan Oktober, retret, rekoleksi, hingga ziarah rohani. Semua dirancang agar setiap anggota tetap memiliki pegangan iman dan tidak merasa sendirian di rantau.

“Hidup di perantauan itu punya tantangan sendiri, apalagi jauh dari keluarga dan lingkungan gereja yang biasa kita ikuti di Indonesia. KKIB ingin hadir menyediakan ruang itu—ruang untuk tetap terhubung dengan iman sekaligus merasa punya keluarga dan teman seperjalanan selama di Beijing,” ungkap Axel.

Jarak dan Toleransi Tanpa Sekat

Mengelola komunitas di kota seluas Beijing tentu bukan tanpa rintangan. Axel mengungkapkan bahwa tantangan terbesar yang dihadapi pengurus saat ini adalah faktor geografis.

Domisili anggota yang tersebar di berbagai sudut wilayah Beijing—di mana sebagian besar justru bermukim di kawasan pinggiran (suburb) sementara pusat kota hanya dihuni sebagian kecil—membuat koordinasi tatap muka menjadi perjuangan tersendiri.

Meski demikian, sekat jarak tidak membatasi semangat mereka untuk berjejaring. Sebagai salah satu organisasi masyarakat yang bernaung di bawah PERMIT Beijing (Perhimpunan Pelajar Indonesia di Tiongkok cabang Beijing), KKIB aktif menjalin hubungan harmonis dengan organisasi lain.

Salah satu potret indahnya toleransi ditunjukkan lewat aksi kolaborasi kemanusiaan. KKIB pernah bergandengan tangan dengan Organisasi Buddhist Mangala (OBM) Beijing untuk menggelar kegiatan donor darah bersama. Langkah ini membuktikan bahwa semangat kepedulian sosial melampaui sekat-sekat perbedaan iman.

Merawat Harapan di Masa Depan

Menutup perbincangan, Axel menyampaikan harapannya agar KKIB dapat terus konsisten menjadi wadah bertumbuh yang aman dan nyaman bagi diaspora Indonesia.

Ia berharap KKIB tidak hanya menjadi tempat berkumpul secara fisik, tetapi juga menjadi sarana untuk mempererat tali persaudaraan, saling menguatkan di kala rindu kampung halaman, dan tentu saja membawa setiap anggotanya semakin dekat dengan Tuhan.

Bagi para mahasiswa atau perantau Indonesia yang baru mendarat di Beijing, pintu KKIB selalu terbuka lebar—menyapa siapapun yang merindukan hangatnya suasana rumah di tengah dinginnya angin Beijing. (tya)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *