Oleh: M Hero Firmansyah
Komodifikasi Kesadaran di Meja Besi
Dua kalender hari pasca-keputusan garis demarkasi ketiga diambil, pintu sel isolasi Rian diinterupsi lebih awal dari jadwal reguler birokrasi lapas. Manusia yang melangkah masuk ke dalam perimeter penahanan bukan figur sipir blok dengan seragam dinasnya yang kaku, melainkan sesosok pria paruh baya dengan setelan jas potongan premium dan lilitan dasi sutra bernilai nominal tinggi. Usianya berkisar lima puluh lima tahun, dengan semburat rambut memutih di pelipis, dan kurva senyuman yang teramat terlatih—tipikal politisi senior yang telah menghabiskan puluhan tahun di dalam sirkuit kekuasaan atas.
“Mas Rian,” buka pria itu dengan vokalnya yang ramah, sembari mendudukkan bobot tubuhnya di atas kursi besi fasilitas kunjungan. “Saya Utama. Saya hadir di sini bertindak sebagai utusan khusus dari meja kerja pusat. Kita formulasikan pembicaraan ini secara tertutup, berdua saja.”
Rian tetap mempertahankan posisinya, duduk bersila di atas lantai beton yang dingin sembari menyunggingkan senyum tipis yang skeptis.
“Langsung potong ke bagian kalkulasi intinya, Pak Utama. Paket kompromi manis apa yang ingin kalian sodorkan ke sel saya kali ini?”
Pak Utama melepaskan tawa kecilnya yang renyah, sebuah gestur artifisial seolah-olah mereka sedang mengeksekusi obrolan santai di dalam ruang tunggu bandara premium.
“Rasiomu terbukti bekerja dengan sangat taktis, Mas Rian. Baiklah. Atas nama otoritas negara, kami melayangkan proposal kesepakatan damai (reconciliation package). Kau dibebaskan dari isolasi ini hari ini juga. Seluruh berkas tuntutan yuridismu akan dilikuidasi hingga bersih tanpa residu. Bahkan, kami telah menyiapkan satu slot posisi strategis sebagai ‘Konsultan Utama Pemikiran Pembangunan’ di bawah kementerian terkait. Paketnya lengkap: upah bulanan skala makro, unit kendaraan dinas, hingga rumah dinas di kawasan elit. Namun, variabel kompensasi materialnya tunggal…”
Ia menjeda kalimatnya, merapatkan posisi duduknya ke arah jeruji.
“…seluruh jaringan sirkulasi banjir kertas fotokopi buram di luar sana harus dihentikan total melalui instruksi taktismu. Kau hanya diwajibkan meluncurkan satu pernyataan resmi di hadapan kamera media: menyatakan secara valid bahwa ‘Traktat Madilog telah kehilangan relevansi ilmiahnya di era percepatan pembangunan modern ini’.”
Pak Utama menyodorkan sebuah map dokumen tebal bermotif kulit imitasi ke sela-sela jeruji besi. “Ini draf kontrak hukumnya. Fajar esok hari, rasiomu sudah bisa menikmati kenyamanan kasur pegas domestik, bukan lagi mendekam di atas lantai semen berlumut ini.”
Otopsi Racun Pemanis
Rian menarik map tebal tersebut, membalik lembar demi lembar klausul hukum di dalamnya dengan ritme yang teramat tenang. Detik berikutnya, sebaris suara tawa pelan mendadak lolos dari tenggorokannya—nada ketukan tawanya kian lama kian membesar, bergaung memantul di sudut-sudut sempit ruang isolasi lapas.
“Sebuah orkestrasi dramaturgi yang sangat jenaka, Pak Utama,” ujar Rian sembari menggelengkan kepalanya, mendorong kembali map dokumen tersebut melintasi lantai semen. “Paket kompromi manis ini sama sekali tidak dirancang untuk menyelamatkan raga saya. Ini adalah instrumen jebakan sosiologis untuk melikuidasi seluruh basis pergerakan di luar.”
Pak Utama menyipitkan kelopak matanya, mengunci pandangannya dalam parameter proteksi birokrasi. “Variabel apa yang membuat rasiomu mengambil konklusi demikian?”
“Jika kesadaran saya melunak dan menandatangani lembar kontrak ini,” sahut Rian, sepasang matanya menatap tajam lurus ke arah sang utusan. “Maka dalam kurun waktu dua puluh empat jam, seluruh ribuan lembar kertas fotokopi buram yang tersebar di tembok-tembok mushola dan barak buruh akan kehilangan energi materialnya secara instan. Massa cair di kerak bawah akan meluncurkan konklusi yang teramat menyedihkan: ‘Saksikan sendiri, bahkan Rian yang rasionya paling radikal menantang sistem, pada akhirnya takluk dan menukar isi kepalanya dengan komoditas jabatan serta fasilitas mobil dinas.’ Doktrin Logika Mistika modern akan merayakan kemenangan telaknya malam itu. Mereka akan mempabrikasi takhayul baru bahwa seluruh perlawanan kelas adalah kesia-siaan, karena setiap manusia pada akhirnya hanya berburu kenyamanan privat. Saya menyatakan menolak paket ini secara mutlak.”
Kurva senyuman Pak Utama tidak serta-merta tanggal dari wajahnya. Ia justru memperlebar senyum dinginnya, seolah-olah penolakan Rian telah selesai dihitung di dalam diktat simulasi taktis mereka.
“Kau sangat yakin dengan konsistensi rasiomu, Mas Rian?” desis Pak Utama, nadanya kini bergeser menjadi sedingin es birokrasi. “Jika lembar penolakan ini yang kau jatuhkan, fajar esok hari mesin propaganda humas pusat akan merilis dokumen sekunder ke ruang publik: mengumumkan secara valid bahwa kau adalah anak hasil hubungan gelap dari garis darah Jenderal Suryo, dan ibumu adalah mantan simpatisan pergerakan kiri terlarang. Kami memiliki kapasitas untuk melumat habis reputasi sosial keluargamu hingga ke titik nol. Lebih jauh, seluruh gerakan spora kertas fotokopi di luar sana akan kami kunci secara hukum sebagai ‘aktivitas diseminasi ideologi terlarang subversif’. Barisan massa yang ketakutan akan menarik mundur dukungan mereka.”
Rian berdiri tegak di balik jeruji, menolak untuk menunjukkan sisa-sisa getaran psikologis.
“Eksekusi seluruh rencana propaganda kalian, Pak. Semakin masif aparatus kekuasaan meluncurkan represi dan tekanan karakter, semakin eksponensial massa biasa di bawah akan bertanya-tanya: variabel kebenaran apa yang tersimpan di dalam lembaran kertas fotokopi buram itu hingga membuat struktur negara didera ketakutan seakut ini?”
Pupuk Terbaik untuk Spora Pikiran
Malam merayap. Di dinding beton yang lembap, siluet Tan Malaka muncul kembali, bertepuk tangan kecil dengan senyum jenaka.
“Determinasi nalar yang indah, Rian!” puji Tan Malaka. “Mayoritas subjek sejarah bertekuk lutut di fase ini karena perut lapar atau takut runtuhnya nama baik keluarga. Tapi kau memahami Dialektika.”
Rian bersandar pada dinding dingin. “Apakah menolak kebebasan ini kebodohan, Bang? Mengingat itu bisa memberi proteksi ekonomi bagi Ibu.”
Tan Malaka menggeleng tajam. “Itu skema penjinakan klasik. Penguasa tidak ingin pemikir mati di sel sebagai martir; mereka ingin kau hidup sebagai ‘mantan revolusioner’ yang diberi makan oleh sistem. Status itu jauh lebih busuk daripada jeruji penjara, karena massa akan melihatmu dan berkata: ujung dari perjuangan adalah daftar gaji kementerian.”
Figur transparan itu melangkah mendekat. “Tapi karena rasiomu menolak, fajar esok mereka akan didera kepanikan. Dan dalam Materialisme Historis, kepanikan penguasa adalah pupuk terbaik bagi revolusi pikiran.”
Tan Malaka melarut ke dalam dinding, menyisakan pesan terakhir:
“Pasang barikade mental menyambut fajar. Otoritas akan memainkan taktik kotor di ruang publik. Tapi pertahankan tesis ini: semakin pekat lumpur hitam yang mereka semprotkan, semakin benderang kebenaran yang kau dekap di sel ini.”
Rian membuka matanya, menembus jeruji besi. Di kejauhan, sirene kapal tangki di dermaga Selatan membelah malam, menolak menyadari bahwa penolakan dari sel beton ini telah menjadi zat asam yang mengorosi fondasi kekuasaan mereka.
(Bersambung)
Catatan Redaksi / Disclaimer:Seluruh rangkaian narasi dalam serial “Madilog: Petualangan Pikiran yang Belum Selesai” ini merupakan karya fiksi spekulatif yang diinspirasikan dari traktat filsafat ekonomi-politik dalam buku MADILOG karya Tan Malaka.
Garis alur, karakterisasi tokoh (termasuk visualisasi tokoh sejarah), dinamika institusi, waktu, serta koordinat peristiwa yang digambarkan dalam teks ini sepenuhnya adalah rekaan kreatif penulis untuk kolom Literasi Anomali. Jika terdapat kesamaan nama tokoh, tempat kejadian, maupun konformitas situasi linier dengan realitas aktual dalam industri tambang nikel atau kebijakan birokrasi, hal tersebut merupakan kebetulan matematis dan tidak merepresentasikan kebijakan resmi dari institusi mana pun.



