GET CORNER Nusa Tenggara Barat

Hilirisasi Aren: Menguji Marjin Manis Air Nira Premium di Lombok

LOMBOK BARAT — Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mulai membidik hilirisasi komoditas perkebunan tradisional untuk mendongkrak pendapatan domestik bruto di sektor riil. Gubernur NTB, Lalu Muhammad Iqbal, mendorong para perajin di Desa Mekarsari, Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat, untuk merevolusi pemanfaatan air nira (juice pohon aren) dari komoditas primer berdaya jual rendah menjadi produk minuman siap saji (ready-to-drink) kelas premium.

​Langkah ini diambil menyusul melimpahnya pasokan air nira di kawasan tersebut, yang selama ini hanya terserap oleh pasar tradisional dalam bentuk gula aren mentah atau produk fermentasi berkadar alkohol rendah (tuak). Secara ekonomi, pola produksi konvensional ini dinilai tidak lagi efisien dan terjebak dalam rantai nilai yang stagnan.

​“Selama ini, untuk menghasilkan satu kilogram gula merah, peternak nira membutuhkan sekitar 10 liter bahan baku dengan proses perebusan hingga delapan jam. Ini pemborosan waktu dan energi yang luar biasa,” ujar Iqbal saat melakukan kunjungan kerja ke Desa Mekarsari.

​Dari kacamata ekonomi makro, kalkulasi bisnis konvensional para perajin nira memang menunjukkan marjin yang sangat tipis. Nilai tambah (value-added) yang dihasilkan dari proses tradisional selama delapan jam hanya berkisar Rp40.000 per kilogram gula merah.

Audit Strategis GetNews: Diversifikasi Nilai Tambah Air Nira

Metrik Analisis Skema Komoditas Lama Proyeksi Industrialisasi Baru
Output Produk Gula Aren / Gula Merah Batangan Minuman Premium (Welcome Drink Hotel)
Kebutuhan Baku 10 Liter Air Nira per 1 Kilogram 10 Liter Air Nira per 40 Botol (250 ml)
Alokasi Waktu 8 Jam Proses Perebusan Proses Sterilisasi UV Singkat
Nilai Ekonomi Rp40.000 Rp400.000 (Peningkatan 1.000%)

Inovasi Taktis Menembus Pasar Korporasi

​Iqbal menawarkan cetak biru baru: industrialisasi skala rumahan dengan menyulap 10 liter air nira menjadi 40 botol minuman premium berukuran ritel. Dengan asumsi harga jual Rp10.000 per botol, omzet para perajin berpotensi melonjak hingga Rp400.000 dari volume bahan baku yang sama—sebuah lompatan pendapatan hingga sepuluh kali lipat.

​Secara teknis, tantangan terbesar dari air nira segar adalah kecepatan proses fermentasi alaminya. Untuk mengatasinya, pemerintah mendorong penerapan teknologi rantai pasok modern yang sederhana namun efektif, yakni sterilisasi menggunakan sinar ultraviolet (UV). Teknologi ini berfungsi menghentikan aktivitas ragi tanpa merusak cita rasa asli nira, sebelum cairan dikemas dalam botol eksklusif.

​Produk akhir ini nantinya tidak diarahkan ke pasar eceran tradisional, melainkan difokuskan untuk menyuplai sektor pariwisata Lombok yang tengah bergeliat, khususnya sebagai welcome drink di hotel-hotel berbintang dan restoran premium. Langkah ini sekaligus mengintegrasikan sektor pertanian lokal dengan industri hospitality.

​Dinas Perdagangan Provinsi NTB kini ditunjuk untuk menindaklanjuti program hilirisasi ini, termasuk melakukan uji laboratorium terkait masa kedaluwarsa produk pasca-sterilisasi. “Kami akan mengkaji daya tahannya. Jika proses sterilisasi UV berjalan sempurna dan produk disimpan dalam intervensi suhu rendah (pendingin), umur simpan komoditas ini dipastikan akan jauh lebih panjang,” kata Iqbal menutupi arahannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *